
AMI menepuk-nepuk punggung Randu lalu memberinya minum. Ami memijit-mijit tengkuk Randu hingga cowok itu merasa lebih baik.
"Udah gede makan masih keselek. Makanya sebelum makan tuh baca bismillah dulu.." Ami mengomel.
Randu mengangkat tangannya sebagai tanda 'cukup'. Dia lalu kembali meminum wedang jahe susu yang masih mengepulkan asap.
"Udah baikan?" Tanya Ami.
Randu mengangguk.
"Gitu ya cowok kalo lagi salting?" Ami mencondongkan tubuhnya ke arah Randu.
"Cepet dimakan jagungnya keburu dingin." Ucap Randu mengalihkan pembicaraan.
Ami hanya menghembuskan napasnya meniup rambutnya yang berponi. Mereka lalu makan jagung hingga habis dan ditutup dengan menyeruput wedang jahe susu.
"Udah larut malam, kita kembali. Nanti dua teman lo pasti nyariin." Ucap Randu bangkit dari duduknya lalu membayar jagung bakar dan wedang jahe dirinya dan Ami.
Dalam perjalanan pulang mereka mengobrol untuk mengusir kecanggungan. Ternyata sifat Ami yang terkadang cuek dan tidak tahu malu sangat membantu mengurangi kekakuan diantara mereka.
Tak terasa, mereka sudah sampai di depan wisma. Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang, sama-sama terlihat canggung dan salah tingkah.
"Masuk, udah malem." Ucap Randu.
"Oke. Makasih ya jagung bakarnya." Balas Ami tersenyum.
"Cuma jagung bakar kok. Kalau yang mahal-mahal gue ga bisa."
"Bakso ga mahal kok."
"Masih setia sama bakso rupanya."
"Sesetia gue sama lo."
"Kalau setia, lo ga bakal jadian sama cowok lain."
Skakmat! "Itu karena lo nolak gue berkali-kali."
"Udah sana masuk, nanti masuk angin."
"Uuuhhh...perhatiannya.. Tapi kata-katanya kurang romantis."
"Kita bukan pacar jadi ga perlu romantis."
"Itu karena lo yang ga mau!"
"Udah cepet masuk!"
"Iya, iya gue masuk." Ami melangkah ke teras wisma, tapi baru saja menapakkan kakinya di teras dia berbalik. "Makasih buat malam ini dan jangan lupa, sebut nama gue tiga kali sebelum tidur biar kita bisa ketemu dimimpi." Ami tersenyum lalu masuk wisma setelah melambaikan tangan pada Randu.
Randu hanya tersenyum tipis sambil menggeleng mendengar ucapan Ami. Dia berbalik untuk masuk ke wismanya.
Masuk kamar Ami langsung disambut dengan rentetan pertanyaan dan omelan oleh dua sahabatnya.
"Abis dari mana aja sih lo? Ngilang ga bilang-bilang!"
"Ditelepon lo ga diangkat, taunya ponsel lo ada di kamar!"
"Kalo mo cari makan ajak-ajak dong!"
"Lo kalo kemana-mana tuh bawa ponsel biar gampang dihubungi! Biar kita ga khawatir!"
__ADS_1
"Iya! Kita berdua ngira lo diculik sama genderuwo puncak!"
Leni dan Cici bergantian mengomeli Ami. Tapi yang diomeli malah senyum-senyum tidak jelas.
"Malam ini gue seneng banget..." Serunya seraya menghempaskan badannya di ranjang.
"Lo seneng karena apa, Mi?" Tanya Leni penasaran.
"Lo kesambet, Mi, senyum-senyum ga jelas gitu?" Cici ikut menginterogasi.
"Lo berdua tau ga, tadi gue sama siapa?"
"Meneketehe!" Jawab Duo Kiyut berbarengan.
"Gue abis sama pengeran kuda item gue! Liat bulan bareng, jalan bareng, makan jagung bakar bareng.. So sweet banget dehh pokoknya." Ami memaparkan.
"Cie cie... Malam pertama udah diajak nge-date ni yeeee.." Ucap Cici.
"Seriusan lo, Mi?" Tanya Leni.
"Seriuslah! Masa bo'ong, dosa tau. Lagian tampang gue kan tampang jujur."
"Akhirnya..lo ketemu lagi sama pengeran kuda item lo." Ucap Leni.
"Moga setelah ini dia mau nerima lo." Harap Cici.
"Amiin..." Ami langsung menyahut.
"Bobo yuk. Udah malem tau, ngantuk nih.." Ajak Cici yang langsung masuk dalam selimut.
***
UDARA puncak yang dingin di pagi hari tidak menyurutkan Trio Kiyut untuk menjelajahi keindahan panorama alamnya yang hijau. Mereka bertiga menyusuri jalanan desa dan menyapa setiap orang yang mereka papasi.
"Hai, cowok-cowok.." Trio Kiyut balik menyapa. Ami langsung memberikan senyuman mautnya pada pangeran kuda hitamnya.
