Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
54. Pentungan Satpam


__ADS_3

"SAH!" ucap beberapa saksi.


Ami ikut bersorak bersamaan dengan saksi. "Sah! Yess! Sah!" soraknya bertepuk tangan lalu mengangkat kedua tangannya.


Semua yang hadir sempat ternganga melihat tingkah Ami. Emak, Babeh dan Arman menepuk kening masing-masing. Tetapi beberapa detik kemudian, suasana akad nikah yang khidmat itu berubah menjadi ramai dengan suara tawa para hadirin.


"Enggak bisa! Pernikahan ini ga sah!"


Semua yang hadir memalingkan kepala mereka ke arah sumber suara. Sepasang muda-mudi berjalan ke tempat Ami dan Randu berada. Mereka berdua menatap pasangan pengantin baru itu dengan tajam.


"Ngapain si kuntilanak sama genderuwo ke sini?" tanya Cici berbisik pada Leni.


"Mana gue tau. Paling mau cari masalah," jawab Leni balas berbisik.


"Di sini ga ada yang buang masalah, dia cari masalah. Awas aja," geram Cici.


"Ami sudah merebut Randu dari gue!" seru si kuntilanak, eh Sesil.


"Ya, Ami itu pacarku! Dan cowok itu sudah merebut Ami dariku!" Genderuwo pun ikut berseru, salah lagi. Ardi maksudnya.


Ami berdiri, berniat menyingsingkan lengan kebayanya tetapi tidak bisa. Jiwa barbarnya meronta mendengar seruan Sesil yang menuduhnya sudah merebut Randu. Randu berusaha menahan gadis yang baru dinikahinya itu.


"Udah, Yang. Ga usah diladenin," cegah Randu.


"Ga bisa! Kalau didiemin, si kuntilanak makin ngelunjak," tolak Ami.


Ami menyingsingkan kain bagian bawah kebayanya agar lebih mudah berjalan. Dia menggerutu sendiri karena tidak bisa menyingsingkan lengan kebayanya.


"Dasar kuntilanak! Sukanya gangguin orang seneng aja! Sejak sekolah, Randu ga pernah suka sama lo! Jadi gue ga pernah rebut Randu dari lo!" bela Ami.


"Dan lo genderuwo! Lo emang cocok sama si kuntilanak! Sama-sama jahat!" seru Ami menunjuk Ardi.


"Tapi gue lebih dulu kenalan sama Randu waktu masuk sekolah." Sesil berusaha membela diri.


"Terus, kalau lo lebih dulu kenalan sama Randu lo lebih berhak dapetin dia, gitu? Ya ga bisa gitu dong, Rosalinda! Randu milih gue, dia udah nikahin gue barusan. Jadi gue lah pemenangnya!"


"Dasar kuntilanak! Kalau lo ngebet juga pengen kawin kaya Ami, noh jodoh lo udah dateng. Kuntilanak emang cocok sama genderuwo!" Cici ikut bersuara seraya menunjuk Ardi.


"Diam lo!" bentak Sesil pada Cici.


"Lo yang diam!" Arman mulai angkat suara dengan balas membentak Sesil. "Pergi dari sini sebelum gue nyeret lo berdua ke kantor kepala desa. Bila perlu, tuh penghulu masih ada, nikah aja sekalian," ucap Arman menunjuk penghulu yang masih duduk di tempatnya.


Sesil melihat pemuda di sampingnya lalu mencebikkan bibirnya. "Nikah sama dia? Ogah! Dia tukang selingkuh!" tolak Sesil keras.


"Ya udah sono cari jodoh yang lain. Jangam jadi pelakor!" bentak Ami.


"Bener tuh!" seru Leni dan Cici kompak.


"Iihh, lo bertiga tuh dasar ngeselin banget sih sejak sekolah!" pekik Sesil geram seraya mengepalkan kedua tangannya di depan dada.


"Iihh, lo tuh nyebelin banget sih sejak sekolah, kuntilanak!" Trio Kiyut balas menggeram berjama'ah menirukan ucapan dan gaya Sesil.

__ADS_1


Saking kesal, marah dan malu mix and max dihatinya, Sesil pergi dari rumah Ami seraya menghentakkan kaki. Bibirnya mengerucut dengan rahang terkatup rapat. Tanpa mempedulikan tatapan orang yang seperti meledeknya, dia kembali ke mobilnya.


"Genderuwo! Ngapain masih di sini? Sana pergi!" usir Ami pada Ardi.


"Tapi, Mi ...."


"Ga ada tapi-tapian! Gue udah nikah sama Pangeran Berkuda Hitam gue, jadi lo ke laut aje!"


"Sana pergi! Jangan rusak hari bahagia adik gue!" Arman mendorong bahu Ardi, mengusir pemuda itu pergi dari acara pernikahan Ami.


Setelah perginya sepasang makhluk pengganggu itu, acara dilanjutkan kembali. Semua keluarga dari kedua belah pihak terlihat sangat bahagia. Begitu pun sepasang mempelai yang selalu mengumbar senyum kepada semua orang.


