Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
48. Nobar Yang Bubar


__ADS_3

Ami berlari kecil ke pintu depan. Dia tidak sabar ingin melihat paket apa yang dikirimkan Randu untuknya malam ini. Ami terkejut saat membuka pintu.


"Randu!" seru Ami dan langsung menghambur memeluk pangeran berkuda hitamnya.


Dengan senyum mengembang, Randu menangkap tubuh Ami dan langsung memeluknya erat. Mereka berdua hanyut dalam riam rindu yang mengalir di sungai hati mereka. Biasanya mereka hanya melakukan videocall untuk melepas rindu.


"Diterima enggak paketnya?" bisik Randu di telinga Ami.


Ami mengurai pelukan mereka lalu mengerucutkan bibirnya. "Kok ga bilang-bilang sih mau ke sini?"


"Ini paket kejutan istimewa, jadi ga ada pemesanan dan notif pemberitahuan," jawab Randu seraya membelai rambut Ami.


"Mentang-mentang rumah makannya terima pesanan onlen, masa nemuin pacarnya kaya lagi deliv pesanan," sungut Ami.


"Siapa yang nemuin pacar?" seloroh Randu.


"Ish, terus gue apa'an?" kesal Ami menaikkan volume suaranya.


Randu memeluk Ami lagi. Semakin mengeratkannya meski Ami berontak. "Lo itu bukan pacar, tapi calon istri," jawab Randu serius.


"Lo belum minta ke Babeh," lirih Ami yang sudah tidak memberontak lagi.


"Ini gue datang buat nemuin Babeh sama Emak."


Ami langsung menengadahkan kepalanya menatap Randu. "Serius?"


"Lo ga percaya? Padahal gue datang buat lo." Randu mencium kening Ami.


Mereka kini duduk berdua di kursi teras rumah Cici. Mereka duduk di kursi yang sama, karena Ami duduk di pangkuan Randu. Ami menyandarkan kepalanya pada bahu Randu yang semakin lebar dibanding saat masih SMA dulu.


"Lo yakin mau ketemu Babeh?"


"Kalau gue ga yakin, gue ga bakal datang ke sini."


"Randu," panggil Ami lirih yang dibalas deheman oleh pemuda itu. "Lo ga nyesel milih gue?"


"Kenapa harus nyesel?"


"Gue kan ...."


"Pantes aja ngambil paket doang lama bener, ternyata paketnya segede gaban," sela Cici yang menyusul Ami karena lama.


"Paket segede gaban apa'an, Ci?" tanya Leni yang ikut keluar.


Ami langsung turun dari pangkuan Randu. "Sirik aja lo. Ga tau apa gue lagi rindu berat."


"Udah tau si rindu berat, ngapain lo bawa-bawa. Kasiin aja si rindu sama dilan, biar makin berat sekalian," omel Cici.

__ADS_1


"Terus nobar kita gimana?" tanya Leni.


"Lo mau ngajak gue kencan ga?" tanya Ami pada Randu.


Randu melihat jam tangannya. "Baru jam delapan, bolehlah kita jalan," jawab Randu.


"Enak bener lo mau pergi berdua. Ga jadi di rumah lo karena entar gue sama Bang Arman mulu, sekarang di rumah Cici lo malah mau pergi berdua sama Randu. Gimana sih?" tanya Leni kesal.


"Iya, kan kita udah janjian malam minggu ini kita bertiga," sambung Cici.


"Ya maaf, gue kan ga tau kalau ada paket dari Bandung," sesal Ami. "Tapi gue kangen sama dia," tambah Ami merangkul lengan Randu.


"Hai, Ci," sapa seorang pemuda yang baru datang.


Trio Kiyut serta Randu menoleh pada pemuda yang baru datang.


"Fadli? Hai," kejut Cici karena tidak menyangka jika gebetannya akan datang.


"Nah! Tuh lo ada si Ferguso, Ci," tunjuk Ami pada Fadli.


"Fadli, Bakmi! Bukan Ferguso!" protes Cici kesal.


"Gue gimana? Nobarnya gimana?" tanya Leni memelas.


"Lo telepon Bang Arman aja. Nobarnya bubar," jawab Ami.


"Kalau lo berdua kan bisa tiap hari ketemu, kalau gue kan jarang," balas Ami.


Akhirnya, acara nonton bareng pun benar-benar bubar. Ami pergi kencan dengan Randu, Cici diajak malam mingguan oleh gebetannya dan Leni, dia akhirnya meminta Arman menjemputnya di rumah Cici. Benar juga kata Trio Kiyut, nobarnya bubar gara-gara paket yang bikin ambyar!


***


Gedung bioskop di dalam mall. Di sinilah Ami dan Randu berada. Mereka memutuskan menonton film dalam rangka acara kencan mereka. Ami menyandarkan kepalanya di bahu Randu dengan tangan Randu merangkul bahunya.


Sebelah tangan Randu memegang minuman dingin, sementara Ami memegang cemilan dan sesekali menyuapi Randu. Sesekali Randu mencium puncak kepala Ami dan menyodorkan minuman itu padanya. Mata Ami fokus melihat film di layar besar itu.


"Kangen banget ya sama gue?" tanya Ami setelah entah untuk keberapa kali Randu mencium puncak kepalanya.


"Emang ga boleh ya?" Randu mengeratkan tangannya yang merangkul bahu Ami.


