
RANDU menatap kepergian Ami dari parkiran sekolah. Dia akan pulang bersama Toto.
"Kenapa lo ga terus terang sama dia?" Tanya Toto sambil ikut melihat kearah pandang Randu.
Randu tersenyum miris. "Gue bukan tipe dia."
"Kalo lo bukan tipe dia, ngapain dia nembak lo dulu?"
Randu hanya diam. Dia teringat kembali berapa kali Ami menyatakan suka padanya, dan sebanyak itu pula dia menolak Ami karena tahu jika Ami menginginkan cowok yang kaya. Dari mulai pernyataan dengan serius saat pertama kali hingga yang seperti candaan dipernyataan berikutnya.
"Gue ga jadi deketin dia dulu karena gue tau sebenernya lo suka sama dia. Gue ga mau rebutan cewek sama temen gue sendiri. Gue mau kok nganterin lo ke rumah dia sekarang." Ucap Toto bijak.
"Ga perlu."
"Jangan sampe lo nyesel nanti, Ran."
Randu hanya menggeleng. "Gue mau balik ke Bandung lusa. Gue mau kuliah sambil kerja di sana."
"Gue yakin, Ami bisa kok diajak LDR-an."
"Udah ayo kita pulang." Ajak Randu.
"Lo beneran ga mau nemuin dia?"
"Kalo kita emang jodoh, kita pasti ketemu kok."
"Yaah masih megang filosofi jadul."
Randu mendorong tubuh Toto menuju motor Toto. Dengan terpaksa Toto pun menjalankan motornya dengan Randu diboncengan. Toto mengantar Randu.
"Lurus nih?" Tanya Toto masih berusaha membujuk Randu agar tidak menyesal.
Toto sudah tahu di mana rumah Randu, rumah pamannya. Selama sekolah di Jakarta Randu tinggal dengan pamannya. Warung makan tempat Randu bekerja juga itu milik pamannya.
"Belok kiri."
"Beneran? Jangan mewek entar pas di kamar."
Randu diam. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan dan dia inginkan. Hingga dia tidak sadar jika Toto sudah menghentikan motornya di depan rumah pamannya.
"Tuh kan ngelamun. Dah lah kita puter balik." Toto hendak menjalankan motornya putar balik ke rumah Ami tapi Randu segera mencegah.
"Gue turun." Randu langsung turun dari motor Toto.
"Ayolah, Bro. Mumpung Ami masih melek."
Randu melepas helmnya dan memberikannya pada Toto. "Makasih ya udah anterin gue."
"Ya udah deh kalo lo tetep ga berubah. Gue pergi." Setelah berkata Toto pun pergi.
__ADS_1
Di kamar, Randu tidak bisa tidur hingga dini hari. Entahlah. Bayangan Ami yang selalu menggodanya, menyatakan perasaannya, serta ucapan dan tingkahnya yang tidak ada ja'imnya selalu terbayang dipelupuk matanya.
Ingin sebenarnya mengikuti saran Toto, tapi jika dia ingat kembali perkataan Ami pada dua sahabatnya tentang cowok impiannya maka Randu kembali mengurungkan niatnya. Mencoba untuk pasrah pada takdir.
***
TRIO KIYUT yang sedang berkumpul di rumah Cici berjingkrak-jingkrak kegirangan saat melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru di ponsel masing-masing.
Mereka bertiga mendaftar di kampus yang sama, fakultas yang sama, hanya bidang yang berbeda. Ami memilih ekonomi perbankan, Leni di ekonomi managemen, dan Cici di ekonomi bisnis.
"Gue ga nyangka kalo gue bakal diterima!" Seru Cici tak percaya.
"Apalagi gue. Yang daftar jalur beasiswa ribuan, yang diterima cuma 100 orang. Dan gue jadi yang ke-78 diterima lewat jalur beasiswa! Huwaaa senengnyaa!!" Ami ikut berseru penuh kebahagiaan.
"Lo kan otaknya lumayan encer, Mi. Dari awal gue yakin lo bakal diterima." Ucap Cici.
"Pokoknya, kita harus rayakan kelulusan kita ikut tes. Ya walau pun cuma makan bakso atau apalah." Sahut Leni.
"Yuppss!" Seru Ami dan Cici kompak.
"Sekarang udah hampir jam dua belas si--"
"Apa!? Udah mau jam dua belas!?" Pekik Ami. "Gue telat! Gue telat! Mana belum pesen ojol lagi!"