"Lagi ngapain?" Tanya Toto basa-basi.
"Pertanyaannya basi! Udah tau kita lagi selfi." Jawab Cici.
"Numpang dong.." Ucap Toto.
"Numpang apa'an?" Tanya Leni.
"Numpang selfi, biar makin bagus fotonya."
"Lo mah bukan nambah bagus foto, tapi malah merusak pemandangan foto! Kalo Randu boleh. Sini, sini.." Ami melambaikan tangan pada Randu.
"Emang semalem lo berdua ga foto-foto?" Tanya Cici.
"Enggak." Jawab Ami cuek.
"Lah! Rugi banget lo kagak poto-poto pas kencan pertama!" Cici mengomel.
"Kita berdua ga ada yang bawa ponsel, lupa! Lagian tuh kencan kan dadakan kaya tahu bulat, jadi persiapannya ga paripurna." Ami beralasan.
Tahu bulat! Digoreng dadakan! Lima ratusan! Raos pisan...
"Ya'elah tuh orang jualan panjang umur bener ya. Baru juga gue ngomong, udah nongol aja." Ucap Ami saat mendengar suara penjual tahu bulat.
"Pagi bener dia kelilingnya." Sahut Cici.
__ADS_1
"Berarti dia penganut aliran, bangun pagi-pagi cari rejeki keburu dipatok ayam." Balas Leni.
"Bener, bener. Semangat Mamang tahu bulat!" Seru Ami membenarkan ucapan Leni.
"Jadi ga nih fotonya?" Tanya Toto.
"Jadi cowok ga sabar banget pengen poto! Biasanya juga cewek yang ngebet minta poto!" Protes Cici.
"Udahlah jangan debat mulu. Ayo sini!"
Mereka pun berdiri berdekatan agar terlihat semua di layar ponsel Leni. Ami dan Randu berdiri berdekatan, mereka semua lalu tersenyum. Entah berapa kali jepretan mereka ambil dalam berbagai gaya.
"Kita jalan ke sana yuk!" Ajak Toto.
"Ayok!" Jawab Trio Kiyut bersamaan dengan penuh semangat.
Mereka berlima berjalan menyusuri jalanan puncak, mereka juga membeli tahu bulat yang berhenti tak jauh dari mereka.
"Randu, semalam Ami cerita katanya lo buka warung makan ya?" Tanya Cici sambil jalan.
"Ya, kecil-kecilan." Jawab Randu.
"Guys, kapan-kapan kita main ke Bandung yuk! Ke warung makannya Randu." Usul Cici.
"Lo mau numpang makan?" Tanya Toto berseloroh.
"Iya! Bolehkan, Ran?"
"Eh, jatah numpang makan itu gue! Gue udah daftar dari semalem. Jatahnya cuma 1 orang, lainnya bayar!" Protes Ami.
"Dih! Mau numpang makan ga ngajak-ngajak. Sakit perut lo entar!"
"Jangan sumpahin gue, Ci! Kualat lo ama temen." Balas Ami.
"Lo yang kualat duluan karena mau numpang makan ga ngajak-ngajak temen!"
"Udah! Ngapain kalian jadi berdebat gini sih!?" Leni berusaha melerai dua sahabatnya.
"Dia tuh yang mulai!" tunjuk Ami pada Cici.
"Dih! Lo kali!" Cici tidak terima disalahkan.
"Udah berenti! Warung makannya juga jauh di Bandung, jadi kalian ga bakal bisa makan sekarang. Jadi mendingan kita balik ke wisma! Keringetan gue jadinya dengerin kalian berdua!" Omel Leni dan mendahului mereka berjalan kembali ke wisma.
Perjalanan kembali ke wisma awalnya sepi, tapi tidak lama kemudian kembali ramai dengan ocehan dan candaan mereka karena Ami dan Cici sudah melupakan perdebatan mereka. Mereka sampai di wisma disambut oleh ucapan yang membuat panas telinga mereka.
"Enak bener ya, jalan pagi sama cowok orang ga bilang-bilang!" Tegur Sesil ketus.
"Siapa yang cowok lo? Toto?" Tanya Ami pura-pura tidak mengerti.
"Sembarangan! Ga doyan gue sama dia! Cowok yang deket lo itu cowok gue!" Ucap Sesil dengan lantang penuh percaya diri.
Ami sempat merasakan kekecewaan dan berdebar jantungnya. "Beneran, kalian udah jadian?" Tanyanya langsung pada Randu dengan raut dan nada kecewa yang jelas terbaca.
"Ya iyalah dia cowok gue! Kita udah jadian sebelum berangkat ke sini. Gue sengaja jemput dia ke Bandung."
Ami menatap tajam Randu, berharap pangeran kuda hitamnya itu menyangkal pengakuan Sesil. Tapi Randu hanya diam membalas tatapan Ami tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
**Cirebon, 24 Februari 2022
Baca juga karya temanku ya. Seru loh ini ceritanya**
__ADS_1