Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
20. Reuni


__ADS_3

AMI sudah tampil cantik dan anggun untuk prosesi wisudanya. Dia didandani oleh Febi, sepupunya. Dengan kebaya khas betawi dan sentuhan aksen modern di beberapa bagian serta kain sinjang membuatnya tampak elegan.


"Ya Allaah, anak Emak cakep bener kaya Dian Sastro!" Puji Emak berlebihan.


"Ah Emak, bikin aye ge'er aja." Ucap Ami tersipu.


"Anak Babeh emang paling cakep dah kagak ada lawan!" Babeh ikut memuji.


Ami memang cantik sejak lahir, hanya saja dulu kecantikannya sedikit samar karena sifatnya yang barbar. Tapi Ami yang sekarang sudah berbeda dengan Ami 4 tahun lalu.


Ami yang sudah berusia 22 tahun sudah mampu mengendalikan sifat barbarnya. Ami juga sudah pandai merias diri dan berperilaku lebih beretika layaknya wanita dewasa. Meski kadang sifat barbar dan labilnya masih suka keluar, setidaknya dua hal itu sudah bisa diminimalisir.


Prosesi wisuda berjalan lancar. Trio Kiyut berpelukan seperti teletabis dan saling mengucapkan selamat. Mereka juga tidak lupa untuk berpoto bersama dengan pose-pose yang manis hingga narsis.


"HOREEE!! KITA SARJANA!!" Seru mereka bertiga setelah berpelukan.


Emak dan Babeh sangat bahagia dan bangga pada anak gadisnya itu. Mereka tidak menyangka anak mereka bisa lulus sarjana meski pun tidak menjadi tukang insinyur.


***


SETELAH mendapatkan ijazah sarjananya, kini Ami menjadi karyawan tetap di kantor tempatnya magang dulu. Ami merasa bersyukur tidak perlu repot-repot melamar kerja ke sana ke sini seperti yang dilakukan orang lain. Dia juga kini sudah lancar menggunakan sepatu hak tinggi untuk berjalan, tapi jika untuk lari, dia memilih menenteng sepatu itu dari pada memakainya. Dia tidak ingin menjadi artis untuk yang kedua kali gara-gara sepatu hak tingginya.


Trio Kiyut janjian bertemu di sebuah kafe sepulang bekerja. Karena mereka bertiga sudah bekerja, tempat nongkrong mereka pun kini berbeda. Jika dulu makan bareng di kedai bakso sudah cukup menyenangkan bagi mereka, kini mereka beberapa kali nongkrong sambil makan di kafe. Tapi tetap, bakso dan mi ayam menjadi makanan paling menggoda selera mereka.


"Eh, kalian akan datang diacara reuni nanti?" Tanya Cici seraya mengunyah Spaghetti. Keren bukan sekarang santapan Cici?


"Gue mau! Kangen sama masa putih abu-abu." Jawab Leni.


"Gue juga." Cici menyahut. "Lo gimana, Mi?"


"Gue juga mau." Jawab Ami setelah menyeruput milkshake-nya. "Tapi gue bingung.."


"Kenapa bingung?" Tanya Cici.


"Gue bingung kalo ketemu Randu gue mesti ngapain ya?" Tanya Ami galau.

__ADS_1


"Kalo lo masih pengen barbar, langsung lo ***** aja dia." Saran Cici yang gila.


"Bener! Ga apa-apa lo nyosor duluan. Kan lo bilang memanfaatkan perjuangan Kartini, jadi ga harus cowok duluan yang nyosor." Leni malah menambah pusing Ami.


"Saran lo berdua ga elegan banget! Katanya gue mesti jadi cewek elegan." Protes Ami.


"Dari pada si kuda item pergi lagi, mending lo sosor sekalian." Dalih Cici yang mendapat anggukan Leni.


"Kalo dia tambah kabur dari gue, gimana?"


"Ya lo peluk dia yang kenceng jangan ampe lepas!"Jawab Cici.


"Au ah! Jawaban kalian bikin gue tambah pusing!"


***


HARI yang ditentukan sebagai hari temu kangen teman-teman seperjuangan saat masih putih abu-abu telah tiba. Di lampiran undangan virtual ditentukan jika alumnus diharap sudah tiba di wisma tempat acara sebelum jam 10 pagi.


