Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
45. Kuntilanak Dan Sundelbolong


__ADS_3

"Iya makhluk langka yang harusnya dipajang di museum, bukan berkeliaran!" sela Sesil.


"Bagaimana keadaannya?" tiba-tiba sebuah suara menyela pembicaraan mereka.


Seorang pemuda masuk dan langsung memeluk Ami erat. Dia memutar-mutar tubuh Ami untuk memastikan bahwa Ami baik-baik saja, tidak ada luka yang serius. "Syukurlah lo ga kenapa-napa," ucapnya lega penuh syukur.


"Apa'an sih, Bang? Gue pusing tau lo puter-puter gini," sungut Ami.


"Gue khawatir sama lo, makanya pas Leni telepon gue langsung ke sini." Arman memeluk Ami dengan sayang.


Arman langsung melajukan motornya menuju rumah sakit di mana Ami berada. Dia sangat mengkhawatirkan adik satu-satunya itu. Dia juga tidak memberi tahu emak dan babeh karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dan tidak bisa istirahat.


"Lo ga apa-apa?" tanya Arman pada Toto.


"Enggak, Bang. Cuma di kening aja dikit, kaya Ami," jawab Toto.


"Kayanya lo paling parah ya dari mereka berdua. Tapi sekarang udah baik-baik aja 'kan?" kali ini Arman bertanya pada Sesil.


Sesil yang sedari Arman datang menatap tak berkedip pun masih diam. Masih menikmati keterpesonaannya pada Arman. Dia sampai tidak sadar jika mulutnya terbuka menatap kakak Ami itu.


"Eces dikondisikan ya, jangan sampe selimut rumah sakit jadi basah," celetuk Ami.


Sesil yang baru sadar langsung gelagapan dan memegangi mulut serta dagunya. "Apa'an sih lo?" tanyanya dengan wajah merona.


"Lo terpesona 'kan sama Abang gue? Lo baru tau 'kan kalau Abang gue cakep? Ngaku lo?" tuding Ami pada Sesil.


Sial! Kenapa gue ga bisa kontrol kekaguman gue sih pada abangnya si barbar? Tapi apa iya, dia abangnya si barbar? Kenapa cakep banget ya? Sesil memgacak rambutnya untuk membuyarkan bayangan Arman yang menari di pikirannya.


"Gue ga sudi punya ipar lo. Lagian Abang gue udah punya cewek, jadi buang angan-angan lo ke laut hitam," tukas Ami.


"Gue juga ga sudi punya ipar lo!" Tapi gue terpesona sama abang lo.


"Sesil! Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang?"


Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu dan langsung memeluk Sesil. Dia meneliti setiap lekuk tubuh Sesil. Dia lalu meraba pelan wajah Sesil.


"Mami ...." rengek Sesil manja.


"Aduh, ini pasti sakit ya, Sayang? Kenapa lukanya di muka sih? Kenapa ga di bagian tubuh yang lain?" tanya Mami Sesil.


"Ih, Mami! Mau ya liat Sesil luka? Mendingan ga ada lukanya dong, Mi!" protes Sesil.


"Ya iya dong, Sayang. Kulit kamu 'kan putih, mulus, cantik. Kenapa lukanya di muka? Kalau di bagian tubuh lain 'kan bisa ditutupi," ucap Mami Sesil dengan gaya centil.


Anak dan Emak sama aja! Sama-sama centil dan genit! Ami mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Mami, pokoknya Sesil ga mau punya luka. Sesil mau cantik lagi, Sesil mau mulus lagi." Kembali Sesil merengek pada maminya.


"Pasti dong, Sayang. Anak Mami 'kan paling cantik. Mami dan Papi akan mencari dokter kulit terbaik untuk mengembalikan wajah cantik putri Mami. Bila perlu kita ke luar negeri berobatnya, oke?" hibur mami Sesil.


Ami yang berada di belakang mami Sesil, sedari tadi memonyong-monyongkan bibirnya mengikuti ucapan mami Sesil tanpa suara. Dia merasa jengah dengan pasangan ibu dan anak itu yang menurutnya sangat centil. Pantes aja dia kaya kuntilanak, emaknya sundel bolong.


"Mi, liat tuh! Si barbar niru-niru Mami ngomong!" tunjuk Sesil pada Ami.


Mami langsung berbalik dan menatap tajam Ami. "Kenapa kamu menirukan omongan saya!" bentaknya pada Ami.


