Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
42. Kepergok Lagi


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Ami dan Randu melepaskan pelukan mereka. Mereka sama-sama menoleh ke arah pintu. Seorang gadis dan pemuda memasuki kamar rawat Randu. Ami berdecak kesal melihat gadis itu.


"Ngapain sih kalian pake peluk-peluk segala? Kaya orang mau ditinggal perang aja," sentak gadis itu.


"Dasar kuntilanak temennya jelangkung! Ga dijemput lo suka nongol sendiri," ketus Ami.


"Hey, mana ada kuntilanak yang cantik kaya gue?" protes gadis itu, Sesil. Siapa lagi gadis yang dipanggil Ami dengan sebutan kuntilanak selain Sesil? Tidak ada.


"Lo udah mendingan, Ran?" tanya Toto, pemuda yang datang bersama Sesil.


"Ngapain lo ke sini ngajak dia?" tanya Randu tanpa menjawab pertanyaan Toto.


"Gue mau ke sini, tiba-tiba dia nongol dan merengek minta ikut. Lo tau sendiri gimana dia, pemaksa. Dia mikirnya bisa berdua sama lo," papar Toto.


"Awas! Lo duduk di tikar sono! Gue mau duduk di kursi deket Randu!" Sesil menarik tangan Ami agar menjauh dari Randu.


"Heh!" Ami menyentakkan tangannya hingga lepas dari pegangan Sesil. "Lo siapa? Datang-datang main usir aja! Harusnya lo yang duduk di tikar, dari semalam kursi ini gue yang duduki!"


"Gue calon pacarnya Randu!" seru Sesil penuh percaya diri.


"Calon pacar? Mimpi lo! Kalau mimpi jangan terlalu indah, nanti pas bangun nyeseknya minta ampun," ejek Ami.


"Stop! Kenapa malah berantem di sini sih? Ini rumah sakit bukan pasar, kalau mau berantem sana di luar!" Usir Randu yang merasa terganggu dengan pertengkaran dua gadis itu.


Toto berdiri lalu menarik Sesil keluar kamar dengan paksa. Ami yang merasa Randu juga mengusirnya hendak keluar. Tapi baru selangkah, tangannya ditahan oleh Randu.


"Mau kemana?" tanya Randu.


"Tadi lo bilang suruh keluar."


"Dia, bukan lo."


"Tapi ,,, ."


Randu menarik tubuh Ami lalu memeluknya. Ami membalas pelukan Randu. Lama mereka saling berpelukan. Ami takut jika ada yang masuk, apalagi jika Ibu kembali.


"Randu ,,, udah nanti ada yang masuk lagi." Randu tak mempedulikan ucapan Ami. Dia masih setia memeluk gadis itu. "Ran ,,, ."


"Apa sih, Yang? Pengen peluk aja ribut banget," omel Randu.


Ami mematung mendengar panggilan Randu untuknya. Pipinya memanas, untung saja pemuda itu memeluknya hingga tidak dapat melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Sayang, pemuda itu memanggil dirinya 'Yang' bisa dihitung dengan jari selama mereka pacaran. Pacaran, mengingat itu membuat Ami semakin merona.


"Ehemm ,,, ehemm ,,, ."

__ADS_1


Suara wanita berdehem membuat keduanya mengurai pelukan. Ibu sudah berdiri di pintu dan kini melangkah memasuki kamar. Ami yang salah tingkah menggerakkan tangannya ke sana kemari. Ibu duduk di tikar diikuti Ami yang juga duduk di hadapan Ibu.


"Aku akan pulang ke Jakarta, Bu," pamit Ami.


"Hari ini kamu bolos kerja ya?" tanya Ibu dan Ami mengangguk.


Randu yang semula duduk di brankarnya kini berbaring mendengar ucapan Ami. Dia masih belum rela Ami pulang hari ini. Dia ingin gadis itu menemaninya selama di rumah sakit. Tapi dia tidak boleh egois, bukan? Ami belum menjadi miliknya sepenuhnya.


"Selamat siang, Bu," sapa Sesil yang masuk kembali ke kamar rawat Randu bersama Toto.


"Selamat siang, Bi," sapa Toto.


Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi keduanya. Mereka semua duduk di tikar. Ibu menawarkan kopi yang baru saja dibelinya di kantin tadi pada Toto dan Sesil.


"Lo mau balik kapan, Mi?" tanya Toto.


"Rencana sih hari ini," jawab Ami.


"Kalau gitu pulang bareng kita aja," ajak Toto.


"Gue? Semobil sama dia?" tanya Sesil dengan nada tinggi. "Ogah!" Sesil membuang muka.


"Gue juga sebenarnya ogah semobil sama lo! Tapi demi menghemat biaya, ya ga masalah. Asal lo nanti duduk di belakang, gue yang di depan bareng Toto!" balas Ami dengan nada yang tak kalah tinggi dari Sesil.


