Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
38. Biar Somplak Tapi Masih Segel


__ADS_3

"Hai, Randu. Pantesan tadi aku ke rumah kamu ga ada." sapa seorang gadis pada Randu.


Ami dan Randu yang semula sedang mengeluarkan candaan ringan mereka langsung fokus pada gadis di depan mereka.


"Mau ngapain lo ke sini!?" tanya Ami judes.


"Mau ketemu Randu." jawab gadis itu seraya mengibaskan rambut panjangnya.


Ami menoleh pada pemuda di sampingnya yang terlihat biasa saja. "Lo janjian sama dia?"


Randu menaikkan kedua alisnya. "Enggak."


"Terus kenapa dia ke sini?"


"Mana gue tau."


"Kan gue udah bilang, gue pengen ketemu Randu. Gue denger dia ada di Jakarta, jadi ya gue cari dia lah." Gadis itu berucap sambil mendongakkan kepalanya angkuh. "Randu, kok lo ga ngasih tau gue sih kalau lo ada di Jakarta?"


"Heh, kuntilanak! Bukan kewajiban dia ngasih tau lo kalo dia ada di Jakarta! Mending lo pergi aja deh! Ngerusak mood orang aja!" usir Ami.


"Dih, ngusir. Randu-nya aja diem, ga ngusir gue." ucap gadis yang disebut kuntilanak oleh Ami menyeringai.


Kalian sudah tahu kan, siapa gadis yang selalu disebut Ami dengan panggilan kuntilanak? Ya, gadis itulah yang mengganggu kencan Ami dan Randu malam ini. Sesil!


Ami sudah berdiri dan membuka mulutnya hendak membalas ucapan Sesil, tapi tubuhnya langsung dikungkung Randu yang memeluknya dari belakang dan menggiring Ami untuk keluar dari kedai.


Randu segera membayar makanan mereka berdua dan mengajak Ami pergi dari tempat itu.


"Napa sih!? Gue mau damprat dia!" omel Ami kesal saat sudah berada di atas motor. "Randu!" Ami memukul punggung Randu karena pemuda itu terus melaju tanpa menanggapi omelannya.


Karena Ami yang terus memukulnya ingin ditanggapi, Randu menepikan motornya. Mereka berhenti di bawah pohon Akasia yang tumbuh di pinggir jalan. Randu melepas helmnya dan menoleh pada gadis yang ada diboncengannya. Mereka berdua turun dari motor.


"Mulut gue udah gatel pengen damprat tuh kuntilanak!" Ami masih mengomel mengutarakan kekesalannya.


"Mau digarukin ga mulutnya?"


Pertanyaan Randu yang menurut Ami merupakan candaan semakin membuat Ami kesal. "Mungkin lo seneng ya dikejar banyak cewek? Di Bandung ada Intan, di sini selain gue ada si kuntilanak! Lo pasti ngera---"


Cup!


Ami merasakan kaku disekujur tubuhnya saat benda kenyal dan sedikit lembab milik Randu mendarat dibibirnya. Matanya membulat seketika merasakan sensasi asing yang baru dirasakannya saat ini.


"Ga usah berpikir macam-macam. Cukup satu macam saja, bahwa kita saling menyayangi dan saling memiliki. Jika lo terus memikirkan macam-macam, yang lo dapat hanya rasa takut dan khawatir serta kecurigaan yang berlebihan. Saat takut, khawatir dan curiga itu mendominasi, lo ga akan merasa tenang dan ga akan merasa bahagia."


Randu memeluk Ami setelah memberikan penjelasan akan status mereka. Ami meneteskan air mata didada Randu.


"Kenapa nangis?" tanya Randu mendongakkan wajah Ami agar menatapnya.

__ADS_1


"Gue,,, gue kehilangan keperawanan gue." air mata Ami kembali mengalir.


"Apa maksud lo? Lo ga pernah lakuin itu, kan?" tanya Randu tajam.


"Lo! Semua gara-gara lo!" Ami memukul dada Randu.


"Gue?" kedua alis Randu bertaut, bingung dengan pernyataan Ami yang menyalahkannya.


"Iya, lo! Lo udah ngambil keperawanan bibir gue." rengek Ami sembari memukuli dada Randu.


Randu yang mengerti apa yang dimaksud Ami langsung memeluk gadis itu erat. Garis tipis terangkat dibibirnya. "Makasih, Yang." bisiknya lalu mencium puncak kepala Ami.


Ami mengeratkan pelukannya pada pemuda yang dicintainya itu. "Lo ga ijin dulu, jadi kan gue ga ada persiapan."