"Ga boleh!" jawab Ami didetik berikutnya. Bibir Randu yang semula di puncak kepala Ami terangkat. Ami segera mendongak untuk menatap kekasihnya. "Kalau sama cewek lain."


Ami tersenyum karena sukses mengerjai Randu. Sementara Randu, dia masih diam dan kini melepaskan pelukannya pada bahu Ami. Dia memilih melihat layar lebar di depannya yang masih menampilkan adegan demi adegan film.


Senyum Ami sirna kala melihat tatapan Randu berbeda. "Ran, Randu," panggil Ami tapi tidak mendapat respon dari pangeran kuda hitamnya. "Randu," ulang Ami berusaha mendapat perhatian Randu.


Ami mengerucutkan bibirnya. "Maaf, gue cuma bercanda," sesal Ami tapi Randu masih belum bereaksi.

__ADS_1


"Filmnya udah selesai. Kita cari makan dulu sebelum pulang," ucap Randu datar. Dia kemudian berjalan keluar gadung bioskop.


Ami masih memanyunkan bibirnya dua senti. Fiks! Randu marah. Biasanya pemuda itu selalu menggandeng tangannya selama mereka jalan berdua. Kini, Randu berjalan begitu saja mendahului Ami tanpa menautkan tangan mereka.


Mereka makan di kedai pecel lele kesukaan Ami. Randu masih diam dan Ami masih manyun. "Randu," panggil Ami sekali lagi sebelum menyantap lele goreng beserta sambelnya.


"Cepet makan keburu dingin, ga enak. Lagian ini udah malam, jangan buat Emak sama Babeh khawatir karena anak gadisnya belum pulang," ucap Randu, masih datar.


Ingin rasanya Ami menangis, tetapi itu bukan dirinya. Dia gadis yang tangguh, pemberani dan barbar. Apa jadinya jika gadis barbar dan somplak seperti dia menangis?


Jangan berpikir Ami tidak pernah menangis. Dia masih manusia biasa yang akan menangis jika terluka. Masih ingat saat Randu pulang begitu saja dari acara reuni?


Ami menangis saat itu. Saat merasa Randu menolaknya untuk kesekian kalinya. Padahal dirinya sudah berjuang untuk mendapatkan hati pengeran berkuda hitamnya itu.


Akhirnya Ami makan dalam diam. Susah payah dia berusaha menelan nasi dan pecel lele yang biasanya ludes dalam hitungan dua menit itu. Setiap suapan dia mengaliri tenggorokannya dengan es teh tawar agar makanan itu bisa masuk untuk berjalan-jalan di ususnya menuju lambung.


Ami menahan hingga tetes keringat penghabisan agar air tidak jatuh dari indera penglihatannya. Setelah makanan habis, Randu langsung mengantarnya pulang. Selama perjalanan, hanya suara angin malam dan deru kendaraan lain yang tertangkap oleh indera pendengarnya. Ami memeluk pinggang Randu serta menyandarkan kepalanya pada punggung pemuda itu.


Hingga sampai rumah Ami, hening masih tercipta diantara dua insan muda itu. Ami memberikan helm yang tadi dipakainya pada Randu. Wajahnya masih sendu, tanpa senyum ceria yang biasanya selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Randu, maaf. Lo marah sama gue?" tanya Ami pelan.


"Gue ga marah, cuma capek. Lo masuk gih, udah malam," jawab Randu masih datar.


Ami memilih diam lalu masuk ke rumah setelah mengucapkan selamat malam dan hati-hati pada Sang pujaan hati. Ami langsung diberondong pertanyaan dari Emak kenapa tidak jadi menginap di rumah Cici. Dia hanya mengatakan sedang mengantuk dan langsung masuk kamar.


Ami tidak bisa tidur. Sulit sekali matanya terpejam, mungkin karena perasaannya yang tidak menentu dengan sikap Randu barusan. Dia merasa jika kekasihnya itu marah padanya.


***


Pagi ini Ami bangun dengan perasaan yang galau. Dia masih teringat dengan sikap Randu padanya semalam. Apa gue ke rumah Pamannya aja kali ya? Tapi ....


Ami melhat keranjang pakaian kotornya yang sudah menumpuk. Cucian gue banyak ... , keluh Ami dalam hati.


Ami pun mencuci pakaiannya di belakang rumah sekalian menjemurnya. Selesai menjemur, Ami mendengar panggilan Emaknya. Ami segera mendatangi Sang emak di dapur.


"Mi, bikinin minuman empat ye. Emak sama Babeh ada tamu," pinta Emak yang diangguki Ami.


Ami membuatkan empat cangkir teh panas untuk tamu Emak dan Babeh. Dia berjalan malas ke ruang tamu dengan membawa baki. Pikirannya kembali melayang ke kejadian semalam.


Huh, kalau Randu masih marah, ga mungkin deh nanti siang dia ke sini. Batal deh dia minta gue ke Babeh. Dasar mulut ga ada akhlak!


**Cirebon, 7 April 2022


Makanya, Mi. Mulut diajarin akhlak biar dipikir kalau ngomong. Nyesel kan jadinya? Apalagi kalau sampai pangeran kuda hitamnya itu tidak jadi datang ke rumahnya siang nanti.


Dah lah, jangan mikirin Ami yang lagi galau. .

__ADS_1


__ADS_2