Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
36. Kencan Perdana


__ADS_3

AMI menoleh saat senyum masih menghiasi wajah tampan Randu. "Lo ga mau nyium gue?"


Randu langsung melenyapkan senyumnya dan mengusap tengkuknya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, melakukan apa yang diinginkan gadis di depannya atau menghindarinya.


"Gue lapar. Liat lo bawannya pengen makan."


Randu tersenyum melihat keterbukaan Ami. "Ayo kita makan."


Randu kembali menggandeng tangan Ami, mencari penjual makanan di sekitar taman Sakura. Randu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia masih salah tingkah dengan permintaan Ami barusan.


"Tapi abis makan jangan pulang ya?" pinta Ami.


"Emang kenapa?"


"Gue masih kangen sama lo. Masih pengen bareng lo."


Randu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ami lalu berpindah merangkul bahu gadis itu. Ami semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Randu. Mereka memilih laksa Bogor untuk mengganjal perut siang ini.


"Mang, boleh nambah enggak kerupuknya?" tanya Ami pada penjual laksa sambil menyodorkan piringnya.


"Boleh."


Ami pun tersenyum lebar saat mendapatkan tambahan kerupuk lalu kembali menyantap laksanya. Mereka lalu duduk sebentar di bawah pohon beringin, di samping gerobak penjual laksa.


"Mau ke mana lagi? Kebun Raya?" tanya Randu.


"Jangan!" Larang Ami. "Mitosnya kalau pacaran di Kebun Raya nantinya putus. Gue ogah!"


"Itu kan cuma mitos."


"Tapi banyak yang terbukti. Ogah ah!"


"Terus mau ke mana?"


"Ga tau."


"Dasar labil."


Randu membayar makanan mereka lalu menuju motornya. Ami cepat mengejar ke parkiran.


"Mau ke mana lagi?" Randu masih menanyakan hal itu.


"Ga tau."


"Kita masuk lagi aja yuk! Kan belum foto-foto."


Ami menarik tangan Randu agar masuk kembali ke taman Sakura. Mereka mengambil banyak foto di sana, bahkan sampai meminta pengunjung lain untuk mengambil foto mereka. Ami sangat bahagia, ini Minggu kedua yang membuatnya bahagia setelah 2 minggu yang lalu yang dia habiskan bersama pemuda itu serta keluarganya.


Mereka saling berbagi foto-foto yang mereka ambil lewat ponsel mereka. Lelah berjalan menyusuri taman, mereka memilih duduk di kursi taman. Lagi-lagi Ami mengambil gambarnya yang sedang dirangkul Randu saat duduk di kursi itu.


"Lo nginep di Jakarta?" tanya Ami menyandarkan kepala pada bahu Randu.


"Iya."


"Di mana?"


"Rumah Mamang."


Ami mengangguk.

__ADS_1


"Biasanya berangkat kerja jam berapa?" giliran Randu yang bertanya pada Ami.


"Jam setengah delapan."


"Gue antar."


Ami langsung mendongak menatap Randu. "Beneran!?"


"Itu kalau mau, kalau ga mau ya udah."


"Iih, siapa yang bilang ga mau? Gue mau. Mau banget malah. Apalagi kalau diantar jemput tiap hari." Ami memperlihatkan gigi putihnya.


"Kalau diantar jemput tiap hari, warung makan gue gimana?"


"Buka cabang di Jakarta."


Randu hanya tersenyum lalu mengacak rambut Ami. Dia mendaratkan bibirnya di kening Ami beberapa saat. Ami memejamkan matanya saat menyadari benda kenyal itu mendarat di keningnya dengan sukses, dia juga mengeratkan pelukannya pada pemuda itu. Mereka saling berpelukan di kursi taman.


"Kenapa akhirnya lo nerima gue?" tanya Ami.


"Gue ga bisa bohong lagi pada perasaan gue."


"Kenapa selama ini lo milih buat bohong?"


"Karena gue bukan pangeran berkuda putih seperti yang lo harapkan."


"Tapi lo Pangeran Berkuda Hitam yang gue cintai."


Randu kembali mencium kening Ami. "Awalnya gue mau bilang saat acara reuni, tapi ga jadi."


"Kenapa?"


"Karena gue masih kuda hitam. Itu sebabnya gue kasih alamat warung makan gue biar lo tau sendiri keadaan gue. Setelah itu lo boleh mikir lagi, apa lo masih mau sama gue?" Randu menunduk menatap Ami.


Randu mendekatkan wajahnya pada wajah Ami hingga puncak hidung mereka bersentuhan. "Gue belum bisa ngasih lo apapun." Bisik Randu tepat di depan wajah Ami.


"Gue cuma minta yang ada di sini." Ami menunjuk dada kiri Randu.


"Akan gue berikan." Randu menggesek-gesek hidung mereka hingga Ami memejamkan kedua matanya. Randu mencium puncak hidung Ami yang mungil.


