
"GA nyaman juga ya?" Tanya Ami lagi saat Randu hanya diam membisu seraya menatapnya.
Ami tersenyum kecut, merasa seperti sedang mengemis cinta pada Randu. Tapi itu memang benar bukan? Ami tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pangeran kuda hitamnya, dia berusaha tegar dan kuat. Ami memandang ke depam, di mana kini Toto sedang bernyanyi sambil memetik gitar.
Ada beberapa yang berdansa di depan panggung, ada yang hanya menggerak-gerakkan badannya saja atau menghentakkan kakinya saja di tempat masing-masing. Ada yang naik ke panggung hanya untuk memberikan tebak-tebakan atau stand up comedy.
"Mau ga dansa sama gue?" Tanya Ami pada cowok di sampingnya. "Hanya tinggal malam ini kita bersama, kan? Gue ingin merasakan sekali aja berada lebih deket dengan lo. Gue... Gue..."
Ami belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika dengan tiba-tiba Randu menariknya ke depan panggung dan memegang pinggangnya untuk berdansa bersama teman-teman mereka yang sudah lebih dulu berdansa.
Ami linglung, dia terkejut dengan aksi tak terduga Randu hingga dia hampir terjatuh jika saja tidak langsung berpegangan pada lengan Randu yang cukup kekar.
Ami menatap mata Randu yang tajam yang sedang menatapnya. Mereka berdua hanya saling tatap tanpa mengeluarkan sepatah kata seolah segala yang mereka rasakan akan terungkap hanya dengan tatapan.
Lama bertatapan dengan Randu membuat pandangan Ami mengabur karena cairan bening yang menggenang di netra indahnya. Sebelum cairan bening itu membasahi pipinya, tangan Randu mengarahkan kepala Ami agar bersandar di dadanya yang bidang. Ami mencengkeram bahu lebar Randu saat wajahnya dia tenggelamkan ke dada pangeran kuda hitamnya itu.
Randu merasa ada cairan hangat yang membasahi dadanya, dia hanya membelai pelan punggung gadis yang ada dipelukannya. Maaf...
Acara berakhir jam 1 dini hari. Mereka terlihat puas saat kembali ke kamar masing-masing. Ami dan Randu kembali saling tatap sebelum masuk ke wisma. Sejak saat berdansa, tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Ami merasa menjadi orang bodoh karena baru kali ini dia diam membisu, tidak seperti biasanya yang selalu berisik.
Sesil menatap tajam Ami saat Ami memasuki wisma. Dia tidak lagi berani mendekati Randu setelah Randu mengetahui modusnya mendekati cowok itu. Ami tahu jika dirinya ditatap dengan sorot kebencian oleh Sesil, tapi dia tidak menghiraukannya.
Ami fokus pada hatinya yang entah merasakan apa. Senang? Bahagia? Kecewa? Sedih? Entahlah.
Apa dia harus senang saat Randu menerima tawarannya berdansa? Apa dia harus bahagia karena Randu membiarkannya bersandar di dada bidangnya? Apa dia harus kecewa karena cowok itu tak mengatakan apa pun sejak 2 jam lalu? Atau kah harus sedih karena besok mereka akan berpisah kembali dengan jarak yang membentang diantara mereka?
Ami masuk ke kamarnya dengan wajah sendu disambut oleh kedua sohibnya yang sudah lebih dulu masuk.
"Cie ciee... Yang abis dansa bareng pangeran kuda item.." Cici menyambut dengan godaannya.
"Tapi kenapa lo sedih, Mi? Harusnya lo seneng abis dansa sama Randu." Tanya Leni.
"Gue ga tau apa yang gue rasain.." Ucap Ami pelan dan linglung.
__ADS_1
"Maksud lo?" kembali Leni bertanya.
"Apa gue harus seneng abis dansa sama dia? Apa gue bahagia dipeluk dia?"
"Apa perasaan lo ke si item udah berubah, Mi?" Tanya Cici.
"Bukan gitu. Gue kecewa karena dia ga bilang kalo dia nerima gue. Dia juga ga bilang kalo dia suka gue. Dan gue sedih karena besok gue ga akan ketemu dia lagi."
"Kalo dari pengamatan gue sih, Mi. Randu tuh suka sama lo, tapi dia ga mau atau malu mengungkapkannya ke lo. Dia sering curi pandang lo, senyum sendiri saat liat lo, dan peduli sama lo. Itu bagi gue udah cukup bukti kalo sebenernya dia tuh suka sama lo." Leni menjabarkan.
