
"Besok gue ada janji sama pemilik tanah tempat warung gue berada. Mau perjanjian jual beli tanah dan bangunan. Doain ya biar lancar dan tanah serta bangunan warung jadi milik gue sepenuhnya."
"Gue pasti doain dan selalu doain biar usaha lo makin maju." doa Ami.
"Biar gue jadi pangeran kuda putih lo." Randu menambahkan.
"Ga usah. Gue lebih suka nyebut lo pangeran kuda hitam."
Randu mencium kening Ami. "Mau makan di mana?"
"Di mana aja asal ga di kolong jembatan kalo sama lo gue mau."
"Siapa juga yang mau ngajak ke kolong jembatan. Gue malah pengen ngajak lo ke KUA."
"Mau... Kapan?" Ami menampilkan cengirannya, memamerkan barisan giginya yang putih.
"Sabar ya. Gue nabung dulu buat mahar. Ini ada tabungan mau buat bayarin tempat usaha biar ga pindah-pindah mulu." Randu mengacak rambut Ami.
"Gue pasti sabar nunggu dengan segala kecantikan gue yang paripurna." seloroh Ami.
Randu terkekeh dan memeluk gadis itu gemas.
Mereka menghabiskan saat-saat terakhir kebersamaan mereka sebelum Randu kembali ke Bandung dengan berkeliling kota Jakarta. Sesekali mereka mampir ke penjual pinggir jalan dan membeli cemilan.
Jam 8 malam mereka sampai di rumah Ami. Emak dan Babeh sedang duduk di balai-balai yang ada di teras.
"Maaf, Mak, Beh. Saya ngajak Ami jalan dulu. Sekalian saya mau pamit sama Emak dan Babeh, saya akan pulang ke Bandung malam ini." ucap Randu sopan.
"Kenapa kagak besok aja sih?" tanya Babeh.
"Iye, kalo malam kan gelap." Emak menambahkan.
"Besok pagi ada janji dengan orang, Mak, Beh."
"Aye juga udah bilang gitu, dari sini pagi-pagi aja abis subuh. Tapi dia tetep mau balik sekarang." ucap Ami.
"Ya udeh, lu ati-ati di jalan. Kalo ngantuk, mending berenti aje. Ngaso." nasihat Babeh.
"Iya, Beh. Saya pamit." Randu mencium punggung tangan Emak dan Babeh.
Ami mengantar Randu sampai pagar. "Ati-ati di jalan, kalau udah nyampe kabarin gue."
"Oke, Yang." Randu mengacak rambut Ami sebelum melambikan tangan lalu nelajukan motornya.
Ami kembali dibuat merona oleh pangeran berkuda hitamnya. Dipanggil 'Yang' membuat Ami melambung tinggi.
Malam semakin larut dan Ami belum juga mampu memejamkan matanya. Dia merasa gelisah yang membuatnya hanya membolak-balilkan tubuh di atas ranjang.
Ami melihat jam diponselnya yang menunjukkan jam 11 malam. Belum ada kabar dari sang pujaan hati, apakah sudah sampai atau belum. Telepon aja lah, udah sampe mana?
Ami mencari kontak Randu, tapi belum sempat dia melakukan panggilan, ponselnya berdering. Terlihat nama pangeran kuda hitam di layar ponsenya. Ami tersenyum dan segera menjawab panggilan dari sang pacar.
"Halo, udah nyampe mana?" tanyanya langsung.
__ADS_1
"Benar ini dengan saudari Ami?"
Loh, kok bukan suara Randu? Ami mengerutkan keningnya.
"Halo?" terdengar kembali suara di seberang.
"Iya, saya Ami. Kenapa ponsel Randu ada padamu? Di mana Randu?" tanya Ami.
"Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di tol Pasteur. Kami hanya menghubungi nomor terakhir yang dihubungi korban. Dan ... "
Ami merasa seperti disambar petir disiang bolong, padahal ini hampir tengah malam. Dia mematung mendengarkan orang yang berbicara lewat telepon Randu.
"Bang! Bang Arman!" sambil menangis Ami menghambur ke kamar Arman, memaksa kakaknya untuk kembali membuka mata.
"Ada apa sih, Mi? Baru juga merem?" tanya Arman kesal.
"Randu, Bang. Randu, hiks hiks hiks..."
"Ada apa sama Randu? Baru juga dia balik, paling baru nyampe Bandung."
"Randu kecelakaan, Bang." ucap Ami disela tangisnya.
"Apa!?" Arman terlonjak di atas tempat tidur. "Seriusan lo!?"
"Ini soal nyawa, Bang! Mana mungkin gue bo'ong! Ayo cepet anterin gue ke sana!"
"Ade ape sih, Mi? Tengah malam ribut bener?" tanya Babeh.
"Iya, baru juga merem." Emak menambahkan.
"Kenape si Randu? Palingan dia baru nyampe rumah."
"Randu kecelakaan, Mak..."
"Apa!?" seru Emak dan Babeh kompak.
