Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
32. Sesi Interogasi


__ADS_3

AMI tiba di Jakarta sebelum jam 6 dan di sana, Leni dan Cici sudah menyambutnya dengan lambaian tangan dan senyum cemerlang.


"Ami!!"


Ami langsung berlari ke arah dua sahabatnya yang menjemputnya di stasiun kereta. Leni dan Cici langsung menarik Ami untuk duduk di kursi tunggu penumpang.


"Gimana penjemputan jodoh lo?"


"Lo diterima ga?"


"Dia nyatain cinta ke lo ga?"


"Dia ga ikut ke sini?"


Leni dan Cici bergantian mengajukan pertanyaan tanpa jeda pada Ami.


"STOP! Bisa satu-satu ga? Budek kuping gue denger suara lo berdua!" Seru Ami.


"Gue super kepo, Mi. Lo ga pernah jawab kalau ditanya lewat telepon atau chat." Cici mengoceh.


"Gue sama Cici hampir pingsan berdiri nunggu cerita lo." sambung Leni.


"Sejak kapan lo ikutan lebay kaya si Cici? Ditinggal 2 hari aja lo udah ketularan Cici." Tanya Ami pada Leni.


"Dah, jangan banyak ngomong! Cepet cerita kalo ga, balikin duit gue yang buat beli tiket!" Todong Γ‡ici.


"Dihh! Orang sedekah diminta lagi."


"Lebih banyak yang pantes disedekahi dari pada lo!"


"Tar pahala lo batal kalo diminta lagi."


"Bodo! Pokoknya lo cerita sekarang atau balikin duit gue!"


"Udah jangan debat mulu, cepetan cerita!" Desak Leni yang dari tadi diam.


"Pengen minum dulu. Haus gue." Ami mencoba mengulur waktu.


"Nih!" Leni menyodorkan botol air mineral miliknya yang tinggal setengah.


"Gue pengennya yang ada rasanya. Ga ilang haus gue kalo airnya polos kek gitu."


"Belagu lo! Biasanya juga lo minum air sumur!" semprot Cici.


"Kok tau? Lo suka intipin gue ya kalo abis mandi?" seloroh Ami.


"Udah jangan banyak cingcong! Cepetan cerita! Gue sampe jerawatan nunggu cerita lo!" kembali Leni mendesak. "Nah tuh ada yang jual es jeruk."


"Dek! Sini!" Cici memanggil anak perempuan usia sekitar 12 tahun.


Gadis kecil itu mendekat. "Mau es jeruk, Kak?"


"Iya. Tiga." Leni memberikan uang dua puluh ribuan.


"Ini kembaliannya." Gadis kecil itu menyodorkan uang kembalian lima ribu.


"Ambil aja, Dek. Buat beli pulpen."


"Makasih, Kak." Ucap gadis itu senang.


"Wiihhh... Keren! Calon bidadari surga." Puji Ami.


"Udah, ga usah pura-pura muji gue. Cepetan cerita!" Kesabaran Cici sudah habis.


Ami menyedot es jeruknya hingga tersisa setengah lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan dengan tangan seperti orang yang sedang yoga.


"Buruan!" sentak Leni.

__ADS_1


"Astoge! Mimpi apa gue punya calon kakak ipar lo." Ami mengelus dada.


"Cerita, mulai." Cici memberi aba-aba.


"Jadi ternyata si Randu itu udah cerita tentang gue ke keluargnya. Randu punya dua adik cewek dan bokapnya udah meninggal." Ami memulai ceritanya.


"Innalillaahi..." Ucap Leni dan Cici berbarengan.


"Berarti lebih gede pahalanya kalo gue sedekah ke pangeran kuda item lo dari pada ke lo." Cici menambahkan.


"Kalo niat sedekah ga boleh nyesel!"


"Jangan melenceng dari tujuan utama kita!" Seru Leni pada Cici.


"Oke, kembli ke leptop! Terus, tanggapan keluarga calon jodoh lo gimana?" Tanya Cici.


"Mereka baik banget! Aku mau cari hotel malah disuruh nginep di rumah pangeran gue dan tidur di kamarnya."


"Astaga naga! Lo udah ga perawan, Mi?" Tanya Cici.


"Sembarangan! Masih segel nih!" Seru Ami tidak terima. "Ini ga ada tempat wawancara yang lebih elegan apa ya?"


"Ga usah sok ngartis!" Semprot Cici.


"Warung makan dia gimana? Rame ga?" Leni yang bertanya.


