
PAGI ini Emak sangat sibuk di dapur membuat sarapan dan bekal untuk Ami. Tapi ternyata Emak membuat bekal bukan hanya untuk Ami. Emak membuat dua kotak bekal dan meminta Ami membawa dua bekal itu.
"Banyak bener, Mak bekalnya. Aye kan pengen diet." Protes Ami.
"Yeee sape juga yang bilang ni bekel buat elu semua. Ini satunya lu kasih ke si kinclong ye." Pinta Emak.
"Ogah!" Ami menolak keras.
"Nih bocah disuruh ma orang tua bantah. Durhaka lu entar!"
"Ih Emak jangan ngomong gitu dong!"
"Ya abis lu disuruh kagak mau."
"Emak aye yang paling bohay, aye udah ditolak beberapa kali ama si kinclong. Aye ogah malu lagi gegara ngasih bekel ama dia!"
Ami segera memasukkan bekal miliknya dan segera mencium punggung tangan Emak dan Babeh saat melewati teras karena Babeh sedang duduk santai di teras.
"Assalamu'alaikum..." Pamit Ami untuk sekolah.
"Wa'alaikumsalam.." Balas Babeh dan Emak.
Di sekolah Ami langsung masuk kelas, gara-gara perdebatannya dengan Emak membuat Ami sampai di sekolah bertepatan dengan bel masuk sekolah. Ami duduk di kursi yang bersebelahan dengan Randu. Ami berusaha secuek dan sebiasa mungkin pada Randu.
Saat pelajaran kelompok, guru malah mengelompokkan Ami dengan Randu dan 3 orang temannya yang lain. Ami sebenarnya pintar, jadi tidak memalukan dalam hal pelajaran. Randu sempat dibuat kagum dengan Ami, tapi dia hanya mengulas senyum tipis saja tanpa mengeluarkan kata pujian seperti yang dilakukan teman lainnya pada Ami.
Jam istirahat Ami ke kantin membawa bekalnya, tinggal membeli es teh manis lengkap sudah kebutuhan perut Ami. Di belakang Ami ada Randu yang juga menuju kantin bersama Toto.
Ami melambaikan tangannya pada duo kiyut yang sudah sampai kantin lebih dulu saat Cici melambai. Dengan langkah ringan Ami memasuki area kantin. Sesil menyambutnya dengan tatapan marah.
"Heh! Udah gue bilang Randu itu milik gue! Lo malah ke kantin bareng dia! Gue kan udah bilang ke lo, jangan deketin Randu! Bila perlu lo pindah tempat duduk di kelas, jangan deket Randu!" Bentak Sesil marah dan cemburu.
"Dasar kuntilanak! Emang gue gandeng tangan Randu? Mepet-mepet gitu kaya lo ke Randu? Orang gue mau makan di kantin. Randu juga mau makan di kantin. Semua orang boleh makan di kantin! Kalo gue jalan berurutan sama Randu ya karena kita sekelas, jadi keluarnya bareng. Gitu aja sewot!" Balas Ami membentak tidak mau kalah.
Randu menatap tidak suka pada Sesil saat gadis itu mendekatinya. Randu berniat pergi dari kantin tapi tangannya dicekal Sesil.
"Lo kenapa sih, deket-deket dia?" Tanya Sesil dengan nada manja.
"Emang kenapa?" Tanya Randu dingin.
Mereka menjadi tontonan di kantin, tapi Ami tak mau ambil pusing. Dia memesan es jeruk lalu membuka bekalnya yang berisi nasi putih dan telor mata sapi lalu mulai menyantapnya.
"Lo kan udah nolak dia, kenapa lo masih deket sama dia?" Tanya Sesil lagi.
"Kita teman. Emang salah kalo berteman? Dan lo juga temen gue, bukan pacar. Jadi jangan sok ngatur hidup gue." Setelah berucap sedingin es pada Sesil, Randu memilih pergi dari kampus.
Kesempatan!!
"Ternyata temen juga ya... Deklarasi lo waktu itu berarti hoaks dong? Hahaha...." Cibir Ami lalu tertawa mengejek.
"Emang enak ditolak juga? Di depan umum juga. Haha..." Cici ikut mencibir.
__ADS_1
Seisi kantin menertawakan Sesil dengan tawa mengejek.
"Awas aja lo semua!" Sesil menyorot tajam Ami dan semua yang ada di kantin sebelum pergi entah kemana.
"Yah, cuma gitu doang. Ga seru pertunjukannya." Ucap Ami sambil geleng-geleng kepala.
***
2 tahun kemudian
AMI dan teman-teman seangkatannya sudah bersiap menghadapi ujian. Untungnya, saat kelas 11 dan kelas 12 sekarang, Ami tidak sekelas dengan Randu. Hanya saja, Ami masih selalu ingin tahu berita tentang Randu.
Seperti beberapa bulan lalu, saat baru memasuki kelas 12, Ami mendengar kabar Randu berpacaran dengan teman sekelasnya. Tapi 3 bulan kemudian, terdengar berita jika Randu putus dengan pacarnya. Haruskah Ami bahagia?
Ada juga beberapa teman cowoknya mencoba mendekatinya, tapi Ami menolak karena ingin fokus pada ujiannya. Ini bukan balas dendam karena Ami pernah ditolak oleh Randu, tapi karena Ami memang tidak cinta pada mereka. Coba jika Randu yang menembaknya, pasti lain ceritanya. Ami akan jawab YES detik itu juga.
Entahlah, perasaan Ami pada Randu tidak bisa hilang begitu saja. Ami tidak bisa menghilangkan pengeran kuda hitamnya itu dari hatinya entah sampai kapan. Tapi Ami juga tidak mau menyatakan perasaannya karena takut ditolak lagi.
