
"Kamu apa-apaan? Niat kerja ga sih!" bentak Bu Irma, atasan Ami.
"Ni-niatlah, Bu. Pasti niat," sahut Ami gagap.
"Kalau niat kenapa kamu ga pakai sepatu?" tanya Bu Irma dengan nada tinggi.
"Hah!" seru Ami tercekat saat melihat kakinya yang tanpa alas kaki. "Se-sebentar, Bu. Saya pakai dulu."
Ami berlari ke luar ruangan Bu Irma lalu kembali ke kubikelnya. Dia berjongkok-jongkok di kolong mejanya tapi tidak menemukan apa yang dicari. Dia memutari meja kerjanya seraya memakai sebelah sepatu hak tingginya, sementara yang satunya belum ditemukan.
"Nyari apa, Mi?" tanya Maya.
"Nyari Lee Min Ho! Eh!" Ami menjawab tanpa sadar apa yang baru diucapkannya.
"Lee Min Ho?" Maya cekikikan mendengar jawaban Ami.
"Aduh!" Ami menepuk keningnya. "Nyari sepatu, Mba. Sepatu sebelah gue mana?"
"Nih! Lo sih asal lempar aja, akhirnya mental ke kubikelku." Maya memberikan sepatu Ami yang sebelah.
"Makasih, Mba." Ami segera memakai sepatunya.
"Kenapa lo telat sih, Mi?" tanya Maya lagi.
"Bentar ya, Mba, ceritanya. Gue lagi buru-buru nih," jawab Ami yang memakai sepatunya sambil berjalan ke ruangan Bu Irma.
"Sudah, Bu," ucap Ami memasang senyum manisnya.
Bu Irma meneliti penampilan Ami dari atas sampai bawah. Dia kemudian mengangguk dan menyuruh Ami kembali ke kubikelnya. Ami pun keluar dengan napas lega.
"Tumben cepet keluarnya. Bu Irma ga ngadain kuliah pagi?" tanya Maya berseloroh.
"Gue lagi beruntung kali, Mba. Bu Irma lagi ga mood ngasih kuliah pagi," jawab Ami asal.
"Kenapa lo bisa telat sampe ga pake sepatu gitu sih?"
"Semua gara-gara Lee Min Ho, Mba."
"Lee Min Ho? Kenapa sama Lee Min Ho?" tanya Maya heran dan bingung.
"Semalam tuh gue nonton drakor Lee Min Ho. Gue tonton sampe tamat soalnya penasaran kalau episodenya dipotong. Eh tau-tau udah jam 2 pagi," cerita Ami.
"Lain kali kalau nonton drakor malam minggu aja," nasihat Maya.
"Udah ga tahan, Mba. Pas tau ada drama barunya Lee Min Ho ya aku langsung nonton," dalih Ami.
"Terserah lo deh, Mi."
"Hehe ... cakep!" Ami mengacungkan jempolnya.
***
"Hari ini gue apes banget," celetuk Ami.
"Kenapa? Lo dimarahin sama bos lo?" tanya Leni.
"Bukan!" sangkal Ami. "Tadi pagi gue bangun kesiangan, jadi ...."
"Itu kan sering," sela Cici memotong kalimat Ami.
"Diem dulu, Maymunah! Seneng banget sih motong cerita orang," tegur Ami yang diacuhkan oleh Cici.
"Tau nih. Lanjut, Mi," ucap Leni.
"Iya deh. Mentang-mentang kalian calon ipar, gue dianaktirikan," lirih Cici berakting.
__ADS_1
"Ga usah ngedrama, Esmeralda. Ini bukan telenopela," balas Ami.
"Semalam gue nonton drakor Lee Min Ho sampe tamat. Setelah tamat, gue baru sadar ternyata udah jam 2 pagi. Alhasil gue tidur jam 2 lebih kan. Paginya gue bangun kesiangan sampe ga sempat pake sepatu, dandan pun gue di angkot," cerita Ami.
"Gue terpaksa jojing pagi biar bisa nyampe kantor ga telat-telat banget. Gegara keasikan dandan gue ga liat jalan, ternyata kantor gue udah kelewatan. Gue jojing lagi dari mulai turun dari angkot buat ke kantor."
"Baru duduk beberapa detik di kursi gue, si bos manggil. Gue yang buru-buru lupa pake sepatu, akhirnya gue dibentak sama bos judes gue. Untung bos gue ga ngadain kuliah pagi, coba kalau dia gelar kuliah pagi. Bakal habis gue diomelin sama bos judes itu." Ami mengakhiri kisahnya.
"Makanya lo kalau mau nonton drakor entar malam minggu," nasihat Leni.
"Telat lo ngasih nasehat. Gue udah nonton duluan. Kalau mau ngasih nasehat, sebelum gue nonton," rajuk Ami.
"Dih, lo ga ngomong mau nonton drakor," balas Leni.
