Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
25. Galau


__ADS_3

AMI melipat kembali kertas itu, dia berjalan gontai kembali ke wisma. Leni dan Cici hanya bisa mengikuti langkahnya dalam diam. Ami masuk ke kamarnya dan segera mengemasi barang-barangnya.


"Mi, lo kan belum sarapan. Sarapan dulu gih, tar masuk angin lagi." Ucap Leni.


Ami tak menjawab, dia fokus memasukkan barang-barangnya ke tas. Cici keluar dari kamar dan 10 menit kemudian dia masuk lagi dengan membawa sepiring sarapan dan air mineral.


"Lo harus sarapan. Kita ga mau lo sakit." Cici menyodorkan piring itu pada Ami.


Dengan malas Ami menerima piring itu. Dia menatap sarapannya lama tanpa menyentuh sendoknya.


"Lo boleh susul Randu, tapi lo harus sarapan dulu." Saran Leni.


Ami tiba-tiba mendapatkan semangat untuk sarapan. Dia menyantap sarapannya dengan lahap dan cepat.


"Ya'elah, lo kaya orang mau perang aja dan ga bakal makan berhari-hari." Komentar Cici.


"Gue kudu sarapan buat ngadepin si kuntilanak!" Seru Ami.


"Ha!? Kuntilanak!? Apa hubungannya?" Tanya Cici.


"Iya, apa hubungannya, Mi?" Leni pun ikut heran seperti Cici.


"Masa kalian ga ngerti sih!? Randu kan ninggalin gue tanpa kata, ini bakal jadi ladang bulian penuh kemenangan buat si kuntilanak!"


"Iya juga ya. Ko gue ga mikir kesitu ya." Cici dan Leni mengangguk.


"Pokoknya gue harus siapin stamina buat duel lawan si kuntilanak. Gue ga mau jadi kaum tertindas! Gue pengennya yang nindas dia!"


Semangat Ami berkobar layaknya pahlawan yang akan perang. Selesai makan dan membersihkan badan, mereka bertiga turun ke lantai bawah dengan membawa barang-barang mereka, bersiap untuk pulang.


"Kasihan yang ditinggal sama cowok idaman, dicuekin lagi. Cinta ditolak, dicuekin, terus ditinggalin. Lengkap banget penderitaan lo yang mengenaskan." Sindir Sesil saat Trio Kiyut turun.


Sesuai dugaan, bukan?


"Seenggaknya, gue bukan orang yang suka bo'ong! Yang ngaku-ngaku jemput cowok buat pamer di depan orang biar disangka punya pacar! Gue juga bukan selingkuhan cowok dari rival gue!" Balas Ami sadis!


"Heh! Apa maksud lo!?" Bentak Sesil marah.


"Lo ga nyangka, kan, gue tau tentang kebo'ongan lo? Lo mau tau, siapa yang bilang ke gue?"


Sesil menatap Ami tajam dengan rahang mengeras dan hidung kembang kempis.


"Kasih tau ga ya? Hehe... Enggak ah, biar lo pingsan penasaran. Yang penting gue tau lo ga jemput Randu, lo cuma mau manas-manasin gue. Daaah..."


Ami melambaikan tangannya dan pergi. Sesil menatap kepergian Ami seolah ingin memakan gadis itu hidup-hidup. Dia sangat kesal, marah dan penasaran siapa yang sudah memberi tahu Ami tentang kebohongannya.


***


EMPAT puluh hari sudah sejak perpisahan Ami dan Randu di puncak pada acara reuni SMA mereka. Ami menjalani harinya seperti biasa. Ami gadis yang ceria, tetapi setelah acara reuni itu dia sedikit pendiam. Dia kadang termenung saat dirinya sedang sendiri.

__ADS_1


Leni dan Cici berulang kali menyarankan Ami untuk ke Bandung menemui Randu, tapi Ami merasa belum siap mental jika jauh-jauh dia ke Bandung dan akhirnya penolakan lagi yang dia terima. Ami harus berpikir berulang kali apakah dia akan mengikuti saran kedua sahabatnya atau tidak.


"Mi, ada masalah apa sih lu? Belakangan Emak perhatiin lu sering bengong sendirian. Apalagi sekarang magrib-magrib, pamali! Tar kesambet kuntilanak lu." Tegur Emak melihat anak gadisnya duduk di teras sambil bengong.


"Jangan sampe kesambet kuntilanak dong, Mak. Sering adu mulut sama kuntilanak aja udah bikin hayati lelah, Mak."


"Nih bocah. Mana ada kuntilanak adu mulut ama manusia!"


"Ada, Mak! Aye sering debat ama kuntilanak, apalagi waktu SMA hampir tiap hari Aye debat ama kuntilanak."


"Eh, anak perawan! Kuntilanak yang lu maksud itu siapa? Emak?"


