Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
13 Cinta Dalam Diam


__ADS_3

AMI sesekali mencuri pandang pada Randu, terkadang, saat dia melirik cowok di sampingnya itu mata mereka bertubrukan. Dan itu sukses membuatnya tersenyum geli. Ternyata suka curi-curi pandang juga.


Ami mengibaskan rambut panjangnya yang digerai. Randu melirik diam-diam. Ami tahu dan langsung menekap mulutnya menahan tawa.


Saat istirahat Ami diam di kelas, hingga semua penghuni kelas sudah keluar semua dan tinggal Ami dan Randu. Mereka berdua tidak bergeming dari kursi masing-masing.


"Lo ga ke kantin?" Tanya Ami membuka obrolan sembari membuka kotak bekalnya.


"Ga."


Pendek amat jawabannya. Ami memanyunkan bibirnya. "Mau makan ga?" Ami menyodorkan bekalnya pada Randu.


Randu menatap Ami yang mengangguk-angguk. Ditolak kok ga keliatan sedih atau sakit hati sih?


"Kenapa? Tenang aja, gue ga kasih racun atau pun pelet biar lo terima gue. Suwer!" Ami mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil tersenyum.


"Ga, buat lo aja."


"Lo beneran ga laper? Ga pa-pa kok, gue seneng kalo bisa makan sekotak berdua sama lo. Biar pun lo nolak gue." Ucap Ami dibuat sesantai mungkin.


Randu hanya diam.


"Kok diem sih!? Gue lagi maksa lo nih buat makan berdua!" Ami kembali menyodorkan kotak bekalnya lagi.


"Gue puasa." Akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Randu.


"Puasa!? Seriusan!?" Tanya Ami terkejut. "Wah... Bener-bener calon imam idaman.." Ami menopang dagu sambil menatap Randu dengan senyuman indah.


Ditatap seperti itu membuat Randu salah tingkah, dia terlihat kikuk dan mati gaya. Ami menahan tawa melihat tingkah Randu. Gue pikir cuma cewek yang bisa salting, ternyata cowok juga bisa. Lebih lucu malah. Hihihi..


"Lo ngetawain gue?"


"Ga. Gue lagi ngayal, coba kalo lo terima gue. Gue pasti jingkrak-jingkrak kaya kuda perari." Senyum Ami semakin lebar.


Randu tersenyum samar mendengar ocehan blak-blakan Ami.


Ami tersenyum melihat senyum samar tergurat dibibir cowok di sampingnya. "Baru kali ini gue liat lo senyum. Emang senyum lo mahal banget ya?"


Mendengar ucapan Ami, Randu langsung menutup rapat-rapat mulutnya.


Ami tertawa ringan. "Terus, gue diterima nih? Tadi lo senyum-senyum, sebelumnya lo juga salting kan?"


"Tetep enggak!" Keputusan Randu sudah bulat untuk menolak Ami.


Ami pun memanyunkan bibirnya. "Jadi lo tega nolak gue ketiga kalinya?"

__ADS_1


Randu hanya diam, tidak menjawab apa pun.


"Oke, fiks. Gue ditolak ketiga kali. Mengsedih.." Ami pun tidak menggubris Randu lagi, dia fokus makan bekal yang dibawanya dari rumah. "Sori ya kalo gue makan di depan lo. Tapi gue bukan setan yang lagi goda orang yang puasa loh. Aku cuma godanya lo sebagai Randu buat jadi cowok gue, tapi ditolak. Ya udah. Kalo lagi sedih gue bawaannya laper mulu."


Ami makan nasi lengkonya dengan khidmat. Randu melirik Ami yang sedang makan. Jadi cewek kok ga ada jaim-jaimnya di depan cowok. Randu geleng-geleng kepala lalu fokus baca buku, mengabaikan Ami yang asik makan di sampingnya.


"Bakmi.... Lo kok..." Cici menghentikan teriakannya saat memasuki kelas Ami dan melihat di dalam kelas hanya ada Ami dan Randu. Cici tersenyum kaku dan melambaikan tangan pada Randu.


"Lo sih.." Bisik Leni yang ada di belakang Cici.


"Mana gue tau." Cici balas berbisik.


"Sori... Kita ganggu ya?" Tanya Leni hati-hati.


"Enggak kok, nyantai aja. Kita ga lagi pacaran karena tadi gue ditolak lagi." Ucap Ami santai sambil tetap melanjutkan makannya.


Leni dan Cici saling pandang, mereka tidak menyangka jika Ami akan sesantai itu saat cintanya ditolak untuk ketiga kali.


"Ada apa?" Tanya Ami dengan mulut penuh nasi.


"Tadi kita mau nanya, kenapa lo ga ke kantin?" Jawab Cici.


"Gue lupa bilang ke lo berdua kalo mulai hari ini gue bawa bekal."


Cici langsung duduk di depan Ami. "Sejak kapan lo mau bawa bekel? Biasanya juga lo paling ogah bawa bekel."


"Kok bisa?" Tanya Leni.


"Ya bisalah! Pokoknya, kalo nyangkut Emak gue, gue harus bisa. Soalnya Emak pemaksa nomor wahid."


"Jadi lo bawa bekel disuruh Emak lo?" Tanya Cici.


