Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
8. Sesil


__ADS_3

AMI menunduk merutuki kebodohannya menyatakan cinta pada Randu di depan banyak orang. Alhasil, dia kini menjadi pusat perhatian siswa lain yang masih berada di sekolah. Beberapa dari mereka mencibir Ami karena menyatakan cinta lebih dulu pada Randu.


Dasar bodoh! Kenapa ga liat situasi dulu sih! Nembak cowok di tempat umum, ditolak lagi! Malu tingkat dewa kan gue!


Sementara itu, Randu pergi meninggalkan Ami dengan tatapan tak terbaca. Setelah berganti pakaian yang disimpannya di loker, dia mengambil sepeda lalu mengayuhnya untuk pulang. Di halte, dia melihat Ami duduk sendirian sambil memainkan ponsel. Untuk sejenak dia menatap Ami, lalu pergi.


Ami yang merasa ada yang mengawasi, mengangkat wajah. Dia tidak meliht siapa-siapa. Hanya dikejauhan, dia melihat Randu mengayuh sepedanya pulang.


***


KEESOKAN harinya sekolah penuh desas desus kejadian kemarin sore, tentang Ami yang ditolak Randu. AMI menceritakan kepada dua sohibnya tentang penolakan Randu. Dengan raut sedih, dia ceritakan kejadian kemarin.


"Lo yang sabar ya, Mi." Hibur Cici.


Mereka langsung masuk ke kelas masing-masing. Ami memasuki kelas dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Randu. Ami mengikuti pelajaran tanpa menoleh pada cowok yang duduk di sampingnya, demikian juga Randu. Cowok itu tidak pernah melirik Ami.


Trio Kiyut sudah berkumpul di kantin, pesanan mereka pun sudah datang. Ami makan dalam diam, tidak seperti biasanya yang selalu berisik.


"Hm, hm.. Ada yang habis ditolak nih cintanya." Suara sindiran terdengar di belakang Ami.


Tanpa menoleh pun Ami tahu siapa yang barusan menyindirnya. Ami bersikap biasa saja, seolah dia tidak mendengar suara siswi yang biasa dia sebut sebagai si kuntilanak.


Ami tetap menyantap baksonya dengan khidmat, tanpa mau terganggu dengan kehadiran Sesil.


"Emang enak ditolak? Di depan banyak orang lagi. Ditaroh dimana muka lo. Hahaha... Makanya lo harus sering ngaca! Jangan sok kecakepan karena lo ga cakep! Cewek kok nembak cowok duluan." Ejek Sesil mengibas-ngibaskan rambutnya.


Semua mata menatap Ami, mereka seakan mencemo'oh tindakan Ami kemarin. Ami menarik napas dalam lalu berdiri. Leni sudah meminta Ami untuk tenang, tapi gadis itu tidak mengindahkan.


"Heh, kuntilanak! Emang lo pikir lo lebih baik dari gue?" Balas Ami kesal.


"Ya jelaslah. Gue lebih cantik dan lebih seksi dari lo."


"Cantik apa'an!? Lo kalo pake bedak kaya pake topeng tau! Dan seksi? Apa standar biar dibilang seksi itu dengan cara pake baju kurang bahan gini? Helllooowwww... ini sekolah ya, jadi ga pantes pake baju kurang bahan gitu. Kecuali kalo lo keliaran di diskotik." Balas Ami sarkas.


"Jangan bacot lo ya!" Bentak Sesil.


"Ih, sewot. Ga boleh sewot, kalo sewot cantik lo bakal ilang! Eh, emang iya lo cantik? Cantik polesan gitu sih gue juga bisa!"


Sesil sudah membuka mulut untuk membalas ejekan Ami. Tapi tidak jadi saat dia melihat Randu ke kantin. "Gue ga perlu ngurusin makhluk ga penting kaya lo." Dia lalu berjalan kearah Randu.

__ADS_1


"Dih!! Siapa juga yang minta diurusin sama lo! Lo nya aja yang rese suka nyampurin urusan orang! Dasar kuntilanak!"


"Udah, Mi. Tar kalo kuntilanaknya datang beneran gimana?" Ucap Cici.


Ami kembali duduk dan menyantap baksonya. Ami melirik ke sudut kantin, di mana Randu dan Toto duduk untuk makan. Dan jangan lupakan Sesil yang ikut bergabung dengan mereka. Terlihat sekali Sesil duduk mepet pada Randu, mungkin maksudnya ingin membuat Ami cemburu.


