Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
51. Calon Manten


__ADS_3

"Tapi sah 'kan lamarannya?" tanya Cici.


"Lamaran? Siapa yang dilamar?"


Trio Kiyut menoleh ke arah pintu. Seorang pemuda yang berpakaian lumayan keren berdiri di sana. Mereka memutar bola matanya saat mengenali siapa pemuda itu. Ami mendengus sebal.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Ami dingin.


"Aku mau kita balikan, Mi," jawab pemuda itu.


Ami mencebikkan bibirnya. "Siapa juga yang mau balikan sama lo. Dari dulu juga gue ogah balikan sama lo. Apalagi sekarang, gue udah punya calon laki yang lebih baik dari lo."


"Maksud kamu apa, Mi? Kamu sudah punya calon suami?" tanya pemuda itu.


Ami berdiri lalu berdiri di samping Randu. "Iya, ini calon laki gue. Dia temen SMA gue dulu dan dia cinta pertama gue. Dia pangeran kuda hitam impian gue." Ami merangkul lengan Randu.


"Lagian ngapain sih lo ke sini lagi? Lo tuh emang cocok sama si kuntilanak," ucap Cici sinis.


"Mi, plis Mi. Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku ga akan lakuin kesalahan yang sama. Aku janji," mohon pemuda itu, Ardi.


"Gue ga bisa. Gue mau nikah sama Randu."


"Kamu sama dia karena marah sama aku 'kan, Mi?" tanya Ardi.


"Dih! Pede gila! Gue sama dia ya karena gue cinta sama dia. Lo? Terserah lo mau sama siapa," ucap Ami tak peduli.


"Tapi kamu masih muda buat nikah, Mi." Ardi masih berusaha mendapatkan Ami.


"Kalau nikahnya sama Randu ga apa-apa, gue mau."


"Tapi, Mi ...."


"Ga usah merengek terus. Lo udah ditolak, jadi mending lo pergi dari sini," ucap Randu memotong ucapan Ardi.


"Tau nih, kaya bocah aja!" hardik Cici.


"Aku ga akan biarin kamu nikah sama dia, Mi. Aku akan batalin pernikahan kamu sama dia," ancam Ardi lalu pergi.


"Dih! Ngancem. Bodo amat! Biar pun lo gonggong gue tetep bakal kawin sama pangeran kuda item gue!" seru Ami.


Ardi membanting pintu mobilnya lalu pergi. Trio Kiyut menghembuskan napas lega. Mereka lalu duduk kembali.


"Hufhh ... ngapain si genderuwo itu ke sini?" tanya Cici.


"Mana gue tau," jawab Ami santai seraya mengendikkan bahunya.


"Dia yang mantan lo itu?" tanya Randu.


"Iya. Tapi waktu liat dia selingkuh sama si kuntilanak, gue ga rasain sakit seperti saat lo pulang gitu aja dari tempat reuni," aku Ami.


"Lo mewek waktu itu," ucap Randu.


"Kok lo tau?"


"Tau lah. Gue kan liat."

__ADS_1


"Kalau liat kenapa ga berenti?" tanya Ami kesal.


"Waktu itu gue buru-buru, warung gue kemalingan. Ibu sama adek gue panik, jadi gue ga bisa tunda kepulangan gue," cerita Randu.


"Kok lo baru bilang sekarang?" tanya Ami lagi.


"Lo ga nanya."


"Kalau lagi datar kek gini pengen gue masukin kardus deh!" geram Ami yang hanya ditanggapi senyuman tipis oleh Randu.


"Terus, kalian mau cepet-cepet nikah nih?" tanya Cici.


"Jangan dong, Mi," ucap Leni memelas.


"Orang bestie dapet jodoh kok lo larang buat nikah sih!" protes Ami.


"Kalau lo udah nikah, kita berdua ga enak kalau mau bajak lo," jujur Cici tanpa pedulikan Randu.


"Kalau kalian mau main ya main aja, asal jangan malam mainnya. Kalau malam biar gue aja yang main," ucap Randu datar yang membuat Trio Kiyut menganga.


"Ish! Sejak kapan lo mesum?" tanya Ami.


"Jangan-jangan dia mesum gegara ketularan lo, Mi," tuding Cici.


"Iya betul. Dia udah terkontaminasi sama pikiran lo yang suka ngeres," tambah Leni.


"Lo berdua kenapa nyalahin gue sih?" tanya Ami kesal.


"Biasanya kan pikiran lo suka ngeres," jawab Leni.


