Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
17. Ingat Dia Lagi


__ADS_3

KARENA sudah mendapatkan fakta yang memuaskan tentang Ardi, kini Ami mulai melunak pada cowok itu. Jika dulu saat Ardi menjemputnya Ami selalu menolak, kini si cewek labil itu mulai menerima.


Ami sampai di kampus lebih cepat karena dijemput oleh Ardi, jadi tidak harus menunggu angkot lagi dan irit pengeluaran karena tidak perlu ongkos angkot.


"Pulang kuliah kita nonton yuk." Ajak Ardi.


"Gue harus jaga konter." Balas Ami.


"Lo minta ijin aja."


"Gue ga enak kalo mendadak gini. Pegawaikan cuma 2, gue sama Mba Seli."


"Tar deh gue omongin dulu sama Leni dan Cici." Ami menambahkan.


"Loh, kok sama Leni dan Cici?"


"Mereka berdua tuh sohib gue sejak SMP, jadi gue pengen nonton bareng mereka juga."


Ardi menghembuskan napasnya kasar. Setelah sampai di kampus, mereka berpisah di lobi kampus. Ami segera ke kelasnya karena sebentar lagi ada mata kuliah.


Ardi sendiri menuju kelasnya, dia mahasiswa tingkat 2 di fakultas yang sama dengan Ami. Dia bertemu dengan Joni, temannya yang waktu itu bersamanya saat dia menabrak Ami. Mereka lalu malah pergi dari kampus dan nongkrong di kafe.


"Gimana? Udah dapet?" Tanya Joni.


"Belum. Tapi pagi ini dia udah mau gue jemput." Jawab Ardi.


"Lelet! Biasanya lo cepet banget dapet cewek." Joni menyeruput minumannya. "Eh tuh, ada cewek cakep tuh!" Tunjuk Joni.


Ardi melihat kearah yang ditunjuk Joni. Di sana dia melihat seorang cewek berambut sebahu duduk sendirian, dia langsung tersenyum lebar. Jiwa lelakinya terpanggil untuk mendekati cewek itu.


"Hai, sendirian aja. Boleh nemenin?" Sapa Ardi mendekati cewek itu.


Si cewek tersenyum, "boleh."


Ardi pun langsung duduk dan menoleh ke arah Joni dengan menyembunyikan jari isarat 👌 pada temannya itu.


Di kampus


Trio Kiyut sedang makan di kantin kampus. Seperti biasa mereka tak cuma menyantap bakso ataupun mi ayam yang ada di depan mereka, tetapi juga menyantap gibahan yang beredar di kampus mereka.


"Eh, kayanya udah lama juga kita ga nonton bareng ya? Nobar yuk!" Ajak Cici.


"Iya juga ya..." Gumam Ami.


"Gara-gara lo sibuk kerja, Mi."


"Kok gue?"


"Sejak lo kerja kan kita jadi jarang nongkrong, jarang nonton, jadi jarang gibah juga." Kata Leni.


"Tadi pagi juga Ardi ngajakin nonton sih." Ucap Ami.


"Wah, kebetulan banget! Kita bisa nonton berempat ya kan.." Seru Cici.


"Kapan?" Tanya Leni.


"Minggu aja gimana?" Usul Cici.

__ADS_1


"Jangan minggu, gue ga bisa!" Jawab Leni.


"Kenapa?" Tanya Ami.


"Gue ada janji sama Bang Ar--" Leni tidak melanjutkan ucapannya, malah menekap mulutnya sambil memejamkan mata.


"Lo udah jadian sama Abang gue?" Tanya Ami penuh selidik.


"Baru deket.." Jawab Leni pelan.


"Awas aja kalo kalian udah jadian dan ga bilang-bilang ke gue, calon kakak ipar durhaka lo!" Ancam Ami.


"Emang ada, Mi?" Tanya Cici.


"Kalo ga ada ya diada-adain!"


Cici pun manggut-manggut. Merek bertiga kemudian melanjutkan makan, tapi lagi-lagi terhenti karena seruan Cici.


"Eh, kalo nobarnya hari minggu terus lo sama Ardi dan lo sama Bang Arman, terus gue sama siapa...??" Rengek Cici.


"Lo sama temennya Ardi aja!" Seru Ami.


"Joni?" Ami dan Leni mengangguk kompak.


***


HARI minggu akhirnya mereka nonton bioskop berenam. Mereka janjian bertemu di salah satu mall. Ami datang bersama Ardi mengendarai mobil Ardi. Sedangkan Leni dan Cici naik motor dibonceng oleh gebetan masing-masing.


Setelah ngobrol basa basi, mereka pun nonton bersama. Selesai nonton, mereka makan di foodcourt mall itu.


"Kalau pacaran yang baik-baik aja, jangan kaya orang udah nikah. Jagain adik gue." Pesan Arman pada Ardi.


"Lo deketin Leni ga bilang-bilang, Bang." Protes Ami.


"Terserah gue mau bilang apa enggak. Emak aja enggak tau." Sahut Arman.


"Kalian mulai kapan deket?" Tanya Ami.