"Cuma pengen belajar, Tante. Orang kaya kalau ngomong kaya gimana sih?" Ternyata nyebelin banget! Tentu saja kalimat terakhir itu terhenti di tenggorokan Ami.


"Orang kaya kalau bicara ya anggun dan berwibawa," jawab mami Sesil dengan gaya genit dan angkuh.


Ami memutar bola matanya saat mami Sesil berbalik. Ternyata orang kaya itu bener-bener nyebelin! Ami menatap Toto memberi isyarat.


Toto mengerti dan langsung mendekati brankar di mana Sesil berbaring. "Ya udah, Sil. Udah ada Mami lo yang jagain, jadi gue dan Ami pulang ya," ucap Toto.


"Ya udah, pulang aja sana. Terutama Si barbar itu! Dia bikin gue tambah sakit!" ketus Sesil pada Ami.


"Sakit lo itu sakit ati, gara-gara ga dipilih sama pujaan hati," balas Ami.


"Ga usah kepedean lo!"


"Mi, ayo cepet pulang! Jangan bikin ribut di sini! Ini rumah sakit, tengah malam lagi," tegas Arman. "Permisi, Tante. Kita pulang duluan," pamit Arman pada mami Sesil. Begitu juga Toto.


***


"Ya Allaah, kenapa muka anak Emak jadi benjol begini? Gimana ceritanya, Mi?" sambut emak yang terbangun saat mendengar suara motor Arman.


Wanita yang sudah melahirkan Ami itu langsung menuju pintu depan untuk menyambut anak laki-lakinya. Dia sangat terkejut saat Ami ikut pulang dengan luka di kening. Dia sempat heboh sendiri melihat anak gadisnya terluka.


"Emak, udah deh ga usah lebay. Biasa aja, ini luka biasa kok. Cuma kejedot dasbor aja," omel Ami.


"Suruh duduk dulu, ambilin aer minum dulu, biar Si Ami tenang," ucap babeh bijak.


Emak menuruti perintah babeh. Dia mengambil air minum dan memberikannya pada Ami. Mereka sekeluarga duduk di kursi makan yang ada di depan televisi.


"Sekarang, lu cerita ke Babeh sama Emak. Gimana lu bisa benjol kaya gini?" tanya babeh pelan.


Ami pun menceritakan kejadian yang menimpanya dan dua temannya saat pulang dari Bandung. Dia juga mengatakan kenapa Toto sampai banting setir. Emak, babeh dan Arman mendengarkan dengan seksama.


"Terus, ade apa kagak bapak-bapak yang tadi lewat?" tanya emak.


"Enggak ada, Mak," jawab Ami dengan raut bingung atau, ketakutan?

__ADS_1


"Jangan-jangan itu makhluk halus, Mi," tebak emak.


"Kayanya iya, Mak. Soalnya aye tengok sama Toto ga ada bapak-bapak itu," balas Ami.


"Udah malam, tidur aja. Besok baru cerita lagi," ucap Babeh.


***


"Gimana ceritanya jidat lo jadi mancung gitu, Mi?" tanya Cici.


Trio Kiyut sedang berkumpul di salah satu kafe saat jam makan siang. Ami memaksa berangkat kerja meski emak sudah melarang. Mereka sedang asik makan plus wawancara Ami ditambah sedikit ghibah.


"Bukannya idung dimancungin, lo malah jidat," celetuk Cici.


"Ini musibah!" protes Ami.


"Si kuntilanak gimana kabarnya?" tanya Leni.


"Gue ga tau. Setelah nyokapnya datang, gur sama Toto langsung pulang," jawab Ami. "Ternyata, genit dan centilnya Si kuntilanak itu nurun dari Emaknya yang kaya sundel bolong."


"Seriusan lo, Mi. Nyokapnya Si kuntilanak kaya sundel bolong?" tanya Cici.


"Seirus!" Ami pun menirukan cara bicara mami Sesil semalam.


"Hai, boleh gabung ga? Dari tadi aku cari kamu loh,"


**Cirebon, 2 April 2022


Ami balik lagi. Maaf kemaren ga bisa up lagi karena ponsel eror. Jangan lupa like dan komennya yaaa 😘😘😘


Sambil nunggu Ami up lagi, yuk baca karya teman Emak yang pasti seru donk ceritanya. Karya kak Siska Nasty. Udah tau dong sama author satu ini**.



"**Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target dihadapanmu!"


~Lara Alessandra


Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.


Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.


Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex**?

__ADS_1


__ADS_2