"Emang Emak kuntilanak? Emak kan Emaknya Aye, berarti Aye anak kuntilanak dong."


"Sembarangan nih bocah! Ngatain Emaknya sendiri kuntilanak! Kualat lu!"


"Kan Emak sendiri yang bilang!" Protes Ami.


"Udah sono, masuk! Anak perawan magrib-magrib bengong di teras, kagak baek!" Emak mendorong Ami agar masuk rumah.


"Ade ape sih, Yam? Magrib-magrib berisik bener." Tanya Babeh.


"Nih anak perawan Abang, magrib-magrib bengong di teras. Dibilang tar kesambet, malah ngatain Aye kuntilanak!" Adu Emak sewot.


"Dih! Siapa yang ngatain Emak kuntilanak? Emak sendiri yang bilang kalo Emak kuntilanak, Aye cuma nambahin berarti Aye anak kuntilanak. Gitu!" Ami tidak terima dituduh Emak.


"Udeh, udeh! Kagak enak didenger tetangga." Babeh melerai keributan Emak dan anaknya.


Ami langsung masuk kamar sebelum mendengar ocehan Emaknya lagi. Ami merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuknya, matanya menerawang. Kembali berpikir apakah akan melakukan saran Leni dan Cici? Atau diam saja dengan kepengecutan yang hakiki?


Ami menghembuskan napasnya kasar. Baru kali ini dia dibuat pusing oleh seorang cowok. Dulu saat berhubungan dengan Ardi, dia tidak pernah memikirkan cowok itu sampe pusing tujuh keliling seperti ini. Sampai mengetahui cowok itu selingkuh pun Ami tidak sesedih saat ditolak Randu. Apa karena yang dia rasakan pada dua cowok itu berbeda ya?


Au ah! Pusing!!


Ami mengacak rambutnya asal.


***


"NAPA sih lo, Mi? Masih uring-uringan aja." Tanya Cici.


"Gue galau..." Ucap Ami malas.


"Kan kita berdua udah kasih saran. Kalo lo masih suka sama Randu, lo pergi ke Bandung buat ketemu dia dan lo bilang ke dia perasaan lo." Balas Leni.


"Lagi?" Tanya Ami masih dengan nada malas. Mereka sedang berkumpul di rumah Leni hari Minggu ini.


"Ya,, siapa tau kali ini lo beruntung." Jawab Cici berspekulasi.


"Iya kalo gue beruntung. Kalo ga beruntung, rugi ongkos gue!"

__ADS_1


"Ya'elah lo mau ngejar jodoh itung-itungan banget sih, Mi!" Ucap Cici.


"Gue sarjana ekonomi, jadi gue harus itung untung rugi. Gue juga harus itung grafik keluar masuk duit gue." Papar Ami beralasan.


"Itu sama dengan pelit, Bakmi!" Seru Cici.


"Ya kagak lah! Itu managemen keuangan!"


"Kalo orang selalu mikirin grafik keluar masuk uang, itu akan buat dia jadi pelit!"


"Bukan pelit, tapi dia waspada jika ada keperluan mendadak yang tak terduga!"


"Nah, ambil aja tuh dana tak terduga lo buat ke Bandung!"


"Stop! Berisik banget sih kalian berdua! Pusing gue dengernya, budek telinga gue!" Seru Leni mencoba menghentikan debat dua sahabatnya.


"Kalo lo masih galau ya udah. Lo pikir mateng-mateng, tapi kalo Randu keburu sama cewek lain lo tanggung sendiri resikonya." Nasehat Leni.


"Jangan sampe lo nanti meweknya ke gue!" Cici menambahi.


"Kalo gue ga mewek ke lo berdua, terus gue meweknya ke siapa?"


"Bodo! Ke si kuntilanak juga boleh!" Jawab Cici kesal.


"Yang ada gue diketawain si kuntilanak plus disukurin!"


"Biarin! Lo kan bandel!"


"Bandel gimana?"


"Ya lo kan udah dikasih tau kita berdua buat nyamperin jodoh lo ke Bandung. Tapi lo mikirnya panjang bener kaya jembatan Suramadu!"


"Gue ga mau kecewa lagi!"


"Lo kan udah biasa kecewa, jadi harusnya lo udah tahan banting buat nerima kekecewaan lagi."


"Sembarangan lo, ngatain gue bakal kecewa lagi! Kualat lo!"


"Itu karena lo susah dikasih saran!"


"STOP!!! Kok mulai lagi sih!" Leni sampai berteriak untuk melerai kedua sahabatnya yang lagi-lagi beradu argumen tanpa ada yang mau mengalah.


"Jadi, keputusan lo apa? Ke Bandung atau enggak?"


Jangan bosen kalau otor promosi lagi. Yuk mampir ke karya aku yang lainnya 👇



Cirebon, 27 Fabruari 2022

__ADS_1


__ADS_2