Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
29. Sesat


__ADS_3

RANDU tersenyum canggung, tidak enak hati pada semua pengunjung kedai yang memperhatikan mereka. Sampai dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, atau memang sebenarnya ada kutunya. Tapi masa sih, cowok setampan Randu punya kutu? Ami pasti tidak rela jika pangeran kuda hitamnya diciumi kaum imut berwarna hitam yang bikin gatal.


"Udah belum makannya? Awas jarinya ikut kemakan." Tanya Randu yang melihat Ami sangat asik mengulum jari-jarinya untuk membersihkan sisa-sisa durian.


Malu? Mungkin, tapi sedikit. Randu lebih menyukai sosok Ami yang tidak pernah menutupi jati dirinya dengan berpura-pura seperti gadis yang anggun dan berperilaku seperti putri bangsawan. Randu menyukai Ami yang apa adanya, yang tidak berpura-pura baik untuk membuat orang tertarik.


"Bentar, cuci tangan dulu." Ucap Ami. Dia pun mengambil air dari ember yang disediakan oleh pemilik kedai.


"Bukan orang Bandung ya, Neng?" Tanya salah seorang Bapak pengunjung kedai.


"Bukan, Pak." Jawab Ami tersenyum.


"Ayo." Ajak Randu. "Mangga, Kang, Teh, kami duluan." Pamit Randu sopan.


"Mangga..."


"Mau ngajak ke mana lagi? Udah kenyang nih, siap menjelajah Bandung." Tanya Ami dengan percaya diri.


"Siapa juga yang mau ngajak lo jalan-jalan."


"Terus lo bilang ayo, maksudnya apa?" Ami tidak mau memakai helmnya sebagai protes karena kecewa Randu tidak mengajaknya menjelajah kota Bandung lagi padahal dia masih ingin.


"Pulang." Randu memakaikan helm Ami. Ami semakin cemberut. "Ga usah manyun, nanti ada yang motong bibirnya."


"Lo nyuruh gue pulang ke Jakarta? Ini udah mau malam, Randu. Lo ga takut gue diculik atau dirampok atau---"


"Ga ada yang mau nyulik lo, lo makannya banyak suka ngelunjak lagi kalau ada yang nraktir." Randu memotong ucapan Ami dengan candaan.


"Ihh, ngeselin banget punya cowok! Tau gini ga bakal gue ngejar lo sampe ke sini! Balikin gue ke rumah Emak!" Seru Ami kesal tapi didramatisir.


Bukannya marah, Randu malah memaksa Ami duduk di boncengan motornya dan langsung melajukan kuda besi itu. Dia tidak ingin berdebat lebih lama dengan cewek labil itu di depan banyak orang karena tadi dia melihat beberapa orang mulai cengengesan karena merasa lucu dengan ucapan dan tingkah Ami.


"Pegangan!" Titah Randu karena Ami tidak mau berpegangan padahal dia melaju lumayan kencang.


Ami tidak menuruti perintah cowok di depannya, dia masih kesal karena cowok itu mengajaknya pulang. Percuma gue bawa baju ganti kalo ujung-ujungnya langsung balik lagi. Gue sengaja dateng hari Sabtu biar bisa malam Mingguan. Eh,,, malah suruh balik.


Seperti saat berangkat tadi, Randu menuntun tangan Ami agar memeluknya. Ami menyandarkan kepalanya pada punggung Randu serta mengeratkan pelukannya. Randu menghentikan laju kuda besinya saat merasakan punggungnya menghangat.


Ami enggan melepaskan pelukannya pada Randu saat motor yang dikendarainya berhenti. Selain itu, dia tidak ingin cowok di depannya melihatnya menangis.


"Lo nangis?" Tanya Randu menoleh ke belakang karena Ami tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang Randu. Randu melepas helmnya.


"Gue ga mau pulang. Percuma gue bawa baju ganti kalau ga nginep di sini. Sia-sia dong punggung gue bawa beban tapi ga dipake."

__ADS_1


"Siapa yang nyuruh lo pulang?"


"Lo!"


"Gue ga nyuruh lo--"


"Tadi lo bilang pulang!" Ami merajuk.


"Bukan pulang ke Jakarta, Yang. Pulang ke rumah gue."


"Eh, coba ulangi!" Pinta Ami tersentak.


Randu sedikit salah tingkah, dia sendiri tidak sadar jika dia memanggil gadis di belakangnya dengan sebutan 'Yang'.


