
Ami masih menatap Randu bingung. Apakah akan naik ke ranjang yang ditiduri Randu, atau memilih tidur di lantai.
"Lo bisa masuk angin kalau tidur di lantai, Ibu tadi lupa ga bawa tikar atau karpet karena buru-buru." ucap Randu.
"Tapi tangannya diam ya."
"Iya lagian tangan gue lagi sakit."
Ami perlahan naik ke brankar Randu. Setelah berbaring berdampingan, mereka berdua merasakan debaran jantung mereka lebih cepat dan lebih keras. Mereka sama-sama mematung.
Tangan Randu bergerak untuk menggenggam tangan Ami, dan mereka saling menggenggam.
"Randu, lo deg-degan enggak?"
"Hmm."
"Kok gue deg-degan ya?"
"Ini pertama kalinya gue tidur seranjang bareng cewek."
Ami menoleh menatap Randu. "Seriusan?"
Randu pun balas menatap Ami dan mengangguk.
"Gue seneng jadi yang pertama! Dan terakhir juga ya?" sorak Ami girang sambil memeluk Randu.
"Ssshhhh..." Randu meringis kesakitan karena Ami memeluk bagian tangannya yang terluka.
"Maaf, maaf, maaf. Gue lupa! Maaf ya." ucap Ami menyesali perbuatannya.
Tanpa sadar, Ami mencium pipi Randu sebagai permintaan maafnya pada kekasihnya itu. Mengingat kata kekasih, Ami suka senyum-senyum sendiri mengakui dirinya dan Randu sebagai sepasang kekasih.
Ami mematung saat menyadari bibirnya menempel pada pipi Randu. Wajahnya sudah merah padam, tapi dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Maaf, yang ini,,, bener-bener khilaf."
"Gue suka khilaf lo. Moga aja lo sering khilaf."
Plak!
"Aww!" pekik Randu karena Ami memukul lengannya yang luka.
"Lo sendiri yang nyuruh gue ga mesum. Tapi nyatanya, lo sendiri yang mesum!" omel Ami.
"Udah mau subuh, tidur yuk." ajak Randu.
Waktu subuh Arman bangun karena sudah memasang alarm di ponselnya. Dia masuk ke ruang rawat Randu, dilihatnya pemuda itu dan adiknya tidur saling berpegangan tangan.
Randu terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. Randu langsung menatap Arman dan meletakkan telunjuknya di depan bibir.
"Dia baru saja tidur." ucap Randu tanpa suara.
"Lo ga apa-apain adik gue kan?" Arman balas bertanya tanpa suara.
"Engga." Randu menggeleng seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, masih tanpa suara.
"Awas kalo lo apa-apain! Krek!" Arman memberi isyarat menyilangkan tangannya di leher. "Gue harus pulang karena ada tugas jam 9 nanti."
"Ya udah, Ami nanti siang atau sore pulangnya."
"Jaga adik gue baik-baik. Awas kalo pulang ada yang lecet!" ancam Arman masih dengan bahasa bibirnya. "Gue balik, titip Ami."
"Makasih udah ke sini. Gue pasti jaga Ami."
Arman pun keluar dan langsung menuju motornya. Randu menghembuskan napas lega, bicara menggunakan bahasa bibir ternyata cukup melelahkan. Randu kembali memejamkan matanya.
❤
__ADS_1
LISNA memasuki ruang rawat Randu saat hari masih pagi, dia membawa sarapan untuk kakaknya dan Ami. Saat masuk, Lisna sempat terkejut melihat Randu dan Ami tidur dalam satu ranjang.
"A'a!" seruan Lisna membangunkan pasangan yang baru tidur menjelang subuh itu.
"Apa sih, Lis?" tanya Randu seraya mengucek matanya.
Ami langsung terlonjak dari brankar saat mendengar seruan adik perempuan Randu. "Kita,,, kita ga ngapa-ngapain kok. Cuma tidur doang."
"Kamu sama Ibu kan semalam ga bawa tikar, masa Ami tidur di lantai." dalih Randu.
"Lisna bawa sarapan. Sarapan dulu atuh, A, Teh. Lisna juga bawa tikar." Lisna membuka rantang yang dibawanya dan menata di atas tikar. "A'a yang bersama Teh Ami teh, kamana?"
"Iya, kemana Abang gue?" tanya Ami yang baru sadar jika Arman tidak ada diantara mereka.
"Bang Arman pulang subuh tadi." beri tahu Randu.
"Gue lupa suruh bangunin dia pas subuh."
"Lo baru tidur menjelang subuh, jadi Bang Arman cuma pamit ke gue. Dia ga tega bangunin adiknya yang lagi ngorok." canda Randu.
"Ih! Enggak ya, gue ga ngorok." protes Ami.
"Gue denger sendiri."
