
"Aaa!" teriak Sesil saat melihat wajahnya.
"Jangan kenceng-kenceng teriaknya. Ini rumah sakit," sembur Ami.
"Kalau ga kenceng namanya bukan teriak," balas Toto.
"Kenapa muka gue? Gue ga mau codetan, gue ga mau bopengan," racau Sesil pelan melihat pantulan wajahnya di layar datar benda pipih itu. Dirabanya pelan luka-luka yang terdapat di wajahnya.
"Lo yang sabar ya," hibur Ami.
"Sabar, sabar! Muka cantik gue jadi jelek dan nyeremin kaya gini gara-gara lo! Lo enak banget cuma luka dikit doang! Harusnya lo yang luka begini! Gue sumpahin lo bakal dapat luka yang lebih jelek dari ini!" teriak Sesil tidak terima wajahnya rusak.
"Heh! Semua yang terjadi pada kita tuh karena ulah kita sendiri! Lo sering banget jelek-jelekin orang, makanya sekarang muka lo jadi jelek! Itu karma!" balas Ami yang tersulut emosi.
"Mi, udah, Mi. Dia lagi syok." Toto berusaha mencegah perdebatan dua gadis itu.
"Biarin! Gue kesel! Gue mau berempati malah disumpahin," gerutu Ami. "Itu peringatan buat lo! Biar lo ga seenaknya jelek-jelekin orang tau gak!"
"Pokoknya gue gak rela! Gue bakal buat muka lo jadi rusak juga!" teriak Sesil emosi.
"Tadi harusnya kita ga usah bawa dia ke rumah sakit, To. Mending langsung kita anter pulang aja terus kita turunin di depan rumah dia," kesal Ami memandang sinis pada Sesil.
"Pokoknya gue ga mau kaya gini! Gue ga mau kalah lagi dari lo! Lo tuh kismin dan ga modis, ga level jadi saingan gue! Gue benci lo!" teriak Sesil histeris.
Mendengar teriakan Sesil, seorang suster mendatangi mereka dan berusaha menenangkan gadis itu. Toto yang melihat suster itu kewalahan pun membantu menenangkan Sesil. Ami sendiri menatap sinis pada gadis itu.
Sebenarnya Ami kasihan pada Sesil. Tetapi sikap Sesil yang menyebalkan menurut Ami membuatnya kesal. Apalagi gadis itu tadi menyumpahinya, membuat Ami bukan hanya kesal tapi marah pada gadis itu.
"Dasar kuntilanak nyebelin! Ditolong bukannya makasih, malah nyumpahin. Sukurin muka lo jadi rusak, biar lo ga semena-mena sama orang lain. Biar lo insaf! Sebelum lo jelek-jelekin orang lo ngaca dulu biar malu." Ami menggerutu.
Sesil sudah mulai tenang meski napasnya naik turun karena emosi. Matanya menyorot tajam pada Ami. Dia benar-benar tidak rela jika wajahnya rusak seperti itu, sementara Ami hanya luka sedikit.
Gue ga rela! Ini ga adil! Kenapa Tuhan selalu buat gue kalah dari dia? Dia ga cantik, dia juga ga tajir. Tapi kenapa gue selalu kalah dari dia? Randu milih dia buat jadi pacarnya. Ardi macarin gue tapi dia udah pacaran duluan sama Ami. Pokoknya ini ga adil! Apa sih lebihnya dia dari gue?
"Telepon keluarga Sesil aja, Mi," pinta Toto saat Sesil sudah sedikit tenang.
"Ogah! Kalau mau hubungi keluarga dia, lo aja," tolak Ami kesal.
"Ya'elah, Mi. Keadaan kaya gini lo ngambek," celetuk Toto.
"Gue mau hubungi keluarga gue. Mau minta jemput Bang Arman," ucap Ami.
"Ponsel lo kan mati," ucap Toto mengingatkan Ami tentang ponselnya yang mati.
"Ya pinjem ponsel lo lah! Jangan bilang lo ga ada pulsa atau kuota," tuduh Ami.
"Sembarangan! Ga ada sejarahnya seorang Toto kehabisan pulsa atau kuota," ucap Toto jumawa.
__ADS_1
"Ya makanya sini ponsel lo. Gue mau hubungi Bang Arman." Ami menyodorkan tangannya pada Toto.
"Gue ga punya nomor Abang lo."
"Tapi nomor Leni atau Cici punya 'kan?"
"Kalau dua makhluk itu ada."
"Dua makhkuk itu bestie gue!" omel Ami.
Ami mengambil ponsel Toto dari tangan pemuda itu. Sementara Toto sendiri menghubungi keluarga Sesil dengan ponsel Sesil. Ami menelepon Leni, berharap sahabatnya itu masih terjaga.
"Angkat dong, Len. Bangun," resah Ami.
"Halo ...." Terdengar suara serak Leni di seberang sana setelah beberapa menit.
"Len, lo masih melek 'kan?" tanya Sesil.
"Tadi sih tidur, sekarang melek gara-gara lo."