"Tadi aye dapat telepon, aye pikir itu Randu karena pake nomor Randu. Tapi ternyata bukan dia, dan orang itu mengatakan kalau pemilik posel itu kecelakaan di tol Pasteur dan udah dibawa ke rumah sakit." Ami menjelaskan seraya sesenggukan.
"Innalillaahi... Moga aja dia selamat, kagak luka serius." ucap Babeh.
"Makanya ayo, Bang. Anterin gue ke sana." Ami kembali merengek pada Arman.
"Tapi besok lu kan kerja, Mi." Emak mengingatkan.
"Aye bisa ijin barang sehari. Pokoknya aye pengen liat keadaan Randu dulu!" Ami bersikeras dan kembali merengek pada Kakaknya untuk mengantarnya ke sana.
"Oke, kita ke sana." demi adik satu-satunya, Arman pun bersedia mengantarkan adiknya itu ke rumah sakit tempat Randu berada.
Ami dan Arman bersiap untuk pergi. Mereka sudah rapi dengan memakai jaket untuk menghalau dinginnya udara malam.
"Minum dulu, Mi. Biar lo tenang." Emak menyodorkan segelas air putih.
Setelah minum, Ami dan Arman pamit pada kedua orang tuanya. Mereka langsung menuju Bandung mengendarai motor Arman. Sepanjang perjalanan Ami terus berdoa semoga Randu tidak mengalami luka parah.
__ADS_1
❤
TIBA di rumah sakit, Ami langsung bertanya kepada petugas pendaftaran yang ada di lobi rumah sakit, menanyakan ruang rawat Randu.
Ami setengah berlari di koridor rumah sakit. Heningnya malam membuat suara sepatu kets yang dipakainya begitu nyaring saat menyentuh lantai.
Ami tiba di depan pintu kamar rawat Randu, dia langsung membuka pintu. Dengan napas tersengal, dia menatap pangeran kuda hitamnya terbaring dengan perban dibeberapa anggota tubuhnya. Di sana sudah ada Ibu dan kedua adiknya.
Ami tak kuasa menahan laju air yang mengalir dari kedua matanya. Sementara Arman setia di samping adiknya, berjaga jika adiknya terjatuh karena lemas.
Randu dan keluarganya menatap Ami yang baru saja datang dengan berurai air mata. Dibantu Arman, Ami melangkah pelan mendekat ke ranjang di mana Randu terbaring.
Pemuda itu malah tersenyum tipis padanya seraya mengulurkan tangan yang bebas dari selang infus untuk menggenggam tangannya.
"Maaf." ucap Randu pelan. Sangat pelan hingga menyerupai bisikan.
Wajah Ami basah dan sembab, dengan bibir bergetar dia membungkuk memeluk Randu. "Gue bilang juga apa? Jangan pulang malam. Besok pagi atau kemarin siang." ucap Ami ditengah tangisnya.
Randu membelai rambit Ami, gadis yang sudah menempati hatinya sejak berseragam putih abu-abu. "Jangan nangis. Lo ga malu diliat banyak orang? Semua orang taunya lo gadis yang kuat, barbar dan somplak. Masa nangis. Nanti semua orang ngira lo gadis cengeng."
"Biarin! Gue lagi pengen nangis!" seru Ami dan kembali menangis.
"A'a teh, saha?" tanya Lisna pada Arman.
"Gue Arman, kakaknya Ami." Arman memperkenalkan diri.
Lisna hanya mengangguk, dia masih sedih dengan musibah yang menimpa kakaknya. Ami meminta Ibu dan kedua adik Randu untuk pulang karena mereka harus menyiapkan kebutuhan rumah makan Randu.
Akhirnya, setelah berdebat karena ingin tetap menemani Randu di rumah sakit, keluarga Randu memilih pulang agar bisa istirahat dan menyiapkan kebutuhan rumah makan.
Kini di kamar rawat Randu hanya ada Ami dan Arman.
"Bang, lo kalo ngantuk tidur aja." ucap Ami.
"Iya gue ngantuk banget. Tapi subuh bangunin ya." pesan Arman lalu meluruskan badannya di kursi panjang di depan kamar rawat Randu.
Randu membelai pipi Ami. "Lo belum tidur, kan?"
"Mana bisa tidur."
Randu menggeser tubuhnya. "Tidur di sini."
"Tar kalo ada yang liat gimana?"
"Kita kan cuma tidur, ga ngapa-ngapain."
Ami masih menatap Randu bingung. Apakah akan naik ke ranjang yang ditiduri Randu, atau memilih tidur di lantai.
**Cirebon, 17 Maret 2022
Emak bawa cerita teman Emak yang keceh badai nih. Sama kaya Ami, cerita ini tentang remaja tapi ga labil dan somplak kaya Ami 😅😅. Ini salh satu juara di event YMYB loh. Yuk cuss baca cerita karya SRN27 ini**.
__ADS_1
Happy Birthday to me 🤭🤭. Moga disisa usiaku makin berkah dan bahagia dunia akhirat 🤗🤗🤗