Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
50. Lamaran


__ADS_3

"Terus, kapan nikah?" tanya Babeh lagi pada Ami dan Randu.


"Secepatnya," "Terserah Babeh," jawaban yang sangat kompak waktunya tetapi tidak dengan jawabannya. Ami dan Randu saling pandang.


"Siapa yang mau nikah? Ga bisa gitu!"


***


Pantai Anyer, di sinilah Ami dan Randu berada. Setelah debat dengan Sang abang kemudian lanjut makan siang, Randu mengajak Ami kencan. Sebelum itu, Randu mengantar ibunya terlebih dahulu ke rumah paman.


Flashback on


"Siapa yang mau nikah? Ga bisa gitu!" sela Arman yang baru saja pulang.


"Ish, Abang gimana sih? Masa adik sendiri mau nikah ga boleh?" protes Ami.


"Justru karena lo adek jadi ga boleh nikah duluan. Harusnya kan gue dulu yang nikah karena gue Abang lo!"


"Dih! Kalau adeknya cewek mah boleh-boleh aja kali nikah duluan," protes Ami lagi.


"Udeh, udeh. Napa kalian pada ribut sih! Babeh kagak masalah siape yang lebih dulu kawin. Kalau udah siap, udah ada jodohnya, lu boleh pada kawin. Kawin barengan berempat juga Babeh kagak masalah," putus Babeh.


"Berempat? Ogah!" tolak Ami dan Arman kompak.


"Lu berdua kalau masalah kaye gini aje kompak bener." Babeh geleng-geleng kepala. "Gini aje. Man, lu udeh ade jodohnye?" tanya Babeh.


"Ada," jawab Arman.


"Dana?" Arman diam, dia malah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Lu," ucap Babeh menunjuk Randu.


"I-iya, Beh," gagap Randu.


"Lu udeh ade dananye buat kawin?"


"Ada, Beh," jawab Randu.


"Lu udeh siap nikah?"


"Siap, Beh."


"Nah lu, Mi. Lu siap punya laki terus punya anak?" tanya Babeh pada Ami.


"Siap lah, Beh, kalau sama dia," tunjuk Ami pada Randu.


"Ya udeh, Ami duluan yang kawin. Lu kumpulin duit lagi kalau mau ngasih makan anak orang," pesan Babeh pada Arman.


"Siapin pelangkah buat gue," pinta Arman.


"Tenang, entar kita beli di Tanah Abang," sahut Ami.


"Tanah Abang? Ogah bener. Gue pengen yang rada kerenan dikit," tolak Arman.

__ADS_1


"Dih! Minta dibeliin ngelunjak!"


"Suruh siapa langkahin yang lebih tua!"


"Cowok nikah tua ga apa-apa, Bang. Lo mau adek lo yang imut ini dibilang perawan tua?"


"Huwekkk! Imut apanya." Arman sedikit kesal pada Ami. Tapi iya juga sih. Duit gue belum cukup buat ngawinin anak orang. Si kuda item banyak juga berarti duitnya ya.


Flashback off


Mereka duduk di pembatas pantai Anyer. Ami menyandarkan kepalanya di bahu Randu, tangan mereka saling bertaut. Sepoinya angin mempermainkan surai panjang Ami, hingga Randu sesekali merapikannya dengan tangan satunya.


"Mi ...." panggil Randu. Gadis itu hanya diam, tidak merespon panggilannya. "Mi ...." Kembali Randu memanggil.


Tidak mendapat respon dari gadis di sampingnya, Randu berusaha melihat wajah gadis itu. "Yah, tidur ternyata." Randu hanya bisa mendesah mendapati kenyataan kekasihnya tertidur di bahunya saat kencan. Ck, ck, ck.


Akhirnya Randu diam. Membiarkan gadis itu tidur di bahunya. Meski bahu dan lengannya terasa nyeri, dia tetap bertahan agar tidak mengganggu gadis itu.


Sang surya sudah menggelincir di ufuk barat. Randu merasakan pergerakan di sampingnya. Cakrawala berwarna jingga saat Ami membuka mata. Dia mengusap matanya untuk menormalkan penglihatannya.


"Maaf ketiduran. Gue lama ya tidurnya?" tanya Ami lalu menutup mulutnya saat menguap.


"Lumayan bikin tangan gue pegel," jawab Randu tersenyum.


Ami mengerucutkan bibirnya. "Ini kan gara-gara lo," kesal Ami. Die menegakkan tubuhnya dari bahu Randu.


"Kok gue?"


"Lo semalam diem aja. Gue pikir lo ngambek, gue kan jadi kepikiran terus sampe ga bisa tidur."


