Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
30. Menginap Semalam


__ADS_3

INTAN memilih pergi dengan suka ( tidak ) rela seraya menghentakkan kaki. Dia pergi dengan kekesalan dan kemarahan dari ubun-ubun sampai kaki. Ibu dan Lisna bernapas lega setelah kepergian Intan.


"Udah pergi?" Tanya seorang remaja perempuan yang baru keluar rumah.


"Udah." Jawab Lisna.


"Ini Teteh bogohna A Randu?" Tanya gadis itu lagi.


Ami yang tidak mengerti menatap Randu, memberi isyarat lewat mata jika dia tidak mengerti. Tapi Randu diam saja, tak mempedulikan kode dari Ami.


"Ini Tanti, adik bungsu gue." Randu mengenalkan Ami pada adik bungsunya.


"Ami.." Ami mengulurkan tangannya dan berjabat dengan Tanti.


"Eh, ini beneran Teh Ami?" Tanya Tanti tersenyum. "Geulis."


"Makasih."


"Hayu atuh masuk, jangan di luar terus." Ibu menyuruh semuanya masuk.


Mereka kini duduk di karpet depan televisi. Lisna mengambilkan minum dan cemilan untuk mereka semua.


"Mangga, Teh.." Ucap Lisna.


"Makasih.." Ami meminum air putih yang disuguhkan Lisna. "Udah malam, Ran. Anterin gue.."


"Kemana?"


"Cari hotel lah! Masa balik ke Jakarta!"


"Kenapa di hotel, Neng? Nginep di sini aja, atuh." Ucap Ibu.


"Nanti ngerepotin, Bu." Ami tidak enak hati.


"Teu nanaon, Neng. Ga ngerepotin." Ucap Ibu lagi yang membuat Ami bingung karena tidak mengerti.


Ami menoleh pada Randu lagi dan bertanya tanpa suara, 'apa?'


"Ga apa-apa, ga ngerepotin." Jawab Randu.


"Makasih, Bu." Ami menoleh lagi pada Randu. "Terus gue tidur di mana?"


"Di kamar gue."


"Ihh, ogah! Biar somplak gini gue masih perawan tau!" Seru Ami.


Pletak!!


"Aww!! Sakit tau!" pekik Ami karena Randu menyentil keningnya.


"Punya otak tuh jangan mesum! Lo tidur di kamar gue, gue tidur di sini."


Ami masih cemberut sambil mengusap-ngusap keningnya. Ibu, Lisna dan Tanti hanya senyum-senyum melihat interaksi Ami dan Randu.


"Di rumah ini cuma ada 3 kamar. Satu kamar Ibu, satu kamar Lisna dan Tanti, satunya kamar gue." Randu menjelaskan. "Dan lo tidur di kamar gue, gue tidur di sini."


"Tar lo kedinginan tidur di sini, bisa masuk angin nanti." Ucap Ami perhatian.


"Cuma semalam, kan?"


"Kalo gue pengennya bermalam-malam?"


"Kalau masih melek ga usah mimpi! Sana tidur!"

__ADS_1


Ami mencebikkan bibirnya. "Nyebelin!"


Ibu, Lisna dan Tanti tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Tanti dan Lisna malah terbahak mendengar ocehan Ami.


"Kenapa pada ketawa?" Tanya Ami.


"Teteh lucu! Haha..." Ucap Tanti disela tawanya.


"Dan nggemesin tentunya..." dengan percaya dirinya Ami mengatakan itu sembari kedua tangan menangkup pipinya sendiri.


"Pantesan A Randu suka sama Teteh. A Randu itu orangnya pendiam, kaku. Jadi bersama Teteh hidup A Randu penuh canda. Bagus, Teh. Lisna suka!" Ucap Lisna.


"Masa??" Ami tidak percaya dengan ucapan adik Randu itu. Ami menatap Randu. "Berarti sebenernya lo suka sama gue sejak sekolah, iya kan? Ngaku lo! Ayo ngaku!" Ami menunjuk-nunjuk hidung Randu yang mancung.


"Apa'an sih!" Randu salah tingkah karena Ibunya masih berada bersama mereka.


Dasar Ami, ada calon mertua pun dia tidak menjaga perilaku dan ucapannya. Tetap, barbar dan somplak karena kadar kelabilan Ami sedikit berkurang setelah mulai bekerja kantoran.


"Kalau lo suka gue sejak sekolah, kenapa lo terus-terusan nolak gue? Gengsi lo gede banget ya. Padahal gue udah turunin gengsi gue buat nembak lo duluan, tapi lo tolak." Ami bersedekap.


"Jadi, Teteh yang bilang suka duluan ke A Randu?" Tanya Lisna.


"Iya. Emang kenapa?"


"Hebat! Teteh meuni hebat pisan euy... Lisna mah ga berani."


"Jangan, Lis! Sesat dia!" larang Randu.


"Enak aja ngatain gue sesat! Gue cuma melanjutkan perjuangan RA Kartini dalam penyetaraan derajat cowok sama cewek. Jadi ga harus melulu cowok yang nembak duluan dan cewek ga boleh nembak duluan! Kuno!" Sanggah Ami dengan segala alasannya.


"Pokoknya jangan ditiru! Lisna, Tanti, dengerin A'a!" Randu mengultimatum kedua adiknya.


"Kalo gue ga bilang duluan, emang lo mau bilang suka ke gue? Pantesan dulu kinclong sekarang jerawatan! Lo suka mendem perasaan!" balas Ami tidak terima jika jalan yang diambilnya untuk mendapatkan Randu dianggap salah oleh cowok itu.