"Dua bulan.." Jawab Leni dengan senyum kikuk.


"Ish! Jahat lo. Calon kakak ipar durhaka lo. Deket sama Abang gue ga bilang-bilang. Ga dapet restu lo." Omel Ami.


"Siapa juga yang butuh restu lo. Gue cuma butuh resru Emak ama Babeh." Balas Arman.


"Udah deh jangan berantem, malu-maluin tau." Leni melerai kakak beradik itu.


Pulangnya, Ami tetap bersama Ardi dan Arman mengantarkan Leni. Di jalan, Ardi berhenti sebentar untuk membeli martabak.


"Lo suka martabak?" Tanya Ami.


"Ga terlalu sih." Jawab Ardi sambil menyalakan mobilnya lagi.


"Terus beli martabak sampe 2 boks buat apa?"


"Buat orang tua kamu."


Ami sempat merona mendengar jawaban Ardi. Selanjutnya, perjalanan pulang terasa hening, sampai tiba di rumah Ami. Ami tidak melihat motor Abangnya yang menandakan Arman belum pulang.

__ADS_1


Ardi menghentikan mobilnya di depan rumah Ami. "Mi, mau ga jadi cewek aku?"


Eh, aku? Sejak kapan dia pake aku bukan gue? Ami masih membisu. Apa iya dia benar-benar menyukai cowok di sampingnya itu?


"Mau ga?" Desak Ardi.


"Mm... Emang lo suka sama gue?" Ami balik bertanya.


"Aku suka sama kamu sejak kita pertama ketemu."


Ami tersipu, merona. Setelah lama diam, akhirnya Ami mengangguk. Mungkin dia benar-benar pangeran berkuda putih yang Tuhan kirim ke gue.


"Jadi, resmi nih kita pacaran?" Ardi ingin memastikan dan Ami mengangguk sambil tersipu.


Saat Ardi akan memeluk Ami, terdengar suara klakson motor. Ardi pun langsung menjauhkan tubuhnya dari Ami. Si pengendara motor mendekati mobil Ardi lalu mengetuk kaca di samping Ami. Ami pun segera menurunkan kaca di sampingnya.


"Jangan dua-duaan di mobil berenti terlalu lama. Cepet turun!" Perintah Arman, si pengendara motor tadi.


"Apa'an sih, Bang! Gue bisa jaga diri!" Ucap Ami ketus.


Ami keluar dari mobil Ardi, begitu pun Ardi. Dia berniat pedekate pada keluarga Ami. Emak dan Babeh keluar saat mendengar suara klakson motor Arman.


"Udah pada balik.." Sambut Emak tersenyum.


"Ini Mak.." Ardi memberikan kantong plastik berisi 2 boks martabak pada Emak.


"Apa'an nih?" Tanya Emak.


"Cuma martabak, Mak." Jawab Ardi tersenyum ramah.


"Nah! Begini nih yang Emak demen, ngerti aje kalo malem Emak suka laper." Emak tersenyum semakin lebar.


"Emak malu-maluin aja." Bisik Ami.


"Ya udah, Mak, Beh, saya pulang dulu udah malam." Pamit Ardi lalu mencium punggung tangan Emak dan Babeh.


***


SEJAK malam itu Ami dan Ardi jadian, tepatnya dua bulan yang lalu. Ami merasa senang karena Ardi sering membelikan dia barang-barang yang bagus dan mahal. Ami merasa jika Ardi benar-benar pangeran berkuda putih yang selalu didambakannya.


Selesai kuliah, Ami diantar pulang oleh Ardi karena hari sudah sore. Di perjalanan, Ardi menerima chat yang membuatnya buru-buru menepikan mobilnya.


"Ada apa?" Tanya Ami heran.


"Sori banget, Yang. Aku lupa kalau hari ini Nenek aku dari Solo mau ke sini, dan aku udah dipesenin sama Mama buat jemput nenek di bandara. Tadi barusan Mama ngingetin aku." Jawab Ardi dengan wajah cemas.


"Terus aku gimana? Masa nganterin setengah jalan?"


"Ya udah, kamu lanjutin pulang naik taksi aja ya. Ini buat ongkosnya. Sori banget, Yang." Ardi memberikan dua lembar uang berwarna pink ke genggaman Ami.


Dengan terpaksa Ami turun dari mobil Ardi. Dengan menenteng kantong belanjaannya, Ami tengok kanan kiri siapa tahu ada angkot lewat. Ami baru sadar, jika dia diturunkan di pertigaan jalan.


Dia ingat, di tempat ini dulu dia juga pernah diturunkan saat akan diantar pulang oleh seseorang. Ami jadi teringat akan kenangan masa SMA nya yang mengenaskan, ditolak berkali-kali oleh orang yang sama.


Apa kabarnya dia sekarang ya? Kenapa tempat ini bikin gue inget dia?


Ami kembali memandang berkeliling.

__ADS_1


Dulu gue diturunin di sini sama Randu. Sekarang gue diturunin di sini juga sama Ardi. Bener-bener tempat pembawa sial!


Cirebon, 19 Februari 2022


__ADS_2