
"Hai, boleh gabung ga? Dari tadi aku cari kamu loh," ucap seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berada di belakang Ami.
Trio Kiyut menoleh ke arah belakang Ami. Cici membulatkan matanya karena terkejut melihat pemuda itu. Kok dia tau gue di sini?
"Lo siapa?" tanya Leni pada pemuda itu.
"Emang kita kenal?" Ami pun ikut mengajukan pertanyaan pada pemuda itu.
Ami dan Leni saling pandang. Mereka berdua kemudian sama-sama menatap Cici tajam. Cici memasang senyum terpaksa karena tidak enak hati pada dua sahabatnya sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ami kembali menatap pemuda itu. Tangannya menyentuh dagu dengan tatapan meneliti pada pemuda itu. Cakep sih, tinggi, dan kayanya cukup atletis meski ga sekeren Randu.
"Kenapa, Ci? Ada apa ini?" tanya pemuda itu bingung.
Ami kembali menatap Cici horor. Cici memejamkan matanya dengan memamerkan barisan giginya. Ami berbalik menatap pemuda itu.
"Lo temennya Cici?" tanya Ami. Pemuda itu mengangguk. "Oke. Lo tunggu di pojok sana, kita mau meeting dulu." Ami menunjuk salah satu sudut kafe.
Meski bingung, pemuda itu menuruti perintah Ami juga setelah mendapat isyarat mata dari Cici. Cici sendiri tidak berani berkutik di depan dua sohibnya. Mati gue!
"Kejam bener lo ngumpetin cowok dari kita. Mau jadi penyelundup?" tanya Ami tajam dengan raut wajah serius.
"Tau nih! Kita berdua blak-blakan, lo maen kucing-kucingan." Leni menambahkan.
"Gue belum sempat aja cerita sama lo berdua," dalih Cici.
"Udah berapa lama lo kucing-kucingan sama dia?" tanya Ami lagi.
"Baru dua bulan," jawab Cici takut-takut.
"Kenal dia di mana?" Kali ini Leni yang mengajukan pertanyaan.
"Dia temen sekantor gue tapi beda divisi," jawab Cici lagi.
"Dia tau kalau lo lemot?"
"Apa'an sih, Mi. Gue udah ga lemot ya, jaringan gue udah diperbarui jadi 5G!" protes Cici.
"Ya kali aja dia nyesel kalau tau lo lemot," celetuk Ami.
"Jangan mentang-mentang kalian udah pada punya cowok, terus kalian ga percaya kalau gue punya gebetan," sungut Cici.
"Bukan gitu, Maymunah! Lo ga bilang ke kita kalau lo lagi deket sama Ferguso! Kita berdua aja blak-blakan sama lo kok lo diem-diem bae!" sangkal Ami.
"Fadli namanya, Mi. Bukan Ferguso!" Lagi-lagi Cici protes.
"Lo tau dari mulai gue deket sama Bang Arman. Lo juga tau perjuangan Ami buat dapetin pangeran kuda itemnya. Terus kenapa lo maen kucing-kucingan dari kita? Itu yang bikin kita kecewa sama lo!" ungkap Leni.
"Ya, ada apa? Tadi manggil aku?" Tiba-tiba pemuda yang tadi dipinta Ami untuk duduk di kursi sudut kafe mendekat.
Trio Kiyut menoleh serempak ke arah pemuda bernama Fadli itu. Mereka kemudian saling pandang. "Dia yang manggil lo," ucap Ami dan Leni bersamaan seraya menunjuk Cici.
"Tadi aku bukan lagi manggil, tapi lagi bilang ke mereka kalau nama kamu itu Fadli, bukan Ferguso," jelas Cici.
__ADS_1
"O jadi aku kamu nih," goda Leni seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Ah lo," ucap Cici dengan wajah merona.
"Lo boleh gabung sama kita. Meeting udah selesai," ucap Ami mempersilakan.
"Makasih," balas Fadli. Dia pun duduk di samping Cici.
"Lo beneran lagi deket sama Cici?" tanya Ami tanpa basa-basi.
"Iya," jawab Fadli jujur.
"Lo ga lagi mainin Cici 'kan?" tanya Leni.
"Ya enggaklah. Aku serius sama Cici."
"Bagus deh kalau gitu. Tapi jika lo mainin bestie gue, lo kudu siap-siap hadapi gue," ancam Ami.
"Hah! Udah hampir jam 1!" teriak Leni yang baru sadar istirahat makan siang sebentar lagi usai.
"Apa? Jam satu?" Ami dan Cici ikut berteriak.
Trio Kiyut pun berlomba menghabiskan makanannya lalu segera bersiap kembali ke kantor masing-masing. Fadli yang belum makan siang hanya terbengong melihat tiga sekawan itu sibuk. Trio Kiyut tidak mempedulikan pandangan orang terhadap mereka yang mulutnya penuh makanan.
Trio Kiyut membubarkan diri setelah membayar makanan mereka. Tangan Cici refleks menggandeng tangan Fadli agar mengikutinya keluar dan kembali ke kantor. Fadli pun mengikuti ke mana langkah Cici.
Cici baru sadar jika dia sedari tadi menggandeng tangan Fadli saat dia akan menaiki ojek online yang kebetulan lewat dan dihadangnya. "Eh, terus kamu bonceng sama siapa?" tanyanya.