"Gue pulang ya," sela Randu diantara perdebatan Trio Kiyut yang saling tuding.


"Kok pulang?" tanya ketiga gadis itu kompak.


"Udah malam. Lagian kuping gue budek denger perdebatan kalian." Randu berdiri. Dia berpamitan lebih dulu pada Emak dan Babeh sebelum pulang.


Ami mengantar Randu sampai depan rumah. "Hati-hati di jalan," pesan Ami. Randu tersenyum sebelum melajukan motornya.


Ami masuk kembali ke rumah. "Gara-gara lo berdua, dia jadinya pulang," gerutu Ami.


"Udah malam kali, jadi dia pulang. Kenapa jadi kita yang disalahin?" protes Cici.


"Dia cowok baik-baik, jadi tau diri kalau udah jam segini pasri pulang. Jangan lo ajarin mblangsak, Mi." Leni membela diri.


***


Hari pernikahan sudah ditentukan dan akan diadakan dua bulan lagi. Ami masih menjalani aktifitasnya sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan. Dia sudah mengajukan resign pada perusahaan karena setelah menikah nanti, dia akan tinggal di Bandung bersama Randu dan keluarganya.


Randu menjadi sering bolak-balik Bandung-Jakarta demi kelancaran acara pernikahannya dengan Ami. Seperti saat ini, dia dan Ami sedang berada di sebuah butik untuk memesan kebaya pengantin yang akan dikenakan Ami saat akad nikah nanti. Begitu pun Randu yang memesan setelan jas lengkap.


Melihat Ami yang begitu sibuk memilih model kebaya dan bahan yang akan digunakan, Randu tersenyum manis. Dia tidak pernah menyangka jika dia akan jatuh cinta pada gadis barbar seperti Ami. Tetapi dia juga tidak bisa memungkiri perasaannya pada gadis itu sejak masih berseragam putih abu-abu.


"Cocok ga?" tanya Ami saat keluar dari ruang ganti.


"Cantik," jawab Randu.

__ADS_1


"Gue tau, gue emang cantik dari janin. Gue tanyanya cocok ga?"


Randu mendekat, dia membingkai wajah Ami dengan kedua tangannya. "Lo cocok pamai pakaian apa pun, tetap cantik. Apalagi kalau ga pakai apa-apa, lebih cantik lagi. Sshhh ...." Randu meringis karena Ami mencubit pinggangnya.


"Lo kerasukan setan mesum di mana sih?" kesal Ami.


"Kayanya setan mesum di rumah lo deh," sahut Randu asal.


"Enak aja. Di rumah gue ga ada setan mesum!"


"Tapi gue jadi gini setelah ngelamar lo."


"Modus!"


Ami dan Randu sudah memilih bahan dan model pakaian yang akan dikenakan pada prosesi akad nikah mereka. Mereka kemudian keluar dari butik itu dan melanjutkan dengan membeli barang-barang yang akan dijadikan sebagai hantaran Randu untuk Ami.


***


Acara lamaran pun tiba karena hari pernikahan tinggal dua hari lagi. Ami berdandan dibantu oleh sepupunya, Febi. Dia terlihat sangat cantik meski riasannya minimalis.


"Gue ga nyangka lo bakal nikah lebih dulu, Mi," ucap Febi.


"Gue juga ga nyangka Randu bakal ngelamar gue secepat ini. Moga lo juga cepet dapat jodoh ya, Mba," balas Ami dan diaminkan oleh sepupunya itu.


"Wah, cakep bener anak Emak. Kalau kaya gini tampilannya, lu kagak keliatan somplaknya, Mi," puji Emak tapi kemudian menjatuhkan Ami di lantai tak kasat mata.


"Tuh! Emak lo aja bilang lo somplak, apalagi kita," cibir Cici.


"Ish, Emak jatuhin pasaran aye," keluh Ami.


"Mau ada acara apa ini?" tanya seseorang.


"Lamaran Ami, nikahnya lusa," jawab saudara Ami yang ada di teras.


"Si Ami mau nikah? Sama siapa?" tanya seseorang itu lagi.


"Randu."


"What? Ga bisa dibiarin ini," geram seseorang itu.


**Cirebon, 10 April 2022


Maaf kalau ada typo, bmga sempat cek dan edit. Emak rekomendasikan karya teman Emak lagi yaaa. Kali ini dari kak AVEIII yang berjudul CEO DINGIN KAU MILIKKU.


Yuk langsung baca ceritanya. Seru looohhh


“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.


“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”


“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.


Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya**.


__ADS_1


__ADS_2