Trio Kiyut berangkat dari rumah menggunakan mobil travel yang akan mengantar mereka tepat di depan wisma yang sudah disewa oleh panitia. Mobil yang mereka tumpangi hampir sampai dan Ami mulai grogi berasa panas dingin. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain.


Leni mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Ami. "Segitu groginya lo mau ketemu pangeran kuda item lo. Lo masih suka ya sama dia?"


"Kalian bisa diem ga! Gue ga karan karuan rasa ini ampe mau pingsan." Seru Ami dengan suara bergetar.


Leni dan Cici langsung memegang beberapa bagian tubuh Ami.


"Eh, lo beneran Mi panas dingin. Lo mau pingsan,Mi?" Tanya Cici seraya tangannya berpindah ke sana kemari di tubuh Ami.


"Omegat... Segitu ngefeknya si kuda item buat lo, Mi." Seru Leni.


"Kan dia cinta pertama Ami, Len." Ucap Cici.


"Iya juga sih."


Mobil yang ditumpangi Trio Kiyut sudah sampai di depan wisma. Ami gugup sendiri saat memasuki wisma. Sudah banyak yang datang dan jam masih menunjukkan jam 9 pagi. Wisma itu terdiri dari 20 kamar dan sudah dibooking semua. Mereka menyewa 2 wisma yang letaknya berdekatan, satu kamar diisi oleh 3 orang.

__ADS_1


Setiap yang datang harus mengisi daftar hadir lebih dulu pada salah satu teman mereka yang menjadi panitia acara. Setelah mengisi daftar hadir, mereka akan mendapatkan kamar yang akan mereka tempati. Trio Kiyut memilih tidur dalam satu kamar.


"Trio barbar udah datang rupanya." Sambut seorang gadis sambil tepuk tangan.


Trio Kiyut menoleh ke asal suara dan mendesah bersama saat mengetahui siapa yang barusan bicara.


"Oh, lo udah dateng. Gimana rasanya barang bekas?" Tanya Ami menyindir.


"Heh! Gue ga sudi ya make bekasan lo! Langsung gue buang karena mau muntah!" Balas Sesil ketus.


"Tapi kan udah pernah make selama sebulan." Ucap Ami.


"Gue ga nyangka, Mi. Si kuntilanak doyan juga ama bekasan lo." Cici menambahkan.


"Kalian dari dulu sampe sekarang selalu bikin kesel gue!" Sesil pergi dengan menghentakkan kakinya.


"Yeee kabur. Kebiasaan!" Seru Ami agar Sesil mendengarnya.


"Yuk ah, cabut. Kita simpan dulu barang bawaan kita di kamar. Berat tau!" Ajak Cici.


"Lo kebanyakan bawa barang, Ci. Tar yang ada kamar kita penuh sama barang-barang milik lo." Omel Leni.


"Tau nih, cuma dua hari aja barangnya kek mo pindahan. Untung lemarinya ga dibawa aja." Ami ikut ngomel-ngomel.


"Lo berdua mo bilang apa, gue bodo amat!" Cici melenggang dengan membawa barang-barangnya yang seabreg itu ke kamar.


Jam 10 pagi


SEMUA yang mengikuti acara reuni berkumpul di pendopo penghubung antara dua wisma yang mereka sewa. Pendopo ini cukup luas untik menampung semua yang ikut reuni. Semua saling sapa melepas rindu yang menumpuk selama 5 tahun.


Tatapan Ami terfokus pada sosok yang berdiri di sudut pendopo. Mata mereka bertemu tapi hanya diam membisu. Tatapan mata mereka menyiratkan segala rasa yang ada di hati masing-masing, rasa rindu yang semakin menggebu setelah dipendam hingga menahun.


Ami merasakan getaran itu. Ya, getaran itu masih sama. Getaran yang dia rasakan 8 tahun lalu saat matanya menangkap sosok yang kini berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Ami mengenali getaran itu. Apa perasaan gue ke dia belum ilang ya? Apa gue masih berharap dia mau nerima gue?


**Alhamdulillaah done sebelum close 😍😍

__ADS_1


Cirebon, 21 Februari 2022**


__ADS_2