"Yang dia kasih kan alamat warung makannya dia, jadi gue pertama datang ya ke warung makan dia. Dan lo tau ga?" Ami menjeda ucapannya.


"Enggak.." Leni dan Cici menjawab kompak.


"Ternyata warung makan dia tuh bukan warung makan!"


"Terus warung apa'an?" Tanya Cici.


"Itu rumah makan!"


"Gede dan rame!"


"Berarti dia bukan pangeran kuda item lagi dong." Ucap Leni.


"Iya, dia kuda putih, Mi." Cici menyambungi.


"Ga ah, gue lebih suka manggil dia PANGERAN BERKUDA HITAM!"


"Terserah lo deh." Ucap Leni pasrah.


"Betewe, gue laper nih, Bestie." Ucap Ami memelas.


"Kita sama. Yuk!" Cici langsung hendak bangkit.


"Tunggu!" Cegah Leni. "Lo ga boleh makan dulu."


"Kenapa? Cacing gue udah lagi pada goyang ngebor nih!" Tanya Ami.


"Lo belum jawab, gimana hubungan lo sama Randu? Lo diterima ga?" cecar Leni.


"Eh, iya ya. Lo belum cerita."


"Sambil makan deh ceritanya. Pliiiss,,, gue lapar banget, sumpah! Gue terakhir makan tadi siang jam setengah 1 dimasakin oleh Randu."


"Sumpeh lo, Randu bisa masak!?" Leni melongo.


"Suwer!" Ami mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. "Gue pikir kalau dimasakin dia bakal awet kenyangnya kaya pake formalin."


"Ngaco!" Leni dan Cici menoyor kepala Ami kanan kiri.


"Pusing tau! Berasa ada gempa! Udah boleh makan nih?" Ami membesungut kesal.

__ADS_1


"Lo belum jawab, dia terima lo ga?" Leni kembali mengingatkan.


"Kalo lo tetep ditolak, sia-sia dong hibah tiket gue buat lo." Ucap Cici.


"Sama solmet sendiri itung-itungan banget." Ami menggerutu.


"Diterima enggak?" Leni terus menekan Ami agar memberi jawaban.


Ami memasang wajah murung. "Gue,,, gue,,, "


Leni dan Cici sampai memajukan wajah mereka dengan mimik sangat serius.


"Hah!!" seru Ami mendorong dua tangannya ke arah Leni dan Cici.


"Aaa!!"


"Eh, copot! Eh, copot!"


"Hahaha..." Ami terbahak saat kedua sahabatnya berteriak kaget bahkan Cici keluar latahnya.


"Semprul lo!"


"Sompret lo!" Hardik mereka bergantian. "Untung gue ga punya penyakit jantung!" Omel Cici.


"Kalo punya, kita udah wassalam, Ci"


"Ayo makan! Lo berdua ga liat apa cacing diperut gue udah goyang ngebor, goyang ngecor, goyang patah-patah, apalagi coba yang belum?"


"Goyang gergaji beluim, Mi." Jawab Cici.


"Nah iya. Saking laparnya segala goyang mereka peragain."


"Ga usah ngalihin topik lo. Cepet jawab!" lagi-lagi Leni menodong.


"Oke, oke. Dengerin gue baik-baik. Randu,,, nembak gue!"


"Aaa!! Seriusan lo!?"


Ami mengangguk dan mereka bertiga pun bersorak sambil berpelukan. Mereka baru sadar jika mereka menjadi pusat perhatian para calon penumpang kereta.


Mereka pun memasang senyuman tanda minta maaf pada para calon penumpang lalu pergi.


"Gue udah bilang, jadi kita makan kan?" Tanya Ami.


"Yups! All you can eat!"


"Sepuas gue!?"


"Iya!"


"Di mana kita bakal makan?" Tanya Ami antusias.


"Di Mang Supri deket kampus dulu." Jawab Leni.


"Ngapain all you can eat datengnya ke tukang es cendol. Kenyang kagak kembung iya! Nyesel gue bilang sama lo berdua." Ami menggerutu.


"Ulululu, cayang. Jangan ngambek dong. Lo kan baru dapet pacar, masa ngambek. Yuk, kita ke Mas Bas!" Ajak Cici. Mas Bas adalah nama tukang bakso dan mi ayam langganan mereka.


"Lope sekebon buat lo, Ci!"


**Cirebon, 7 Maret 2022Sambil nunggu kisah Ami berikutnya, silakan baca novel teman literasiku yang syantiq yaaa.


😘 Novel : Hatiku Padamu, Kak


πŸ‘‰ Author : alviesha**


__ADS_1


__ADS_2