
"*Terus, kapan rencana dia nyipok bibir lo?"
Yassalaam memang ciuman bisa direncanakan ya*?
"Astoge! Emang ******* pake jadwal? Len, lo ******* sama Abang gue jadwalnya kapan?" Ami malah melempar tanya pada Leni.
"Mana ada jadwal *******. Jadwal kencan ya ada." jawab Leni.
"Noh, si Cici minta jadwal *******." tunjuk Ami pada sohibnya yang sedang asik memasukkan si panjang keriting berwarna kuning ke mulutnya.
"Gue pengen jadi seksi dokumentasi sejarah cinta lo berdua." dalih Cici asal.
"Kalau lo mau dokumentasiin sejarah pacaran kita sih ga apa-apa. Asal jangan jadi dokumenter pas gue lagi malam pertama aja." ucap Leni yang diangguki Ami.
"Waw, emejing! Boleh juga nih idenya! Gue bakal dokumentasiin malam pertama kalian dengan cara pasang sisitivi di setiap sudut kamar lo!" seru Cici menemukan ide gila.
"Ga bakal gue ijinin lo masuk ke kamar pengantin gue!" larang Ami.
"Emang lo mau cepet-cepet merit, Mi?" tanya Leni.
"Ya,,, enggak juga sih." Ami menyeringai menampilkan barisan gigi putihnya.
"Pokoknya gue dulu yang nikah. Kan Bang Arman kakak lo, masa iya lo dulu." ucap Leni.
"Dih! Jodoh mah ga kenal siapa dulu. Kali aja gue duluan yang dapat jodoh dari pada Abang gue." Ami menyebikkan bibirnya.
"Di mana-mana yang namanya kakak ya nikah duluan!"
"Kalo kakaknya cowok dan adeknya cewek, adek cewek boleh duluin kakak cowoknya!"
"Eh! Udah mau kelar nih jam makan siang!" seru Cici yang baru saja melihat layar ponselnya.
"Masa iya!?"
"Omegat!! Bisa-bisa kena omel Bu Lala nih!"
Trio Kiyut panik berjama'ah. Gara-gara asik bahas jadwal ciuman, mereka sampai lupa jika waktu istirahat makan siang sebentar lagi habis, sedangkan makanan mereka belum habis.
"Bentar dong! Mi ayam gue pasti nangis kalo sampe ga ketemu sama teman seperjuangan mereka waktu dimangkok tadi." seru Cici yang langsung memasukkan sisa mi ayam yang masih dimangkok ke mulutnya.
"Iya nih! Anak bakso gue yang tersisa juga bakal nangis nyari emaknya yang udah masuk duluan ke perut gue." Ami pun mengikuti jejak Cici yang dengan cepat menghabiskan sisa makanan dimangkok mereka.
"Ya'elah! Telat dong kita masuk kantor." Leni, sebagai satu-satunya anggota yang sudah menghabiskan makanannya mulai mengomel karena tidak sabar.
"Sayang, Len. Mubazir. Mubazir itu temennya setan. Lo mau jadi setan karena gue mubazirin makanan gue?" tanya Cici sotoy.
__ADS_1
"Apa hubungannya? Kan lo yang mubazirin makanan?"
"Ya kan gue mubazirin makanan dan yang suka mubazirin makanan itu temennya setan. Lo temen gue, berarti lo setannya."
"Sembarangan banget mulut lo, Maymunah!" bentak Leni pada Cici.
"Udah jangan berantem mulu! Yuk cabut!" ajak Ami.
AMI berlari kecil memasuki kantor dan langsung menuju kubikelnya. Dia langsung menghempaskan pantat semoknya di kursi kerja, mengambil napas dalam dan menghembuskannya pelan untuk menormalkan deru napas yang memburu.
"Ami! Kamu terlambat ya!?" tanya suara tajam dari arah samping kirinya. Ami menoleh ke asal suara, dilihatnya Bu Lala, kepala bagian administrasi, sudah berdiri di ambang pintu dan menatapnya tajam.
Ami tersenyum canggung. "Maaf, Bu."
"Cepat selesaikan tugas laporan hari ini dan jangan terlambat lagi!" setelah berkata penuh penekanan dan peringatan pada Ami, Bu Lala kembali masuk ke ruangannya.
"Huffhh..." Ami mengelus dadanya lega setelah lepas dari omelan harimau betina berkaca mata itu.
