
RANDU menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi gadis di depannya. Dia tidak tahu apa yang membuat Ami terlihat marah sampai tidak mau melihatnya.
"Ikut gue."
"Ogah!" Tolak Ami tegas.
"Kita perlu bicara. Kenapa datang-datang lo marah?" Tanya Randu tidak mengerti.
"Ga ada yang perlu dibicarakan. Gue mau balik ke Jakarta."
"Lo udah datang ke sini dan lo mau balik lagi?"
"Emang kenapa? Masalah buat lo?" Ami menunjukkan ketegarannya padahal hatinya merasa lain. "Udahlah, gue mau balik."
Ami belum membalikkan badannya tapi ucapan Randu mampu menghentikan gerakannya.
"Lo bilang lo mau makan sepuasnya kalau lo main ke Bandung."
"Ga jadi!"
Kreuukkk...
Ami dan Randu saling pandang. Ami memejamkan matanya menahan malu sementara Randu menutup bibirnya rapat-rapat menahan tawa.
Aduh... Dasar perut kampung! Ga bisa diajak kompromi! Bikin malu aja nih perut. Auto ga bisa jual mahal ini sih! Bikin kesel aja! Masa gue harus obral harga diri gue gara-gara perut? Pasaran gue bisa turun nih! Ya Tuhan,, mimpi apa gue semalam sampe mengalami kejadian super memalukan ini?
Randu langsung menarik tangan Ami menuju motornya. "Kita ke warung."
"Enggak!" Ami masih menolak. Tengsin gue gara-gara bunyi sialan ini!
"Lo bisa sakit kalo ga makan."
"Bukan urusan lo!"
"Kenapa sih lo susah banget diatur!?" Randu mulai kesal.
"Lo yang kenapa!?" Ami membalikkan pertanyaan.
"Kok gue?"
"Lo nyuruh gue ke sini tapi lo... Lo..."
"Gue kenapa?"
"Kalo lo udah punya cewek ngapain lo nyuruh gue ke sini!?" Ami menghapus air matanya kasar.
"Cewek?"
"Ga usah ngeles! Udah basi! Gue mau pulang!"
Ami mulai melangkahkan kakinya menjauhi Randu untuk menyetop angkot yang lewat. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang dan kemudian mendarat di jok motor. Randu langsung melajukan motornya menuju rumah makan miliknya.
Ami berusaha berontak, tapi dia merasa takut jika dia jatuh pasti tubuhnya akan sakit dan lecet-lecet. Iiihh, pasti ga cantik banget deh kalo sampe gue nyium aspal. Nyium Randu belum bisa, masa gue harus merelakan keperawanan bibir gue ke aspal? Ga banget deh!
Randu menghentikan laju kuda besinya tepat di depan rumah makan Sunda miliknya. Dia menggandeng tangan Ami memasuki rumah makan itu. Ami masih menyemberutkan bibirnya, apalagi saat dia bertemu dengan gadis yang tadi dirangkul bahunya oleh Randu.
"Ris, bawa nasi dan lauknya ke sini!" Perintah Randu saat sudah duduk di salah satu kursi di rumah makannya. Dia juga meminta Ami duduk di depannya.
__ADS_1
Randu memilih meja makan yang ada di bagian samping rumah makan. Rumah makan itu terdiri dari indoor dan outdoor. Dan mereka duduk di bagian outdoor-nya.
"A'a teh dari mana?" Tanya gadis yang dirangkul Randu saat Ami pertama datang tadi. "Ini siapa, A?"
"Dia Ami." Jawab Randu sambil tersenyum.
"Teh Ami? Yang sering A'a ceritakan ke Lisna?" Tanya gadis bernama Lisna itu ingin memastikan.
Randu mengangguk. "Iya."
Ami mengerutkan keningnya, merasa heran kenapa gadis itu seperti mengenalnya.
"Eleh-eleh, Teteh teh meuni geulis pisan.." Puji Lisna dengan logat Sundanya.
Ami meringis mendengar ucapan gadis itu yang sebenarnya pujian tapi dia tidak merasa kege'eran seperti biasanya karena tidak mengerti.
"A Randu sering cerita Teteh ke Lisna." Gadis bernama Lisna ikut duduk. "Kenalan atuh. Saya Lisna, adiknya A Randu." Lisna menyodorkan tangannya.
"Adik?" Ulang Ami terkejut. Wajahnya seperti orang bodoh yang sedang terkejut.
"Iya, Teh. A Randu ga pernah cerita tentang aku?" Ami menggeleng pelan.
Dan di seberang meja, Randu tersenyum menatap Ami tetapi Ami malah cemberut. Dua orang pelayan menyajikan nasi dan lauknya di atas meja di depan Ami.
"Mangga dahar, Teh." Ucap pelayan yang tadi diperintah Randu, tersenyum.
"Makasih, Ris." Balas Randu.
"Mangga atuh, Teh. Lisna ke belakang dulu ya." Pamit Lisna, adik Randu.