"Ga ada ulangan karena bukan sekolah!" Ucap Randu cepat.


"Tapi gue udah denger! Dan gue seneng banget!"


Ami memajukan bibirnya hendak mencium pipi Randu, tapi..


Dukk!!


"Aww!!" Ringis Ami saat helm bagian depannya menabrak helm Randu yang baru saja dipakai lagi. "Ngapain sih dipake lagi helmnya!?"


"Tapi kan gue jadinya gagal nyium lo!" Protes Ami kesal.


Randu tidak membalas, dia memilih melajukan kembali motornya untuk mengusir debaran di dadanya. Ami pun mau tidak mau berpegangan lagi pada Randu karena tidak ingin terjatuh.


Randu menghentikan motornya di halaman rumah. Dia sedikit terkejut saat di teras rumah sudah ada seorang gadis yang menunggunya ditemani Lisna, adiknya. Langit sudah gelap karena sang surya sudah tenggelam sejak beberapa jam lalu.


"Dari mana aja sih!? Aku udah nunggu dari tadi!" Tanya gadis yang tak Ami kenal dengan nada marah.


"Bukan urusan kamu." Jawab Randu dingin.


"Teh Intan sejak habis magrib nungguin, A." Beri tahu Lisna.


Ami tidak suka pada cewek itu! Siapa dia? Berani-beraninya membentak pangeran kuda hitamnya seolah-olah Randu adalah budaknya.


"Siapa dia!?" Tanya cewek bernama Intan dengan nada yang jelas sekali menunjukkan ketidaksukaannya.


"Kenalin, gue Ami. Teman tapi mesranya Randu sejak SMA."


Bukan Ami namanya jika dia terintimidasi. Cewek yang terkenal labil dan barbar itu tidak akan mati gaya hanya karena seorang cewek yang mengibarkan bendera perang padanya. Cukup Randu yang bisa membuatnya tersipu dan salah tingkah, itu pun tidak selalu. Sifat cuek dan kadang sotoy-nya ternyata bisa membantunya menyembunyikan kegugupannya di depan orang lain.

__ADS_1


"Apa maksud kamu dengan teman tapi mesra?" Tanya Intan lagi.


Ami menggamit lengan Randu, merangkulnya mesra. "Ya kaya gini. Mesra kan?" dengan sengaja Ami menyandarkan kepalanya pada bahu Randu.


"Randu, jelasin ke aku! Siapa dia!? Kenapa dia peluk-peluk kamu!?" tuntut Intan.


"Lebih dari yang Ami katakan." Jawab Randu penuh arti.


"Maksudnya?" Intan belum mengerti.


"Lo ga bodoh, kan? Gue bilang, kita teman tapi mesra. Dan Randu bilang, kalau kita itu lebih dari yang gue bilang. Udah ngerti dong sampe situ?"


Intan masih menatap Randu dan Ami bergantian karena belum terlalu paham.


"Duh, tangan gue gatel. Mendingan ribut sama si kuntilanak dari pada sama lo. Kalo sama si kuntilanak gue bisa jambak dia ampe puas!" Ucap Ami tak sabar.


"Kuntilanak kan serem, Teh. Kok Teh Ami berani." sela Lisna.


"Nanti gue cerita." Balas Ami singkat.


"Randu, kita teh harus bicara.." pinta Intan berusaha menarik tangan Randu.


Ami menepis tangan Intan yang hendak menarik Randu. "Kalo lo mau ngomong, ngomong aja. Ga perlu ngumpet-ngumpet. Gue aja dulu nembak Randu di tampat umum ga pake ngumpet."


"Wah! Teteh keren pisan.. Pemberani! Aku mah ga berani, sieun." Lisna menyela lagi.


"Eh, si-sieun itu apa?"


"Takut, Teh. Takut ditolak."


"Kalo lo takut atau malu, lo ga bakal tau cowok itu suka apa enggak sama lo."


"Jangan ikuti dia, Lisna. Sesat!" Kata Randu.


"Sesat apanya? Buktinya sekarang gue sama lo. Kalo gue sesat, lo juga sesat! Enak banget ngatain orang!" Protes Ami.


"Randu... Kok aku dicuekin?" rajuk Intan.


Ami dan Randu sama-sama menoleh. "Lah..."


Cirebon, 3 Maret 2022


__ADS_1


__ADS_2