Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
53. Yess! Sahh!


__ADS_3

"Jadi dari tadi lu nyariin si Randu?" tanya Emak.


"Ya iya, Mak. Aye nyariin calon laki aye, kan yang mau ngelamar aye dia. Kenapa yang ada cuma keluarga dia?"


"Astaghfirullaah ...." Emak menepuk keningnya, tidak habis pikir dengan kelakuan anak gadisnya. Leni dan Cici yang berada di belakang Ami pun ikut menepuk kening berjama'ah.


"Bikin malu aje lu. Yang namanya lamaran ya emang kaya gini, calon penganten laki kagak ikut acara lamaran. Cukup keluarganya aja, tapi bukan berarti lu bakal kawin ama keluarganya," sembur Emak.


Ami manggut-manggut seraya memanyunkan bibirnya. "Padahal gue udah kangen sama dia," lirih Ami.


"Biasanya juga lu ketemu sama dia sebulan sekali. Dah cepet sono! Salaman ama keluarga calon laki lu," perintah Emak.


Ami pun menurut, dia berkeliling dengan menampilkan senyum pepsoden di bibirnya. Segenap keluarga Randu tersenyum melihat Ami. Beberapa diantara mereka ada yang berbisik-bisik.


'Cantik ya calonnya Randu?'


'Iya, ramah juga.'


'Kata Lisna, calon istrinya A Randu suka bercanda'


'Sepertinya memang begitu. Kemarin waktu aku datang ke rumah makan A Randu, dia lagi teleponan sambil ketawa. Lilis bilang sih lagi teleponan sama pacarnya.'


Selesai acara salam-salaman, rombongan keluarga Randu yang diwakilkan pamannya pun memulai acara lamaran dengan sambutan ala kadarnya. Ami, Cici dan Leni tersenyum bahagia mengingat salah satu dari mereka bertiga akan mengakhiri masa lajangnya. Arman yang duduk di samping Leni berbisik.


"Kita nyusul ya," bisik Arman.


Leni tersipu seraya menundukkan kepalanya. "Kapan?" tanyanya balas berbisik.


"Kapan-kapan. Aww!" Arman memekik saat pahanya mendapat hadiah cubitan dari kekasihnya itu. "Sadis bener sih, Yang."


Hampir semua mata menoleh ke arah Arman. Sementara yang menjadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum cemerlang. Arman menunduk beberapa kali sebagai isarat meminta maaf.


"Makanya jangan bercanda mulu!" geram Leni. "Kalau Bang Arman masih lama, aku mau cari yang lain aja. Aku ga mau jadi perawan tua," ucap Leni ketus.


"Jangan dong! Tunggu bentar lagi, tahun depan ya. Abang pasti ngelamar Eneng." Janji Arman.


"Ya udah, aku tunggu sampe bulan depan ...."

__ADS_1


"Tahun depan, Neng. Bukan bulan depan," ralat Arman.


"Iya, tahun depan." Leni memutar bola matanya.


Semua tampak bahagia, kecuali seorang gadis yang duduk bersandar di dinding pembatas antara ruang depan dan ruang tengah. Dia menatap Ami dengan wajah yang tak sedap dipandang, kurang micin barangkali. Bibirnya maju ke depan dengan muka ditekuk.


Kenapa sih Si Ami laku duluan dari pada gue? Kenapa juga Randu lebih milih dia dari pada gue? Cantik, cantik gue. Tajir juga tajir keluarga gue. Rumahnya aja sempit kaya gini kok Si Randu mau? Gue ga rela pokoknya. Masa primadona kampus nikahnya keduluan sama Si barbar? Aaaarrrggghhh!


Tanpa sadar Sesil *******-***** bajunya dengan mata terpejam dan kepala menggeleng. Dia benar-benar tidak terima jika Ami lebih dulu menikah dari pada dia. Menurutnya itu tidak adil karena dia sudah populer sejak sekolah dan menjadi primadona kampus saat kuliah.