Ami sekarang sedang berada di perpustakaan sekolah, padahal ini jam istirahat. Dia sedang menjalankan puasa sunnah. Kata Emak, menjelang ujian itu bukan cuma belajar lebih rajin, tapi juga puasa sunnah supaya mendapat nilai yang memuaskan.
Randu memasuki perpustakaan. Setelah mengambil buku dari rak dia mencari tempat duduk. Dia melihat Ami di ujung sana dan bergegas ke tempat Ami. Kini, dia duduk di depan Ami, hanya terhalang oleh meja.
"Lo ga ke kantin?" Tanya Randu.
Ami yang awalnya menunduk terlalu khusyuk membaca, langsung mendongak saat suara yang dikenalnya bertanya. Ami sempat melongo, berbeda kelas membuatnya jarang bisa bertemu Randu.
"Ditanya diem aja." Gerutu Randu.
"Iya, eh enggak." Aduhh kenapa salting sih? Malu-maluin banget!
Apa!? Randu nanya gue bawa bekal? Berarti dia merhatiin gue dong. Ami tersenyum lebar, dia membereskan rambutnya dan menyelipkan di belakang telinga. "Gue masih bawa bekal tapi hari ini enggak. Gue lagi nyontek lo yang suka puasa sunnah. Hehe.. Emak bilang, kalo puasa Insya Allah nilai ujiannya bagus."
Randu mengangguk. "Serius banget baca bukunya?"
Sejak kapan si Randu jadi cerewet kaya Emak gue. Gue lagi salting tau duduk berdua di perpus sama lo. "Iya, buat bekal ujian sama masuk kuliah." Ami tersenyum canggung.
"Lo mau kuliah di mana?"
"Pengennya sih di PTN di Jakarta. Lo sendiri?"
"Gue mau balik ke Bandung. Mungkin kuliahnya juga di sana."
"Lo balik ke Bandung!?"
"Iya."
"Terus, setelah lulus kita ga bakal ketemu lagi?"
"Tergantung."
"Tergantung?"
__ADS_1
"Tergantung nasib. Kita akan dipertemukan lagi atau tidak."
"Lo ga akan rindu sama gue?" Ami memejamkan matanya saat menyadari apa yang barusan diucapkannya. Ish...pede banget sih gue.
Randu tersenyum tipis dan mengendikkan bahu.
***
UJIAN telah usai 3 minggu yang lalu. Hari ini akan diumumkan nilai hasil ujian dan malamnya akan diadakan prome night. Semua murid kelas 12 berdesakan di depan papan pengumuman. Nilai diurut berdasarkan jurusan, IPA, IPS, dan Bahasa.
Ami sudah berdiri di depan papan dengan kertas HVS bertuliskan IPS. Dia baru menyadari jika yang berdiri di sampingnya adalah Randu. Banyaknya murid yang berdesakan membuat mereka semakin berdekatan dan hal itu tidak baik untuk jantung Ami karena berdetak lebih cepat dari pada genderang perang.
Beberapa kali mereka sampai terantuk ke papan pengumuman karena terdorong. Tangan kiri Randu terulur di belakang kepala Ami, hingga kemudian menempelkan tangan itu ke papan pengumuman. Hal ini membuat mereka semakin dekat.
Ami melihat tangan yang berada di sampingnya, melindunginya dari desakan teman-temannya. Tangan kanan mereka sama-sama berada di atas kertas untuk meneliti satu persatu nama yang tertera di kertas putih polos itu.
"Lo peringkat 5, Ran! Liat!" Seru Ami saat menemukan nama Randu yang berada diurutan ke-5.
"Gue udah tau." Jawab Randu.
"Terus kenapa lo masih di sini?"
"Emang kenapa?"
"Kan gantian sama yang laen."
"Gue mau mastiin lo juga lulus apa ga."
Randu mengucapkannya dengan santai, tapi cukup untuk membuat Ami merona. Ami menjadi salah tingkah, sementara Randu terus mencari nama Ami.
"Lo urutan 11." Ucapan Randu menyadarkan Ami dari meronanya.
Ami langsung melihat kertas yang bertuliskan namanya. "Gue lulus.. Gue lulus.."
Randu menarik tangan Ami agar keluar dari kerumunan siswa yang ingin melihat nama mereka. Ami merasa linglung saat Randu menarik tangannya. Trio Kiyut saling berpelukan karena bahagia mereka bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
***
MALAM prome night berlangsung sangat meriah. Ami memakai dres lengan panjang selutut berwarna putih dengan bahan brokat di bagian lengannya. Jam 11 malam acara baru selesai. Semua siswa saling berpelukan karena setelah malam ini, entah kapan mereka akan bertemu kembali.
Tapi Sesil tetap tidak mau berpelukan dengan Ami. Sorot kebencian tetap tersirat dari mata Sesil untuk Ami. Ami juga tidak mau ambil pusing, dia masih bisa berpelukan dengan temannya yang lain.
Saat akan pulang, Ami dan Randu saling bertatapan di tempat parkir. Entah, tatapan dalam arti apa yang mereka siratkan.
"Lo beneran ga mau nembak dia lagi?" Tanya Leni.
"Ga." Jawab Ami.
"Jangan sampe lo nyesel, Mi." Leni mengingatkan.
"Jika kita emang jodoh, pasti kita bakal ketemu lagi."
__ADS_1
Setelah berucap begitu, Ami pun berlalu menuju jalan raya di mana baru saja taksi pesanannya tiba.
Cirebon, 16 Februari 2022