Ami menatap tajam Randu. Dia belum menyentuh makanan itu sama sekali, yang dia inginkan adalah penjelasan cowok di depannya. Randu tersenyum, mengerti apa yang diinginkan Ami.
"Cewek yang lo liat saat pertama ke sini tadi, dia adik gue. Gue punya dua adik dan dua-duanya cewek. Yang paling kecil dia sedang les karena tahun ini dia akan ujian SMA."
"Rumah makan ini milik lo?" Tanya Ami.
"Ya."
"Lo bilang warung makan kecil-kecilan, kalau ini sih namanya rumah makan!" Protes Ami kesal.
Randu hanya tersenyum, mereka kini tinggal berdua.
"Gue hanya ingin tau, apa lo akan ke sini saat lo tau gue cuma pangeran berkuda hitam, bukan kuda putih?"
Ami tertegun mendengar penuturan Randu. Dia menatap cowok di depannya tanpa kedip. Lama mereka diam dan saling pandang.
"Gue... Gue..." Ami tak kunjung menyelesaikan kalimatnya.
Randu tersenyum, "gue tau. Sekarang kita makan dulu ya."
Kreeuukk...
Dasar perut ga tau diri! Lo udah bikin malu gue dua kali! Bodo ah! Kalo mau malu sekalian, jangan nanggung!
"Ini gratis, kan? Gue ga bakal dimintai bayar, kan?" Tanya Ami tak tahu malu.
Randu tertawa kecil. "Seperti janji gue, GRATIS! Lo ga perlu bayar meski lo juga ke kamar mandi, ga ada kotak suruh isi dua ribu di depannya."
__ADS_1
"Eh!?" Ami tersentak. Dia merasa kaget karena Randu bisa bercanda juga. Tapi sedetik kemudian, Ami langsung mencelupkan tangannya ke mangkok cuci tangan dan berdoa, lalu memulai ritual makan karena cacing di perutnya sudah berdemo sejak dia turun dari angkot.
Randu tersenyum lalu mengikuti jejak Ami.
Di dapur rumah makan, Lisna dan Riris sedang bergibah-ria tentang Randu dan Ami.
"Itu pacar A Randu, Lis?" Tanya Riris.
"Kayanya. A Randu pernah cerita tentang gadis yang disukainya sejak SMA. A Randu dulu di Jakarta, ikut Mamang. Dan sebulan yang lalu, A Randu cerita tentang pertemuannya kembali dengan gadis bernama Ami. Dan Teteh itu yang bernama Ami." Cerita Lisna.
"Tapi kayanya bener dia pacarnya A Randu. Lihat, A Randu senyum dan tertawa sama si Teteh!" Tunjuk Riris.
"Teh Ami cantik." Puji Lisna tersenyum.
"Iya sih cantik. Tapi kumaha kalau Teh Intan tau?"
"Masa bodoh! Lagi pula A Randu ga suka sama Teh Intan. Teh Intan itu judes, ketus, cuma pura-pura baik di depan A Randu."
"Iya juga sih. Tapi kalau dia nanti marah-marah, kumaha?" Tanya Riris cemas.
"Kalian sedang apa ngumpul di sini?" Tegur seorang wanita paruh baya.
"Eh, Ibu..." Lisna menyambut kedatangan Ibunya dengan mencium punggung tangannya. "Bu, Bu, lihat deh itu." Lisna menunjuk keluar, ke arah Randu dan Ami duduk.
"Saha eta?" Tanya Ibu Lisna yang tentunya Ibu Randu juga.
"Eta teh, si Teteh Ami." Jawab Lisna.
"Ami?" Lisna mengangguk. "Ami bogohna Randu!?" Seru Ibu yang mulutnya langsung ditekap Lisna.
"Ibu jangan keras-keras, nanti mereka dengar." Lisna mengingatkan.
"Maaf, Ibu teh khilaf." Ibu tersenyum. "Ibu mau ke sana ah."
"Eh, Ibu, jangan atuh!" cegah Lisna.
"Kenapa? Ibu teh dari dulu penasaran sama yang namanya Ami. Masa sekarang sudah ada di sini Ibu ga ngobrol sama dia?" Tanya Ibu dengan logat Sunda yang khas.
Ibu tidak menghiraukan larangan Lisna, dia tetap melangkah mendekati Randu dan Ami.
"Randu, iyeu teh saha?" Tanya Ibu pura-pura belum tahu.
"Eh, Bu. Kenalin, ini Ami. Mi, ini Ibu gue." Randu mengenalkan.
Ami mencium punggung tangan Ibu Randu dengan sopan dan dihiasi senyuman. "Ami, Bu."
"Eleh-eleh, meuni geulis pisan..."
Blush...
Welcome March, welcome my moon
**Jangan lupa mampir ya kakak-kakak semuaaaa 😘😘😘
Cirebon, 1 Maret 2022**
__ADS_1