"Masa sih?"
"Udah deh, dah hampir pagi besok lagi mikirnya. Bobo yuk..." Ucap Cici seraya menguap.
Mereka bertiga lalu berbaring, tapi Ami tak kunjung bisa memejamkan matanya. Ucapan Leni berputar-putar di kepalanya. Apa iya Randu menyukainya? Apa iya sebenarnya cintanya tak bertepuk sebelah tangan? Menjelang subuh Ami baru bisa tertidur.
***
JAM 7 pagi Ami baru bangun, ini jam bangun tersiang sepanjang sejarah kehidupan Ami. Ami langsung loncat dari tempat tidur begitu dia membuka mata dan hanya ada dirinya di kamar itu. Kemana perginya duo sohibnya? Senyenyak itukah dia sampai tidak mendengar ocehan kedua sohibnya, apalagi Cici yang biasanya super heboh tiap mau packing.
Ami hanya mencuci muka dan gosok gigi. Dia tidak mau ketinggalan sendirian di wisma, setidaknya dia bisa melihat Randu saat cowok itu akan pulang ke kota kelahirannya.
Ami berlari keluar dari kamarnya hingga ke lantai bawah dan terus menuju teras wisma. Dia menengok ke sana ke sini dengan napas memburu.
"Lo udah bangun, Mi? Sini sarapan dulu sebelum pulang." Sapa Leni saat melihat Ami baru memasuki pendopo.
"Napa lo ngos-ngosan gitu?" Tanya Cici.
Ami terus mengedarkan pandangannya mencari sosok yang semalam berdansa dengannya tanpa menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan dua sahabatnya. Hingga lelah matanya mencari, dia tidak mendapati sosok pangeran kuda hitamnya. Apa dia udah pulang?
"Mi, lo nyari siapa?" Tanya Cici yang ikut mengedarkan pandangannya ke arah yang dijelajahi Ami.
"Lo cari Randu?"
__ADS_1
Pertanyaan Leni mampu membuat Ami menoleh untuk menatap sahabatnya itu. "Lo liat dia?"
"Dia udah selesai sarapan dan kembali ke wisma. Kayanya mau langsung pulang." Beri tahu Toto yang menghampiri mereka.
"Seriusan lo!?"
"Iya. Ojek yang dia pesan untuk ke terminal juga udah dateng dari tadi." Jawab Toto.
Ami langsung berlari menuju wisma yang ditempati Randu. Wisma itu berjarak lebih kurang 20 meter dari wisma yang ditempatinya. Ami melihat Randu menaiki motor tukang ojek pesanannya dan motor itu langsung melaju saat dia masih berlari.
"Randu!!" Panggil Ami yang menghentikan larinya tepat di depan wisma yang ditempati Randu.
Dengan napas tersengal, Ami mencoba berlari kembali untuk mengejar motor yang dinaiki Randu. "Randu!!!" Panggilnya lebih keras.
Randu menoleh. Dia melihat Ami yang berlari mengejarnya lalu gadis itu berhenti di jalan menurun. Mata mereka beradu, cukup lama meski tanpa kata. Randu menelan ludahnya kasar tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis yang menatapnya dengan sendu. Laju sepeda motor membuat jarak pandangnya dan gadis itu semakin menghilang. Kini yang terlihat oleh pandangannya hanya siluet seorang gadis.
Cairan bening mengalir dari netra indah Ami tanpa bisa dicegah. Ami terisak melihat tikungan jalan yang memutus pandangannya pada pangeran kuda hitamnya.
Leni, Cici dan Toto menghampiri Ami yang hampir luruh ke aspal. Duo Kiyut langsung menangkap tubuh Ami sebelum mencium aspal. Leni dan Cici memeluk Ami tanpa mengucapkan kata apa pun. Mereka tahu, yang Ami butuhkan saat ini hanya pelukan, bukan ucapan kasihan atau prihatin.
Ami terisak dipelukan dua sahabatnya. Toto serba salah berada diantara tiga gadis. Baru kali ini dia melihat Ami serapuh itu. Biasanya gadis itu terlihat ceria dan tangguh. Toto mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dari saku jinsnya.
"Randu nitip ini buat lo." Toto menyodorkan kertas itu pada Ami.
Ami menerima kertas itu dan langsung melihat isinya.
**Kepo sama isi kertas itu?
Jangan lewatkan kelanjutan kisah Ami dan Randu besok yaaa...
Baca juga ceritaku yang lainnya yaaa**
__ADS_1
Cirebon, 26 Februari 2022