"Alamat mobil gue bakal jadi ajang debat sepanjang jalan kenangan ini," keluh Toto.


"Ga kebalik tuh? Dari dulu juga lo yang selalu usilin gue! Dasar kunti!" hardik Ami.


"Mi," panggil Randu.


"Apa? Lo mau belain dia?" tanya Ami ketus karena panggilan Randu menurutnya untuk menghentikan dia.


"Bisa ga lo tetap di sini?" pinta Randu.


Ami yang awalnya emosi mulai mereda. Dia mendekati brankar dan duduk di kursi. Randu memgangang tangan Ami. "Gue udah bolos sehari," ucap Ami.


"Sampe gue pulang dari rumah sakit."


"Kalau gue dipecat gimana?"


"Gue udah bilang pindah aja ke Bandung, biar kita sering ketemu. Hisshh ... ." Randu meringis karena pinggangnya dicubit Ami.


"Lo pikir cari kerja gampang apa? Lo aja nolak gue berkali-kali, apalagi bos perusahaan," omel Ami.


"Ngelamarnya ke gue aja biar langsung diterima," seloroh Randu.

__ADS_1


"Dunia terbalik! Harusnya lo yang lamar gue kenapa gue yang disuruh ngelamar lo?"


"Ya ga apa-apa."


Sesil yang mendengar pembicaraan Ami dan Randu menatap mereka dangan tajam dan bibir terkatup rapat. Dia masih belum rela jika dirinya lagi-lagi dikalahkan Ami. Dulu waktu sekolah, Randu lebih suka memperhatiakn Ami. Semasa kuliah, dia berpacaran dengan Ardi yang ternyata sudah berstatus sebagai pacar Ami. Dan sekarang, saat dia baru sadar masih mencintai Randu, pemuda itu malah terang-terangan memilih Ami.


Hingga sore tiba, mereka masih menemani Randu di rumah sakit. Sesil pun masih bertahan di sana meski harus makan hati melihat Randu yang selalu menggenggam tangan Ami. Toto yang sering melihat tatapan cemburu Sesil pada Ami, tak jarang menggoda gadis itu dengan menutup kedua mata gadis itu.


"To, pulang yuk. Bete jadi obat nyamuk," ajak Sesil disertai keluhan.


"Lagian siapa yang nyuruh lo ke sini," sewot Ami.


"Ya udah, Ran. Gue balik ya," pamit Toto.


"Gue juga." Sesil ikut pamit. Mereka berdua mencium punggung tangan Ibu.


"Gue juga ya," ucap Ami ikutan pamit.


"Lo beneran ga bisa di sini lebih lama?" Randu masih berusaha membujuk Ami.


"Jangan bikin gue bingung dong, Ran," mohon Ami. Tangan mereka masih berpegangan.


Randu menghembuskan napas beratnya. "Ya udah." Randu menarik Ami dalam pelukannya. "Hati-hati di jalan, tunggu gue ke Jakarta," bisiknya lalu mencium puncak kepala Ami.


"Cepet sembuh ya," balas Ami.


Ami pamit pada Ibu Randu lalu mencium punggung tangan wanita itu. Tatapannya tak lepas dari sosok pemuda yang duduk di brankar. Pemuda itu pun balas menatap Ami. Tatapan mereka terputus saat Ami sudah menghilang dibalik pintu.


Ami dan Sesil kembali ke Jakarta menumpang pada mobil Toro. Kedua gadis itu berdebat lebih dulu saat akan masuk mobil. Akhirnya, perdebatan dimenangkan oleh Ami yang langsung duduk di kursi samping kemudi.


Toto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesuai perkiraan Toto, kedua gadis itu berdebat sepanjang jalan kenangan. Tiba-tiba seorang laki-laki melintas di depan mereka dan ...


"Aaaaa!"


**Cirebon, 23 Maret 2022


Sambil menunggu apa yang terjadi pada Ami, Sesil dan Toto, yuk baca karya teman Emak. Ceritanya menggugah selera loh. Eh, menggugah perasaan maksudnya 🤭🤭. Cuusss langsung baca yaaa


Author : Tie Tik


Novel : Surga Hitam


_Surga adalah simbolis dari seorang istri. Semua suami pasti berharap jika surga miliknya tetaplah suci sampai waktunya tiba. Begitu pun denganku, aku sangat berharap jika surga yang aku miliki nanti, tetap suci walaupun bagian luarnya banyak ukiran yang menghiasi. Ajisaka_


_Jika memang kesucian yang menjadi perioritas utamamu. Saya memilih mundur saja, karena saya hanya surga hitam yang tak pantas untuk di perjuangkan. Intan_

__ADS_1


Happy reading... 😘😘😘**


__ADS_2