"Bo'ong! Gue ga ngorok! Leni sama Cici ga pernah bilang gue ngorok, cuma lo yang bilang gitu. Berarti lo bo'ong!"
"Lain kali gue rekam biar lo sadar."
"Siapa juga yang mau tidur lagi bareng lo! Sempit, gue ga bisa gerak. Biasanya gue tidur menjelajah kasur semalam diem bae di pinggir kasur." oceh Ami.
"Kenapa A'a sama Teteh berantem? Cepet atuh sarapan." Lisna menyela perdebatan Kakaknya dan gadis somplak yang berstatus sebagai pacar kakaknya.
"Dia yang mulai!" tunjuk Ami pada Randu.
Randu hanya membuang napas kasar tanpa membalas tudingan Ami. "Mi, suapin dong."
"Gitu aja lo ngambek, ga usah dimasukin ati."
Ami hanya mengambilkan sarapan untuk Randu lalu memberikannya pada pemuda itu. "Makan sendiri, ga usah manja!"
Lisna menutup mulut menahan senyum. Menurutnya, gaya pacaran Randu dan Ami itu lucu. Tidak ada kata-kata romantis yang terumbar, jika ingin romantis malah menjadi ambyar.
"Oh ya, Ran. Katanya lo ada janji sama pemilik tanah, gimana kelanjutannya?" tanya Ami yang ingat jika Randu memiliki janji dengan seseorang.
"Nanti gue telepon orangnya."
"Lisna pulang ya, A. Mau siap-siap di warung." ucap Lisna setelah membereskan bekas sarapan mereka.
"Iya. A'a titip warung."
"Iya, A. Teh, Lisna titip A'a ya. Kalau A Randu nakal, pukul aja yang ada lukanya."
"Sip!"
Setelah Lisna pergi, Randu segera menghubungi pemilik tanah dan membuat janji bertemu di rumah sakit.
❤
HARI sudah siang. Proses jual beli tanah pun sudah selesai dan berjalan lancar. Randu merasa tenang, karena kini dia tidak perlu lagi berpindah tempat usaha karena masa kontrak yang habis. Ami duduk di kursi yang ada di samping brankar.
"Katanya kalau gue ke Bandung lagi mau dimasakin. Ini boro-boro dimasakin jadinya." Ami menggerutu.
"Nginep lagi aja sampe gue sembuh, nanti gue masakin."
"Kerjaan gue gimana? Bisa-bisa gue dipecat kalau mangkir lama."
"Pindah jadi kasir di warung gue aja, nanti honornya plus nafkah."
__ADS_1
"Lo lagi melamar gue?"
"Kalau lo mau."
Ami tersipu sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan. Randu berusaha menyingkirkan tangan Ami dari wajah gadis itu.
"Jangan dibuka!" seru Ami.
"Kenapa?"
"Gue malu."
"Lo malu kan kejadian langka, biasanya lo malu-maluin. Makanya gue mau liat wajah malu-malu lo."
"Randu!" pekik Ami saat Randu menariknya hingga jatuh ke dada pemuda itu.
Randu membelai rambut Ami. "Lo mau, jika nanti tinggal di Bandung?"
Ami yang berada di dada Randu menengadahkan wajahnya. "Lo serius?"
"He'em."
"Lo belum minta gue ke Babeh."
"Kalau lo jawab iya, gue bakal minta ke Babeh dan Emak."
"Lo ga malu dampingan sama gue?"
"Kalau gue malu, gue ga akan milih lo."
"So sweet banget sih pangeran kuda item gue." Ami mencubit hidung mancung Randu.
"Gue pengen ke kamar mandi." ucap Randu.
"Terus? Tinggal ke kamar mandi aja." balas Ami cuek.
"Jadi calon istri ga peka banget sih. Kaki gue sakit."
Ami memegang pipinya dengan kedua tangan. "Lo hari ini bikin gue malu terus."
"Cepetan anterin gue, udah ga tahan."
"Tapi lo masuk sendiri ya, gue nunggu di depan pintu."
"Kalau lo mau ikut masuk juga boleh."
Plak!
"Aww!" pekik Randu karena kakinya yang luka dipukul Ami. "Seneng banget nyiksa calon suami."
"Calon suaminya mesum pengen digampar."
Ami pun menuntun Randu ke kamar mandi. Saat Ami memapah Randu untuk kembali ke brankar, pintu kamar rawat terbuka lebar.
"Mau apa kamu di sini?"
**Cirebon, 19 Maret 2022
Emak mau rekomendasikan karya teman Emak. Ceritanya kwerreenn banget lohh. Ini juara 2 di event YMYB kemarin, jadi pasti seru dan keceh lah pokoknya**.
JUDUL : ROMANSA BIAS DAN ZEE
KARYA : BUBU.id
Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.
Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.
__ADS_1
"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"