MEREKA sampai di rumah Ami saat hari sudah malam. Randu berbicara sebentar dengan keluarga Ami sebelum pulang ke rumah Pamannya. Emak dan Babeh tampak menyukai Randu karena kesopanan dan kesan baik yang diperlihatkan Randu.



BARU selesai sarapan, Randu menepati janjinya mengantar Ami ke tempat kerja. Pemuda itu sudah duduk manis di kursi tamu menunggu Ami yang sedang memakai sepatu. Setelah Ami siap, mereka berpamitan pada Emak dan Babeh.


"Pulang jam berapa? Nanti gue jemput." Tanya Randu saat Ami membuka helm, mereka sudah sampai di depan kantor tempat kerja Ami.


"Baik banget sih pangeran aku..." Ami tersenyum lebar. "Jam lima."


"Oke, gue jemput. Mumpung gue lagi di Jakarta, kan kita LDR-an jadi harus memanfaatkan kebersamaan kita."


"So sweet..."


"Udah cepat masuk, entar telat lagi."


"Makasih ya udah anterin gue. See you..." Ami melambaikan tangan pada Randu sebelum masuk kantor.


"See you..." Randu membalas lambaian tangan Ami lalu pergi.

__ADS_1


ISTIRAHAT makan siang Trio Kiyut berkumpul di kedai bakso beranak super hot. Leni dan Cici memaksa Ami untuk mau datang karena sangat ingin tahu apa yang terjadi kemarin, dihari pertama Ami berkencan.


Dengan iming-iming makan siangnya dibayari Cici dan Leni, Ami yang awalnya menolak pun akhirnya bersedia datang. Matre? Ami kan memang matre sejak lahir.


"Lo mau makan apa? Cepetan bilang ke Mas-nya." Ucap Cici tak sabar.


"Buru-buru bamget sih." Gerutu Ami.


"Biar lo cepet makan dan punya tenaga buat cerita ke kita berdua, ya nggak, Len?" Cici meminta dukungan Leni.


"Bener banget!" ungkapan pro dari Leni membuat Ami curiga.


"Kok gue nyium bau yang kurang enak ya?" Tanya Ami.


"Biar enak tambah micin sama garam, tinggal minta sama Mas-nya." Seloroh Cici.


Pesanan mereka pun datang dan langsung disantap oleh tiga gadis yang beranjak dewasa itu dengan semangat 45. Baru sesendok yang masuk ke mulut Ami, Cici sudah memulai sesi tanya jawab menyelidiki kronologi kencan perdana Ami dengan Pangeran Berkuda Hitamnya.


"Kemarin lo jalan me mana?"


"Ke taman Sakura." Ami kembali memasukkan bola daging berukuran kecil entah anak keberapa dari si ibu bola daging yang Ami tikam supaya melahirkan anak-anaknya.


"Ngapain aja lo di sana?" kini Leni yang bertanya.


"Namanya orang pacaran ya kita jalan-jalan sambil bergandengan sepanjang jalan kenangan lah."


"Lo dicipok ga sama Randu?" Cici bertanya seraya tersenyum menampilkan giginya.


"Dih! Keponya kebangetan! Ga ada pertanyaan lain apa?" Protes Ami.


"Tinggal jawab doang susah banget." Ucap Cici mencubit hidung Ami.


"Aww! Sakit tau!" Pekik Ami. "Lo ngilangin bekas ******* Randu di idung gue, padahal gue udah ati-ati banget biar bekas cipokannya bisa jadi prasasti."


"Masa iya nyium idung? Nyium tuh di bibir biar mesra, Bakmi!" Protes Cici.


"Ya suka-suka dia lah. Mungkin dia mau berurutan, kening, idung terus baru bibir giliran besok-besok." Jawab Ami asal.


"Sumpah lo Randu nyium idung lo?" Tanya Leni.


Ami mengangguk. "Emang napa?"


"Lo ga lagi pilek kan, Mi?"


"Sembarangan! Idung gue bersih kagak ada sumsumnya!"


"Ya kali ada sumsumnya, jadi berasa manis asem asin kaya nano-nano gitu." Oceh Cici.


"Kalo idung gue lagi ada sumsumnya, mana mau dia nyipok idung gue."


"Terus, kapan jadwal dia nyipok bibir lo?"


Yassalaam pertanyaan macam apa ini? Emang ciuman bisa direncanakan?


Hai hai,,, Ami dan Randu hadir menemani malam minggu kalian. Cung siapa yang kencan perdananya seperti Ami? Atau yang sudah menjadwalkan saat *kissin**g*?


**Cirebon, 12 Maret 2022


Jangan lupa like, komen, fav dan hadiah juga yaaa buat Ami.

__ADS_1


Jangan lupa juga baca karya aku yang lainnya**



__ADS_2