"Sori, gue ganggu malam-malam. Tolong teleponin Bang Arman dong buat jemput gue di rumah sakit."
"What? Rumah sakit?" teriak Leni di seberang telepon membuat Ami menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Gue ga budek! Ga usah teriak!"
"Iya gue balik ke Jakarta bareng Toto dan si kuntilanak." Ami melirik kesal pada Sesil. "Mobil Toto nabrak pohon dan sekarang kita bertiga di rumah sakit."
"Kuntilanak? Dia nyusul ke Bandung?"
"Iya bareng Toto."
"Keadaan lo gimana?"
"Gue baik-baik aja, cuma luka dikit di jidat. Yang agak serem si kuntilanak."
"Emang kenapa si kuntilanak?"
"Jidat dia benjol kena benturan dan pipinya kegores."
"Makin serem dong dia."
Setelah berbicara panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya Ami mengutarakan maksudnya menelepon Leni. Meminta gadis itu menghubungi kakaknya yang notabene kekasih sahabatnya itu, untuk menjemput dirinya di rumah sakit. Ami pun mengakhiri panggilannya pada Leni.
"Gue udah hubungi orang tua Sesil," ucap Toto saat Ami berbalik.
"Mereka nanti ke sini 'kan?"
__ADS_1
"Iya."
Ami dan Toto menemani Sesil yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sesil masih menatap Ami dengan horor. Dia belum bisa terima jika wajahnya menjadi buruk rupa.
"Semua ini gara-gara lo. Coba kalau lo ga ikut pulang bareng kita, gue ga akan celaka kaya gini. Waktu berangkat berdua bareng Toto aman-aman aja kok," tuduh Sesil yang membuat emosi Ami naik ke permukaan.
"Ini musibah ya! Dan kalau muka lo ancur nyeremin kaya gitu, itu karma atas perbuatan lo. Biar lo ngaca dulu kalau mau jelek-jelekin orang. Bukannya tobat lo malah ngehujat!" balas Ami sarkas.
"Kalian bisa ga sih ga berantem? Kita kena musibah dan musibah itu dari Tuhan. Jadi kita ga bisa saling menyalahkan," sela Toto.
"Tumben lo bijak." Ami mengacungkan jempolnya pada Toto.
"Dari dulu kali. Lo nya aja yang diliat Randu doang."
"Randu! Gue lupa belum hubungi Randu lagi!" Ami tersentak karena lupa mengabari kekasihnya itu. (Kenapa author suka senyum sendiri ya tiap nulis Randu kekasih Ami? Dah lah lupakan author gaje ini 😅😅)
"Tapi kenapa mesti gue yang mukanya rusak? Kenapa bukan dia?" rengek Sesil menunjuk Ami yang sudah menempelkan ponsel Toto di telinga kanannya.
"E, e, mulai lagi. Dasar kuntilanak! Lo makhluk pilihan Tuhan yang dipilih buat menerima musibah biar lo tobat!" seru Ami.
"Halo ... lo baik-baik aja 'kan, Mi? Ga serius 'kan lukanya? Lo masih di rumah sakit?" Randu masih mencemaskan kekasihnya.
"Gue ga apa-apa. Gue emang masih di rumah sakit bareng Toto buat nemenin si kuntilanak. Nunggu sampe keluarganya dateng baru gue pulang."
"Syukurlah kalau lo ga apa-apa. Luka Sesil serius?"
"Sebenarnya sih cuma luka ringan, tapi dia heboh dan histeris karena ga mau mukanya jadi kaya kuntilanak beneran." Ami menahan tawa sambil melirik Sesil yang sudah melotot ke arahnya.
"Ya udah lo bobo yang nyenyak ya, gue ga apa-apa. Inget mantranya sebelum tidur, setelah baca doa lo sebut nama gue tiga kali biar mimpi lo indah," ucap Ami mengakhiri teleponnya dengan sang pujaan hati.
"Muntah gue kalau punya cewek kaya lo, Mi," cibir Toto.
"Makanya gue ga napsu sama lo. Biar ga dicibir terus sama lo," balas Ami santai.
"Kena kutukan dari mana si Randu yang pinter dan pendiam bisa suka sama makhluk barbar kaya lo."
"Eh, kena kutuk, dapat berkah dia bisa jadian sama gue karena gue makhluk langka."
"Iya makhluk langka yang harusnya dipajang di museum bukan berkeliaran!" sela Sesil.
"Bagaimana keadaannya?" tiba-tiba sebuah suara menyela pembicaraan mereka.
**Cirebon, 31 Maret 2022
Akhirnya bisa up juga setelah down beberapa hari gegara kepala sakit. Ditambah ponselku eror, udah ngetik 400 an kata lenyap tak berbekas. Selamat baca, jangan lupa tekan like, kasih komen, beri bunga lagi ngarepin 😆😆😉
Sambil nunggu Ami up lagi, monggooo baca karya teman Emak yaaa. Ceritanya seru ini, genre fantasi. Buat yang suka fantasi pasti syukaaa**.
__ADS_1