"Kenapa lo? Lo sehat? Apa belum minum obat?" tanya Cici yang duduk di dekatnya.


"Diem lo! Gue lagi bad mood!" bentaknya pelan.


"Paling lo lagi misuh-misuh kan, gegara Si Ami mau nikah?" cibir Cici.


Pokoknya tahun ini gue harus nikah! Jangan kalah sama Si barbar dan jangan lama-lama dari dia. Gara-gara ngurusin muka biar mulus lagi, gue sampe ga tau kalau Si barbar merebut Randu dari gue. Mata Sesil menyorot tajam pada Ami yang sedang tersenyum dan sesekali tertawa bahagia.


***


Pagi ini semua penghuni rumah Ami sangat sibuk. Banyak orang berlalu lalang baik di dalam mau pun di luar rumah. Ya, hari ini adalah hari di mana Ami akan melepas status lajangnya.


"Cepetan mandi!" Perintah Emak.


"Aye ngantuk, Mak. Semalam kagak bisa tidur," dalih Ami. "Tidur dulu ya bentar."


"Lu mau didandanin. Masa calon laki lu datang lu masih kucel kaya kain pel." Emak menarik tangan Ami ke kamar mandi.


Selesai mandi dan sarapan, Ami pun mulai dimake-up. Febi sampai kesal karena Ami selalu protes dan ngomel ini-itu. Saking kesalnya, Febi sengaja menekan wajah Ami sedikit kuat.


"Aw! Pelan-pelan napa! Muka gue bisa penyok kalau ditekan kuat begini!" protes Ami.


"Lo berisik!" bentak Febi.


"Inget, jangan menor!" Kembali Ami mengingatkan.


"Bawel!"

__ADS_1


Leni dan Cici ikut sibuk berdandan, mereka akan menjadi pagar ayu di pernikahan Ami. Semua ingin tampil cantik di acara pernikahan Ami, tak terkecuali Emak. Emak memakai kebaya warna pastel.


"Penganten laki datang!" seru salah satu kerabat Ami.


Emak terburu-buru ke luar rumah, bergabung bersama Babeh yang lebih dulu ke luar. Mereka menyambut Randu beserta keluarganya. Randu duduk di tempat ijab qobul yang sudah disiapkan di teras rumah.


Ami ke luar setelah Randu terlebih dahulu duduk di depan penghulu. Dia berjalan perlahan ke arah Randu dengan senyum malu-malu mau. Cakep bener calon laki gue.


Randu pun terpesona melihat Ami. Ami jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya karena make up yang melekat di wajahnya. Randu tersenyum manis saat Ami duduk di sampingnya.


Pak Penghulu memulai proses ijab qobul, tangan Randu dan Babeh sudah saling menjabat. Sesaat setelah Babeh mengucapkan akad, Randu langsung menyambut dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ami Kamila binti .... Tunai!"


"SAH!" ucap beberapa saksi.


Ami ikut bersorak bersamaan dengan saksi. "Sah! Yess! Sah!" soraknya bertepuk tangan lalu mengangkat kedua tangannya.


Semua yang hadir sempat ternganga melihat tingkah Ami. Emak, Babeh dan Arman menepuk kening masing-masing. Tetapi beberapa detik kemudian, suasana akad nikah yang khidmat itu berubah menjadi ramai dengan suara tawa para hadirin.


"Enggak bisa! Pernikahan ini ga sah!"


**Cirebon, 12 April 2022


Yess sah! Ada yang mau ikut kondangan ga? Mau malam pertama Ami? Apa skip aja? Atau, Ami end aja kali yaa sampai sini.


Sambil nunggu voting, yuk baca karya teman Emak. Kali ini karya Author MOMOY DANDELION yang berjudul PURA-PURA MISKIN. Dijamin seru loh ceritanya.


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar**.

__ADS_1



__ADS_2