Ami berdiri, mengambil ranselnya dan berjalan ke kamar. Ami menuju kamar depan.


Masih dalam mode marah, Ami melangkah ke kamar sebelahnya.


"Itu kamar Ibu." kali ini Tanti yang berseru memberi tahu.


Randu berdiri dan meraih tangan Ami tapi langsung ditepis gadis itu.


"Jangan sentuh gue! Gue lagi marah sama lo!"


"Kamar gue yang ini." Randu menunjuk kamar paling belakang dari 3 kamar yang berderet.


Ami segera memasuki kamar dan membanting tubuhnya di kasur Randu. "Jangan masuk!" Seru Ami karena Randu hendak masuk ke kamar yang ditempatinya.


"Ini kamar gue."


"Bodo! Buat malam ini, ini kamar gue!"


"Gue mau ambil sarung."


"Tapi jangan *****-*****!"


"Kepedean."


Randu masuk untuk mengambil sarung sebagai selimut saat tidur. Pintu kamar Randu berada di sisi lain ruang televisi, jadi keluarga Randu bisa mendengar bahkan melihat interaksi keduanya karena pintunya terbuka. Randu mengambil sarung dari lemari.


Ami duduk dari tidurannya dan bersila di atas ranjang. "Lo ga mau ngajak gue jalan malam mingguan?"


"Tadi kan kita udah jalan." Jawab Randu datar masih berdiri di depan lemari.

__ADS_1


"Masih kurang, meluk lo nya kurang lama. Gue pengen liat Bandung malam hari."


"Kalau kurang lama, salah sendiri. Lo ga mau pegangan waktu baru berangkat." Randu keluar kamar.


Ami mengikuti langkah Randu. "Waktu berangkat kan gue lagi ngambek!"


"Makanya jangan gampang ngambek, jadi rugi kan?" Randu masuk ke kamar mandi.


Ami berdiri di depan pintu kamar mandi. "Kalo gue ga suka sama lo, gue ga bakal datang ke sini! Nyebelin banget jadi orang!" Ami duduk lagi di karpet bersama keluarga Randu.


"Eneng teh, sudah lama suka sama Randu?" Tanya Ibu.


"Sejak SMA, Bu. Tapi Randu selalu nolak aku tiap kali aku bilang suka sama dia. Malah dia dekat sama musuh bebuyutanku di sekolah dan sempat pacaran sama teman sekelasnya pas kelas 12." Curhat Ami blak-blakan pada Ibu Randu.


"A Randu pernah pacaran, Teh?" Tanya Lisna seperti terkejut. Wajah Ibu pun menunjukkan keterkejutan.


"Iya. Emang Randu ga pernah cerita?"


Semua menggeleng.


"Randu teh pernah cerita, kalau dia suka sama teman sekelasnya. Tapi gadis itu hanya ingin pemuda yang kaya, sedangkan dia miskin. Jadi dia tidak pernah mengatakan suka pada gadis itu. Kitu..." Cerita Ibu.


"Cewek itu aku, Bu. Dulu waktu baru masuk SMA, aku punya cowok impian yang tajir melintir biar bisa beliin apa yang orang tuaku ga bisa beliin. Tapi aku malah suka sama Randu, yang baru aku tau kalau dia hanya pelayan di warung makan dekat pasar."


"Dan Teteh masih suka sama A Randu sampai sekarang?" Tanya Lisna.


"Kalau udah ga suka, ngapain gue di sini?"


"Lisna suka sama Teteh! Dari pada Teh Intan yang judes dan sombong!"


"Ihh, gue masih normal. Gue sukanya sama kakak lo!"


"Maksud Lisna teh, Lisna lebih suka A Randu pacaran sama Teh Ami dari pada sama Teh Intan!" Lisna meralat salah pengertian Ami.


"Oh... Emang kenapa kalau sama Intan?" Tanya Ami mulai kepo.


"Teh Intan mah judes, sombong dan nyebelin!" kali ini Tanti ikut bicara.


"Ga boleh ghibah, udah malam! Tidur sana!" perintah Randu saat keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan sarung.


"Lo seriusan mau tidur?" Tanya Ami kecewa.


"Udah jam 10 malam, waktunya tidur." Jawab Randu yang lagi-lagi datar tanpa ekspresi.


Ami masuk ke kamar Randu sambil menggerutu. Lisna mengacungkan kedua jempolnya pada Randu sebelum masuk kamar bersama Tanti. Ibu hanya memberi senyuman dàn mengusap bahu Randu lalu masuk kamar.


Malam semakin larut, suasana semakin sepi dan dingin. Randu masuk ke kamarnya hanya untuk memastikan apakah Ami bisa tidur dengan nyaman atau tidak. Ditatapnya wajah polos Ami saat tidur, hingga menerbitkan senyum dibibirnya.


Makin gemesin ya Ami sama Randu? Jangan ketinggalan kisah Ami dan Randu.


**Cirebon, 4 Maret 2022


Baca juga karya temanku yaaa. Ceritanya seru loh, dan bikin gregetttt. Tapi sedia air es ya buat nyiram kepala, karena ucapan Bulan bikin kepala panas 😠😠😀


👉 Judul : Tentang Bintang Dan Galaksi


👉 Author : Chika Ssi


Blurb**


"***Kamu itu ga pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih ga jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan oleh keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama


"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix

__ADS_1


"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway


( kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir*** )


__ADS_2