"Lo kenapa sih, Mi?" Tanya Cici.
"Gue harus jaga konter jam setengah satu! Ini udah mau jam dua belas!" Ami segera membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke tas selempang yang selalu menemaninya saat keluar rumah bukan untuk sekolah.
"Biasanya hari ini lo kan libur, Mi." Ucap Leni.
"Iya, tapi Mba Seli hari ini ada keperluan jadi minta tukeran besok gue yang libur."
"Tapi lo belum makan siang, Mi." Itulah Cici. Meski kalau berpikir suka lemot, tapi dia sangat peduli dan perhatian pada sahabatnya.
"Katanya kalian mau makan-makan. Buat gue bungkusin aja terus anter ke konter."
Ami memandang ke depan rumah Cici saat mendengar suara klakson motor. "Tuh udah datang! Jangan lupa, anterin ke konter ge pe el! Gue aslinya udah laper. Daaahhh... Mmuuahhh!" Pamit Ami meninggalkan ciuman jauh untuk dua sahabatnya. Tapi sebelum pergi, dia menyempatkan diri mengambil pisang goreng yang sesari tadi dihidangkan oleh ART Cici.
***
PULANG saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Setelah bekerja rasanya lelah sekali. Setelah lulus kuliah, Ami memutuskan mencari pekerjaan yang bisa dilakukan sepulang dia kuliah nanti. Dia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang tuanya, setidaknya tidak meminta uang jajan.
Ami mencoba peruntungan memilih jalur beasiswa, berebut dengan ribuan pendaftar lainnya. Beruntung Ami dikaruniai otak yang lumayan cerdas hingga dia bisa masuk dalam jajaran 100 orang yang akan menerima beasiswa dari universitas negeri terkenal itu.
Ami pulang dengan perasaan bahagia, tidak sabar untuk memberi tahu Emak dan Babeh.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Ami memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam.." Balas Emak dan Babeh yang sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Emak! Babeh! Aye diterima, Mak!" Seru Ami memeluk Emak dan Babeh bergantian.
"Diterima apa'an lu? Ngomong yang jelas dong! Diterima ama si kinclong?" Tanya Emak.
"Yee Emak, masih nyebut-nyebut aje si kinclong. Dia udah balik ke Bandung, Mak." Jawab Ami.
"Lah terus lu seneng banget diterima apa'an?" Tanya Emak penasaran.
"Aye diterima di perguruan negeri, Mak! Beh!"
"Alhamdulillaah..." Ucap syukur Emak dan Babeh kompak.
"Ini baru anak Babeh!" Seru Babeh.
"Lah! Kemaren-kemaren aye bukan anak Babeh?" Protes Ami.
"Ya anak Babeh yang paling cantik ya elu, Mi." Ucap Babeh mencubit dagu Ami.
"Anak Babeh kan cuma 2, yang satu cewek yang satu cowok!" Balas Ami.
"Ya makanya elu anak Babeh yang paling cantik. Kalo Abang lu kan dia ganteng, kaya Babeh waktu muda."
"Preeettt..." Sela Emak.
"Kalo gue kagak ganteng, lu juga kagak bakal mau ama gue, Yam." Ucap Babeh.
"Iye deh, aye mah ngalah.."
"Udah ah, aye mau istriahat. Capek." Ami berlalu ke kamarnya.
***
AMI melakukan registrasi ulang masuk perguruan tinggi. Dia mengantri di depan meja administrasi dengan mahasiswa yang lain. Tiba-tiba...
Brukk!
"Aw!" Pekik Ami saat punggungnya terdorong hingga menabrak calon mahasiswa di depannya.
"Eh, sori sori. Lo sih, pake dorong-dorong." Ucap seorang mahasiswa laki-laki. "Kamu ga apa-apa?"
"Enggak. Tapi lain kali kalo becanda jangan di tempat rame begini. Bukan cuma gue yang kena, tapi yang di depan gue juga kena." Jawab Ami ketus.
"Widiiih... Calon mahasiswi baru, cantik-cantik kok judes. Entar hilang loh cantiknya." Ucap mahasiswa laki-laki itu.
"Kalo lo mau gombal, lo salah sasaran. Gue ga bisa digombalin!" Balas Ami.
Mahasiswa laki-laki dan temannya melongo melihat keberanian Ami.
**Up lagiii... Kejar deadline aku. Moga bisa dan harus yakin pasti bisa!
__ADS_1
Cirebon, 17 Februari 2022**