Ami mengangguk sambil menelan makannya. "Lo mau tau kenapa?"


Leni dan Cici mengangguk kompak bagai wayang golek.


"Emak bilang, lo kudu irit, Mi. Lo kudu bawa bekel tiap hari biar ga jajan di sekolah, duitnya bisa lo tabung buat beli kosmetik ama baju. Biar lo bisa gaet si kinclong!" Ujar Ami menirukan Emaknya. "Ga tau aja dia kalo si kinclong yang dia maksud tuh udah nolak anaknya ampe tiga kali."


Randu tertegun mendengar ocehan Ami. Dia sempat menghentikan bacaannya karena dia tahu arti kata-kata Ami, bahwa yang disebut si kinclong oleh Emak Ami itu adalah dirinya.


"Tapi lo kok ga sedih sih, Mi?" Tanya Cici lagi.


"Kan dari kemaren gue udah bilang, gue ga mau jadi jones!" Ami meminum air dari botol yang dibawanya dari rumah.


***

__ADS_1


HARI berganti minggu, minggu berganti bulan. Ami awalnya dekat dengan Reno, tapi hati Ami tidak bisa berbohong jika di dalam sana masih ada sang Pangeran Berkuda Hitamnya. Maka dari itu, Ami mulai menjauh dari Reno. Apalagi Reno sedang sibuk menghadapi ujian akhir, jadi Ami bisa memberi alasan untuk menjauh dari kakak kelasnya itu.


Tapi sialnya, Pangeran Berkuda Hitamnya itu malah semakin dekat dengan si kuntilanak. Ami sering sekali memergoki dua makhluk itu sedang mojok di taman sekolah. Lama-lama gue sumpahin lo kesurupan kuntilanak beneran!


Ami hanya bisa diam melihat kedekatan mereka, dia sudah bertekad jika dia tidak akan menggoda Randu lagi. Dia tidak mau ditolak untuk yang keempat kalinya. Sakitnya tuh di sini.


Karena merasa sudah mendapatkan Randu, Sesil semakin menjadi. Perlakuannya pada Ami semakin menggila dan menghina. Ami diam bukan karena dia takut. Ingat! Ami gadis pemberani dan barbar! Hanya saja, Ami tidak mendengarnya sendiri. Dia tahu dari teman-temannya yang lain tentang Sesil yang selalu menjelek-jelekkannya. Tentu akan berbeda jika dia mendengarnya sendiri. Yang pasti, dia tidak akan gentar meski lawannya semakin barbar karena dia akan lebih barbar dari sang lawan.


Ami yang biasanya memakan bekalnya di dalam kelas, hari ini memilih memakannya di taman sekolah. Dia duduk di sebuah kursi yang ada di bawah pohon Akasia. Leni dan Cici memilih membawa makanan mereka dari kantin ke taman sekolah agar bisa menemani Ami.


"Besok jangan bawa bekel ya, Mi." Ucap Cici.


"Emang kenapa?" Tanya Ami heran.


"Besok, gue bakal traktir kalian di kantin!"


Ami dan Leni bersorak, "Horeee!"


"Lumayan kan traktirannya, buat menghibur hati yang lagi patah." Lagi dan lagi, Sesil selalu saja hadir diantara mereka bertiga.


"Astaghfirullah!" Kejut Cici. "Lo lama-lama bisa jadi kuntilanak beneran ya! Tiba-tiba nongol, tiba-tiba ngilang!" Omel Cici.


"Eh, kalian nyadar ga, dia berasa kaya jelangkung bukan sih? Dia selalu nongol tiba-tiba padahal ga dijemput dan dia selalu pergi gitu aja ga minta dianterin. Hahaha.." Ami menyambungi Cici.


"Bener juga.Haha..."


Trio Kiyut pun tertawa mengejek pada Sesil..


"Jangan sembarangan kalo ngomong! Dan lo!" Tunjuk Sesil pada Ami. "Jangan lagi deketin cowok gue! Gue ga suka lo deketin cowok gue!"


"Cowok lo siapa? Toto?" Ami pura-pura tak tahu.


"Iihh... Amit-amit deh gue sama Toto! Ya Randu lah!"


"Ooo..."


Sesil semakin kesal pada Ami karena pancingannya agar Ami marah-marah gagal. Akhirnya dia pergi begitu saja.


"Gitu tuh, kalo udah terpojok selalu kabur!" Seru Ami membuat Sesil tambah kesal dan menendang batu di tanah.


Trio Kiyut malah tertawa ngakak melihat Sesil yang menurut mereka seperti anak kecil yang lagi ngambek.


"Lo beneran, Mi, ga bakal deketin Randu lagi?" Tanya Leni dan Ami mengangguk.


"Entar si kuntilanak makin meraja lela, Mi." Ucap Cici.

__ADS_1


"Dia makin meraja lela ya biarin. Yang pasti, kalo dia ganggu gue, gue ga akan diem dijajah gitu aja. Tapi kalo soal Randu, gue ogah malu bertumpuk-tumpuk karena lagi-lagi ditolak dia. Yang pasti gue masih bisa tetep curi-curi pandang diem-diem."


Cirebon, 15 Februari 2022


__ADS_2