Saat Sang Raja siang kembali ke peraduannya, maka sepasang pengantin baru itu pun kembali ke kamarnya. Rasa lelah tapi bahagia bersemayam di hati keduanya. Setelah makan malam dan membersihkan diri, mereka kini berada di kamar yang sama.


Ami yang biasanya tidak tahu malu bahkan cenderung memalukan, berada di kamar berdua dengan pangeran kuda hitamnya dibuat tidak berkutik. Tubuhnya tegang luar binasa karena di luar kebiasaannya. Randu duduk tenang bersandar pada kepala ranjang, sementara Ami, dengan ketegangan dan kecanggungan yang hakiki masih duduk di kursi meja rias.


"Mau tetap di situ? Ga mau tiduran di sini?" tanya Randu menepuk bagian ranjang di sampingnya.


"Gue takut," ucap Ami pelan.


"Takut kenapa? Gue ga bakal gigit kok." Paling masukin doang. Randu tersenyum miring.


"Ish, emang lo udah jadi kanibal?"


"Makanya sini," panggil Randu.


Akhirnya Ami menurut, duduk di ranjang samping Randu. Randu mendekat dan langsung memeluk istrinya. Mereka saling berpelukan lama.


"Apa hubungannya dengan jengkol?" tanya Ami polos.


"Jengkol kan bau."


"Jadi maksudnya gue bau, gitu?" tanya Ami tersinggung.


"Huffhh ...." Randu menghembuskan napas kasar. Apa iya pengantin baru itu sensitif?


Melihat istrinya cemberut kesal, tanpa aba-aba Randu langsung menyosor gadis yang baru dinikahinya pagi tadi. Ami yang terkejut sempat memukul lengan Randu. Dia akhirnya pasrah dan menikmati serta membalas aksi Sang suami.


Semua berjalan lancar, mereka sudah sama-sama membuka kain yang menutup tubuh mereka, sebelum kegaduhan terjadi.


"Buset! Itu pentungan satpam atau apa'an?" pekik Ami terkejut.


"Terserah mau dipanggil apa. Yang pasti dipentung pake ini pasti nikmat," balas Randu.


"Ada apa, Mi? Berisik bener," tanya Emak dari balik pintu.


"Kagak apa-apa, Mak!" Ami balas berseru. "Lo sih," geram Ami pada Sang suami.


"Udah boleh masuk belum?" tanya Randu seraya mendekati Ami.


"Stop! Gimana caranya? Itu gede banget pentungannya, mana muat?" tanya Ami bergidik ngeri.

__ADS_1


"Pasti muat, Yang. Nanti juga masuk," bujuk Randu. Dia mendekati Ami lagi, berusaha merayu Sang istri.


"Stop, stop! Bentar deh, gue sercing dulu di gugel."


"Ga usah, pasti masuk kok."


Ami tidak menggubris ucapan suaminya. Dia tetap meraih ponsel dan membuka aplikasi mbah gugel. Dia kemudian mengetik sesuatu di layar datar itu.


Cara masuk saat malam pertama yang tidak sakit


Ami masih menunggu saat layar itu memunculkan tulisan loding. Berkali-kali dia menepis tangan Randu yang sudah meraja lela ke mana-mana. "Sabar napa? Masih loding nih!"


"Ga usah sercing gugel lagi, Yang. Udah pasti masuk," ucap Randu masih berusaha membujuk Ami.


"Bentar, bentar, tuh mulai nongol, aww!"


"Mi, kenape lu? Jangan berantem!" teriak Emak dari balik pintu lagi.


"Jatoh, Mak," rengek Ami meringis. Tapi bukan karena jatuh.


"Ya'elah lu pake jatoh lagi. Malam penganten bukannya seneng-seneng, lu malah jatoh," omel Emak.


"Keluarin ga! Sakit," ringis Ami.


"Ga bisa keluar lagi, Yang. Kalau udah masuk gini susah keluarnya," ucap Randu yang membuat Ami memberenggut kesal. "Tinggal tahan aja bentar ya."


Tahan ... ya, tahan dulu ....


**Cirebon, 13 April 2022


Tahan yaaaa nunggu buka puasa


Selamat berbuka puasaaa bagi yang menjalankan. Duhh Emak bingung. Kayanya MP Ami paling ancur dehh 🙈🙈🙈


Dah lah jangan dipikirin dan jangan dibayangin. Mending baca karya temen Emak aja ya. Dari author MOMMY IDA yang berjudul PERNIKAHAN KONTRAK SANG CEO


Ululuuuu ... para penyuka CEO-CEO tampan dan mapan, yuk merapat.


Blurb:


Berbekal ijasah SMA, Putri memberanikan diri mengadu nasib di Ibukota.


Seorang gadis yatim piatu mengadu nasib di kota besar yang secara tidak sengaja memiliki hubungan dengan pengusaha muda dan menguak misteri masa lalu.


Sky Putra Gandratama, pengusaha muda yang sukses membawa perusahaannya mencapai puncak kejayaan.


Hidupnya berubah setelag bertemh dengan seorang gadis belia yang secara tidak sengaja dia undang masuk kedalam kehidupannya.


Bagaimana kisah mereka?


Misteri apa yang terjadi dimasa lalu**?

__ADS_1



__ADS_2