"Lah, terus ini Abang ojol gimana?" Cici bingung sendiri.
"Bang, maaf ga jadi. Ini sebagai kompensasi aja." Fadli memberikan uang kertas pada pengemudi ojol itu.
***
"Lo beneran udah baik-baik aja?"
"Beneran. Lo liat sendiri nih, jidat gue udah ga mancung 'kan?" Ami mendekatkan keningnya pada ponsel.
Saat ini Ami sedang videocall dengan pangeran kuda hitamnya. Lima hari sudah berlalu sejak Ami, Toto dan Sesil kecelakaan saat pulang dari Bandung. Sesil juga sudah berangkat ke Singapura kemarin untuk melakukan pengobatan pada luka di wajahnya.
"Syukurlah kalau lo udah baik-baik aja." Randu bernapas lega.
"Lo sendiri gimana? Udah baikan?"
"Udah baikan, udah bisa jalan sendiri."
"Jangan dulu ke rumah makan," larang Ami.
"Gue udah kelamaan ga ke rumah makan."
"Tapi lo kan baru sembuh."
"Ga apa-apa, cuma duduk aja kok di warung."
__ADS_1
"Dasar bandel!"
***
Ami berlari sembari menenteng sepatu hak tingginya menuju jalan raya. Saat sudah menaiki angkot, dia tidak segera memakai sepatunya, tetapi bersolek lebih dulu. Tanpa mempedulikan tatapan semua penumpang angkot, Ami mulai memoles wajahnya dengan peralatan perang yang dibawanya.
Ya, Ami kesiangan! Meski tangannya sibuk memoles wajahnya dengan alat-alat kosmetik, tak ayal dalam hati dia menggerutu kesal dan sebal pada diri sendiri.
Semua ini gara-gara drakor! Awas lo Lee Min Ho, lo udah buat gue kesiangan gara-gara semalam mantengin lo terus di ponsel! Lo kudu tanggung jawab kalau gue diomelin boss!
Ami senyum-senyum sendiri mengingat adegan drama Korea saat Lee Min Ho melamar kekasihnya secara tiba-tiba. Oh, so sweet ....
"Eneng masih waras 'kan?" tanya seorang penumpang ibu-ibu yang duduk di depan Ami.
Ami tengok kanan kiri. "Ibu ngomong sama aku?" tanyanya menunjuk hidungnya dengan sebelah tangan yang masih memegang bedak.
"Iya, Neng," jawab ibu itu.
"Ya jelas masih waras lah, Bu. Kalau aye udah ga waras, aye kagak bakal ada di sini." Ami kembali melihat pantulan wajahnya di cermin.
Setelah rapi, dia memasukkan kembali bedaknya ke tas. Ami melihat keluar jendela. Apa?
"Stop! Stop! Pak sopir, stop!" teriak Ami.
Ami turun dari angkot setelah membayar ongkos. Dia berlari menuju kantornya yang sudah terlewat beberapa meter sembari menenteng sepatunya. Dia kembali merutuki kelalaiannya!
Awas aja lo, Lee Min Ho!
Sampai di kantor, Ami masih berlari meski tidak secepat di luar tadi. Dia mengabaikan pandangan orang-orang yang melihatnya aneh demi mencapai kubikelnya. Dia langsung mendudukkan dirinya di kursi putar. Napasnya memburu akibat jojing terpaksa pagi ini.
"Ami, Saya minta laporan hari ini." Sebuah suara wanita yang tegas -- terkesan galak -- langsung menyambutnya saat baru beberapa detik yang lalu dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja.
Ami bergegas mengambil berkas yang diinginkan atasannya lalu membawanya ke ruangan Sang atasan yang berada di samping kubikelnya. Ami memasuki ruangan itu.
"Kamu apa-apaan? Niat kerja ga sih!"
**Cirebon, 4 April 2022
Ami kena marah kenapa ya? Ada yang tahu ga? Nantikan part selanjutnya yaaaa 😘😘😘. Jangan lupa like dan komen serta hadiahnya yaaa 😍😍😍
Emak mau merekomendasikan karya teman Emak nih. Kali ini Emak rekomen karyanya LADY MERMAD judulnya I WANNA YOU MY COLD BOY**
Nabila Aurelia Jasmin adalah gadis populer di sekolah Bina Harapan Internasional, salah satu Sekolah elit di Jakarta. Dia idaman para laki – laki di sekolahnya. Hampir semua pria di sekolah menginginkan Nabila menjadi kekasihnya. Selain itu dia juga ketua cheerleader sekolah dan sekretaris Osis. Siapa yang tidak mengenal Nabila yang popular. Apa jadinya jika Nabila menyukai pria paling tidak dikenal di sekolah?
Nathan Fernando Lathif, laki – laki dingin yang pendiam, kutu buku, penyendiri dan misterius. Dia hanya menginginkan hidup yang tenang. namun dunianya berubah saat Nabila si gadis populer mengejar – ngejarnya. Tidak hanya jadi amukan para pria di sekolah, hidupnya yang tenang menjadi penuh drama. Dia kesal karena terus – terusan diikuti gadis berisik itu.
Bagaimana kisah mereka?
Bisakah Nabila menaklukan si pria es?
Atau Nabila akan menyerah dan menerima cinta pria popular Sekolah yang memang menyukainya, karena berkali – kali diabaikan dan dianggap pengganggu?
__ADS_1