"Lo serius 'kan? Ga bakal nyesel nikah sama gue?" tanya Ami lirih.


Randu mencium kening Ami. "Lo itu udah gue temukan dari tumpukan jerami, dan gue udah memilih buat nikah sama lo. Jadi gue ga akan nyesel."


"Tumpukan jerami? Rada keren dikit kek perumpamaannya." Ami mengerucutkan bibirnya lagi.


"Ga usah manyun, entar gue gigit bibir lo," goda Randu.


"Ish, kanibal."


"Pulang yuk," ajak Randu.


"Bentar napa. Pengen mesra-mesraan liat matahari tenggelam," tolak Ami.


Randu pun menuruti keinginan calon istrinya itu. Dia tersenyum tipis mengingat gadis barbar di sampingnya itu kini sudah berstatus resmi sebagai calon istrinya. Ya, calon istri sejak siang tadi dia melamar gadis itu.


"Mau jalan di pasir pantai?" tawar Randu.


"Mau banget!" seru Ami antusias.


Randu berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Ami disertai senyum menawan. Ami terpesona entah untuk keberapa kali pada pemuda itu. Tubuh tinggi tegap, atletis, ditambah wajah tampannya yang semakin menawan diterpa semburat jingga matahari senja.


Siapa yang dapat menolak pesona itu? Dengan sigap Ami berdiri menyambut uluran tangan pemuda di depannya. Mereka kemudian berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai berpasir dengan panorama lembayung senja di Anyer.

__ADS_1


***


Saat pulang ke rumah Ami, di sana sudah ada Leni dan Cici. Mereka berdua berdiri menyambut Ami dengan kedua tangan di pinggang dan wajah garang. Lengan baju mereka yang sudah pendek mereka singsingkan hingga bahu.


"Bakal ada huru-hara ini," gumam Randu setelah melepas helm.


"Lo tega ya, Mi. Lamaran ga bilang-bilang ke kita," protes Cici.


"Iya. Kalau Bang Arman ga cerita, mungkin sampe kiamat kita berdua ga bakal tau kalau tadi siang lo dilamar," sambung Leni.


"Lebay banget sih, Len, sampe kiamat," ucap Ami santai. Dia menggandeng tangan Randu agar masuk rumah.


"Tadi si ...."


"Stop! Lo diem, keenakan dia dibela terus sama lo," cegah Cici menunjuk Ami dengan dagunya.


"Masa bela calon istri ga boleh," protes Ami.


"Bodo amat!" seru Cici dan Leni kompak.


Cici menarik Ami lalu mendudukkannya di kursi ruang tamu. Mereka bertiga duduk di kursi tamu yang panjang, Ami duduk diantara mereka. Sementara Randu di kursi tamu tunggal.


"Cerita ke kita, kenapa lo ga bilang-bilang dilamar sama si kuda item," todong Cici.


"Gue aja kagak tau. Dia bilang mau ke sini siang dan ga bilang mau ngelamar. Eh, taunya ke sini pagi gue abis nyuci. Sama Ibunya lagi. Pokoknya lamaran gue ancur banget deh," cerita Ami.


"Ancur gimana?" tanya Leni.


"Ya ancur. Dia ga bilang kalau dia mau ke sini sama Ibunya buat ngelamar gue. Emak juga cuma nyuruh gue bikinin minuman buat tamunya, ga bilang kalau tamu itu dia sama Ibunya," jujur Ami.


"Terus, lo ga dandan?" tanya Leni.


"Boro-boro! Gue cuma pake celana selutut sama kaos oblong doang. Pengen dandan, aer mata gue keluar terus karena terharu gue dilamar. Jadinya bedak ga mau nempel di muka gue," gerutu Ami kesal mengingat lamarannya yang jauh dari kata sempurna dan romantis.


"Tapi sah 'kan lamarannya?" tanya Cici.


"Lamaran? Siapa yang dilamar?"


**Cirebon, 9 April 2022


Siapa tuh yang kaget denger kata lamaran? Kamu ya? 😅😅. Tunggu part selanjutnya yaaa. Tinggalkan like dan komen kalian dong buat Ami. Hadiah juga boleh yaaa. Ami suka kopi kaya Emak, tapi kalau adanya setangkai bunga juga ga apa-apa 😁😁.


Heey baca juga karya teman Emak yaa. Ini karya milik kak OKTAVIA HAMDA ZAKHIA yang berjudul DUDA CASANOVA TERJERAT CINTA GADIS BARBAR


Blurb :


Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.


Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.


Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.


Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?

__ADS_1


Ikuti kisah perjalanan mereka** ....



__ADS_2