"Malam minggu nanti kita nobar drakor, gimana?" usul Cici.
"Mantap!" seru Ami dan Leni setuju.
"Di rumah Ami aja," usul Leni.
"Enak di lo ga enak di gue dong!" protes Cici.
"Enak di gue gimana?" tanya Leni bingung.
"Ya iya kalau nonton di rumah Si bakmi, lo enak bisa deket-deketan sama Bang Arman. Lah gue? Melongo!" dalih Cici.
"Terus di mana?" tanya Leni.
"Rumah gue," cetus Cici.
"Oke, ga masalah buat gue," sahut Ami.
"Ya udah, ga apa-apa. Deal ya di rumah lo," sambung Leni.
***
Mereka menatap layar laptop yang sedang menayangkan drama korea yang sudah mereka pilih. Minuman dan camilan sudah tersaji di atas nakas. Leni sudah mengantongi surat izin libur kencan malam minggu ini.
Tit tit!
Ponsel Ami berbunyi, pertanda ada chat masuk. Ami membuka chat yang ternyata dari pangeran kuda hitamnya. 'Lagi di mana?'
'Di rumah Cici.'
'Ngapain di rumah Cici?'
'Nonton drakor.'
'Ga pengen nonton gue?'
'Tiap hari juga nonton lo karena wallpaper ponsel gue foto kita.'
Lama tidak ada balasan dari Randu. Ami kembali fokus ke layar laptop. Cerita yang mereka tonton cukup mengandung bawang. Cici dan Leni sudah menitikkan air mata duluan.
"Lo berdua nangisin apa sih? Itu si Dong Geuk kenapa mewek gitu? Gue ga konsen nih nontonnya," tanya Ami yang bingung kenapa dua sahabatnya menangis.
"Lo sibuk chating sih jadi ga tau kalau mereka dipaksa pisah," jawab Cici seraya terisak.
"Hehe ... sori. Soalnya jarang-jarang pangeran gue chat," dalih Ami cengengesan.
"Jarang apanya? Kalian chat tiap hari bilang jarang," protes Cici.
"Tau nih! Kadang gue juga dicuekin kalau udah lagi chating sama Randu," keluh Leni.
"Kaya lo enggak aja. Lo juga alasan main ke rumah gue, pas ada Abang gue lo malah sibuk ngobrol duaan sama Abang gue. Ga nyadar lo?" kilah Ami.
__ADS_1
"Udah, pokoknya kalian berdua tuh sama aja! Sama-sama lupain gue kalau udah sama gacoan masing-masing," keluh Cici.
"Sori deh, Ci." sesal Ami dan Leni.
"Udah biasa. Ayolah nonton lagi," ajak Cici.
Mereka bertiga kini ubah posisi. Jika tadi mereka bertiga duduk berjejer, kini mereka tengkurap berjejer seperti ikan pindang. Mereka kembali fokus ke laptop.
"Ngomong-ngomong, hubungan lo sama si Ferguso gimana, Ci?" tanya Ami.
"Fadli, Mi," protes Cici meralat ucapan Ami.
"Iya, Fadli."
"Sejauh ini sih, baik-baik aja," jawab Cici tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Dia belum nembak lo?" tanya Leni.
"Belumlah. Kita baru deket sebulan yang lalu," jawab Cici.
"Cie cie, yang lagi pedekate," goda Ami.
"Udah ah, jangan bahas itu lagi." Wajah Cici merona.
Tit tit!
Kembali ponsel Ami berbunyi. Ami langsung meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengirim chat padanya. Ah, ternyata pangeran kuda hitamnya.
'Masih di rumah Cici?'
'Masih. Mau nginap di sini bareng Leni juga.'
'Cek pintu depan rumah Cici.'
'Ada apa?'
'Ada paket istimewa.'
'Paket apa'an?'
'Cek aja di pintu depan.'
Ami bergegas menuju pintu depan rumah Cici dengan senyum mengembang.
"Mau ke mana, Mi?" tanya Leni.
"Randu ngirim paket dan katanya udah sampe depan pintu rumah Cici," jawab Ami tergesa.
Ami berlari kecil ke pintu depan. Dia tidak sabar ingin melihat paket apa yang dikirimkan Randu untuknya malam ini. Ami terkejut saat membuka pintu.
**Cirebon, 5 April 2022
Paket istimewa apakah yang dikirim Randu? Apakah sebujet bunga super gede? Atau, lope sekebon?
Nah, sambil nunggu unboxing paket istimewa Ami dari Randu, Emak rekomendasikan karya teman Emak yaa. Kali ini Emak rekomen karya ZAFA berjudul SAHABAT JADI NIKAH. Yuk baca kisah perjodohan dengan teman sendiri**.
Blurb
Gak ada acara NgaNu🤗🤗
Hanya cerita tentang perjodohan anak Sma. Babnya hanya sedikit.
Kawal sampai End😋😋
__ADS_1