Randu terkekeh pelan. "Ga perlu persiapan. Karena persiapan akan membuat nyali kita ciut dan feelnya ga dapat. Lebih enak spontanitas."


"Jadi tadi spontanitas?"


"He'em."


"Tapi tadi aku habis makan ikan. Amis ga sih? Harusnya aku makan relaksa dulu ya biar wangi."



DUA hari yang Ami lewati bersama Randu membuatnya selalu berbunga-bunga. Ami yang kini sedang makan bersama kedua sohibnya kadang tidak fokus dengan obrolan mereka dan sering senyum-senyum sendiri, membayangkan kejadian malam itu.


"Woy! Senyum-senyum sendiri aja. Ngelamun jorok lo ya?" tebak Cici.


"Eh, enggak! Siapa yang ngelamun jorok." sangkal Ami.


"Ngaku lo. Lo abis ngapain sama Randu?" desak Leni.


"Jangan-jangan lo udah belah duren?" tuduh Cici.


"Heh! Gue masih segel tau! Cukup otak gue yang somplak, tapi bawah masih segel!" seru Ami membela diri.


"Bagus deh kalau lo masih segel." ucap Leni.


"Emang gue cewek apaan buka segel sebelum merit." gerutu Ami.


PULANG kerja Ami sedikit terkejut saat melihat Randu sudah menunggunya di parkiran. Pasalnya pemuda itu tadi siang mengatakan tidak bisa menjemputnya karena ada keperluan bersama Pamannya.


"Sengaja ya ngerjain gue? Biar gue kaget, gitu?" bukannya memuji karena mendapat kejutan, Ami malah mengomel kesal.


Untung Randu tipe penyabar, dia hanya tersenyum menanggapi omelan Ami. "Mau naik ga? Keburu ada yang ngisi nih boncengannya."


Ami masih cemberut dengan bersedekap. Masih kesal karena merasa di-prank oleh Randu. Tiba-tiba Maya keluar kantor sambil berlari.

__ADS_1


"Mi, kamu ga jadi naik ojolnya? Buatku aja ya." ucap Maya menyerobot helm yang dipegang Randu.


"Eee,,, dia bukan ojol, Mba." seru Ami mencegah Maya naik ke motor Randu.


"Lah, terus siapa?"


"Dia pacar gue!" jawab Ami dengan nada kesal.


"Ooo terus ceritanya lagi ngambekan nih?" tanya Maya.


"Au ah!"


"May, belum pulang? Katanya buru-buru." tanya Ina. "Seriusan ini ojol? Cakep banget!" puji Ina pada Randu.


"Siapa bilang dia ojol? Bukan!" seru Ami.


"Jadi si Abang ganteng ini pacarnya Ami, Na." beri tahu Maya.


"Pinter cari cowok ternyata kamu, Mi." puji Ina.


Randu memasang wajah datarnya saat mendapat pujian dari teman sekantor Ami. Ami lalu mengambil helm dari tangan Maya dan memakainya.


"Aku duluan ya, Mba." ucap Ami sebelum Randu melajukan motornya.


"Jangan sering ngambek, Mi. Banyak penadahnya kalau cowok cakep begitu!" seru Maya karena Ami mulai menjauh.


Selama perjalanan Ami hanya diam, dia masih enggan berbicara pada Randu. Randu membelokkan motornya dan berhenti di taman, mengajak Ami turun dan menggandeng tangan gadis itu memasuki area taman lalu duduk di kursi.


Randu mengarahkan kepala Ami agar bersandar dibahunya. "Sori kalau gue salah." ucapnya lalu mencium puncak kepala Ami.


Ami mencari tempat ternyaman dibahu Randu. Randu membelai pelan rambut Ami.


"Gue pulang ke Bandung malam ini."


Ami langsung mendongak mendengar ucapan Randu. "Kenapa mendadak?"


"Gue ga bisa lama-lama ninggalin warung."


"Tapi kenapa pulangnya malam? Kenapa ga besok pagi atau tadi siang? Perjalanan malam kan gelap."


"Besok gue ada janji sama pemilik tanah tempat warung gue berada. Mau perjanjian jual beli tanah dan bangunan. Doain ya biar lancar dan tanah serta bangunan warung jadi milik gue sepenuhnya."


**Cirebon, 15 Maret 2022


Minta bantu like dan komen dong kakak2 semua. Fav, vote dan hadiah juga boleh 🤗🤗


Baca juga cerita Emak yang lain yaaa siapa tau suka**

__ADS_1



__ADS_2