Trio Kiyut selesai makan dan bersiap pergi dari kantin. Tapi sebelum pergi, Ami berkata dengan suara yang cukup lantang untuk didengar oleh para pengunjung kantin.


"Ga masalah sih gue ditolak, seenggaknya gue masih bisa jaga sikap dan harga diri. Ga mepet-mepet cowok kaya cabe-cabean." Serunya menyindir Sesil.


"Heh! Apa maksud omongan lo!? Mulut dijaga ya!" Bentak Sesil marah tidak terima dikatakan cabe-cabean.


"Yang merasa cabe-cabean sewot! Yuk cabut, sebelum mata kita terkontaminasi oleh perbuatan cabe-cabean." Ami menyeringai puas karena bisa membuat Sesil marah.


Sementara cowok yang jadi rebutan Ami dan Sesil hanya diam dan mengabaikan perselisihan kedua cewek itu. Randu tetap makan dengan santai tanpa mempedulikan keberadaan Sesil.


"Randu, hari minggu nonton yuk." Ajak Sesil.


"Gue sibuk."


"Lo sibuk apa?"


"Ha! Kerja!?" Pekik Sesil tidak percaya.


"Iya." Randu tetap santai.


"Di mana?"


"Di warung makan Paman gue."


"Warung makan? Jadi pelayan gitu?"


"Ya."


"What!!?" Pekik Sesil semakin tidak percaya.


"Kenapa?"


"Hehe.. Enggak, enggak apa-apa." Sesil tersenyum paksa. Jadi beneran Randu kere, gue pikir cuma kesingan. Huhh..

__ADS_1


***


"GUE bener-bener ga percaya kalo Randu itu beneran kere!" Curhat Sesil pada Dewi, temannya.


"Seriusan lo!?" Tanya Dewi yang juga tidak percaya.


"Dia sendiri yang bilang ke gue kalo dia kerja jadi pelayan warung makan."


"Masa sih? Randu ga malu gitu jadi pelayan warung? Secara dia kan cakep." Ucap Dewi. "Terus, lo mau mundur ngejar Randu?"


Sesil tampak berpikir. "Gue tetap akan ngejar dia, tapi cuma buat manas-manasin si Ami aja. Gue bakal tunjukin ke dia kalo gue bisa dapetin cowok mana pun yang gue mau karena gue cantik dan seksi." Jawab Sesil jumawa.


***


"RANDU, ini bekal buat lo." Sesil masuk ke kelas Randu dan Ami. Dia juga melayangkan tatapan mengejek pada Ami yang duduk di sebelah Randu. Sesil dengan sengaja berkata dengan manja dan kerlingan mata menggoda.


Ami tersenyum sinis lalu mencibir. "Lo pikir gue bakal cemburu? Sori ya, gue ga cemburu tuh. Karena Randu diam aja, ga respon sama gesekan dada lo dan goyangan pantat lo. Jadi kesannya lo kaya cabe-cabean yang lagi nawarin diri lo."


"Kalo ga mampu bersaing sama gue, bilang aja! Jangan ngatain gue kaya cabe-cabean segala!" Sesil tidak terima.


"Kalo bukan cabe-cabean ya ga usah ngerasa tersinggung dong.." Balas Ami santai.


"Lo tu..."


Teeettt... Teeettt... Teeettt...


Ucapan Sesil terpotong oleh suara bel sekolah. Dengan menggerutu Sesil keluar dari kelas Ami dan Randu.


"Senangnya yang dapat bekal." Cibir Ami melirik sekilas Randu.


"Kalo lo mau, ambil aja." Randu menyodorkan kotak bekal pemberian Sesil.


"Ogah! Tar ada peletnya lagi. Ogah banget gue ngejar-ngejar si kuntilanak." Tolak Ami.


"Pikiran negatif mulu, positif sekali-kali."


"Kalo sekarang ya negatif, tar kalo udah jadi laki-bini, baru positif. Jangankan sekali, berkali-kali juga oke." Balasan Ami membuat Randu memutar bola matanya. Dia lalu mengambil kembali kotak bekal dari meja Ami.


Segini dulu ya, ngantuk 😴😴

__ADS_1


__ADS_2