"Kamu habis kemana sih, Mi? Kok sampe telat?" tanya Mba Maya.
"Biasa, Mba. Makan siang bareng teman tapi karena asik ngobrol malah lupa waktu. Hehe..." Ami cengengesan. Dia langsung mengerjakan apa yang ditugaskan oleh atasannya karena tidak ingin mendapatkan omelan sesi kedua.
❤
"Ga apa-apa. Tapi ga salah kan laporannya?" tanya Randu.
"Ish! Jangan remehin cewek lo yang labil ini, biarpun somplak otak gue gak ikutan somplak."
Randu tertawa tanpa suara mendengar jawaban Ami. "Cepet naik."
Ami langsung naik ke boncengan motor Randu setelah memakai helm lalu memeluk pinggang pemuda yang 2 minggu lalu resmi menjadi kekasihnya.
"Langsung pulang?" tanya Randu.
"Pengen jalan." jawab Ami manja.
"Ga usah sok manja. Biasanya juga somplak ya somplak aja."
Ami menggelitiki pinggang Randu lalu mereka tertawa di atas motor yang mulai melaju. Mereka mengitari pusat kota, berkeliling di jalanan kota menjelang malam yang cukup macet. Inilah Jakarta, yang akan macet saat jam berangkat dan pulang kerja.
Ami menunjuk kedai pecel lele yang ada di pinggir jalan. Mereka memutuskan makan malam di kedai itu setelah lelah berkelana. Sambil menunggu pesanan datang, mereka duduk di bangku panjang yang ada di kedai.
"Gue kangen masakan lo." ucap Ami.
"Nanti, kalau lo ke Bandung lagi gue masakin."
__ADS_1
"Gue ga nyangka kalau lo bisa semanis ini. Coba gue rasain." tanpa membuang waktu, Ami bersiap menjilat pipi Randu.
"Ngapain, Neng?" tanya pembeli laki-laki yang diperkirakan berumur 35 tahun.
Ami yang semula masih dalam posisi menjulurkan lidah bersiap menjilat Randu, kini menyeringai menampilkan barisan giginya yang bagaikan mutiara. "Dia manis, Pak. Jadi pengen jilat."
Bapak itu hanya menggelengkan kepala saja mendengar jawaban Ami. Sementara Ami cuek seperti biasa, tanpa merasa malu layaknya orang yang tertangkap basah.
"Makanya kalau banyak orang jangan somplak."
"Aduh, duh, duh." Ami meringis saat Randu mencubit hidungnya. "KDRT nih!"
"Mana ada?"
"Ada lah! Nih! Idung imut gue yang menggemaskan jadi merah gara-gara lo." ucap Ami membesungut.
Randu tersenyum lebar. "Idungnya minimalis sih, jadi gemes."
"Ini udah dari sononya, cetakannya emang kaya gini. Dari pada idung tambalan jadi-jadian, mendingan idung asli meski minimalis."
"Silakan, Mba, Mas." suara pelayan kedai pecel lele mengalihkan fokus pasangan terbaru bulan ini.
"Makasih, Mas." balas Ami dan Randu berbarengan.
Mereka memesan menu yang berbeda. Ami dengan pecel lelenya sementara Randu dengan bebek gorengnya. Kenapa? Itu semua atas saran Ami.
Jika kalian berpikir 'pasti supaya bisa berbagi', pemikiran kalian tepat! Menurut Ami, jika makan berdua, atau bertiga, atau berapa pun, pilih menu yang berbeda supaya bisa saling mencicipi satu sama lain. Simpel, kan?
Mereka pun menyantap makanan mereka dengan nikmat. Seperti tujuan Ami saat memesan makanan, mereka berbagi makanan itu. Ami memberikan lelenya 1 pada Randu, lalu dia memotong bebek Randu untuk disantapnya.
Selesai makan mereka tidak langsung pergi, memilih mengobrol hal-hal yang ringan untuk mengisi kencan mereka di Senin malam.
"Hai, Randu. Pantesan tadi aku ke rumah kamu ga ada." sapa seorang gadis pada Randu.
Ami dan Randu yang semula sedang mengeluarkan candaan ringan mereka langsung fokus pada gadis di depan mereka.
**CUT!!
Maaf ya teman-teman, di-cut dulu adegannya dan akan disambung besok lagi 😃😃
Sambil nunggu Ami besok, baca karya Emak yang lain yaa 👇**
Cirebon, 14 Maret 2022
__ADS_1