Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
16. Gacoan


__ADS_3

AMI menatap sengit dua mahasiswa di depannya lalu berbalik kembali ke antrian. Sementara dua mahasiswa itu melihat Ami dengan tatapan...takjub mungkin?


"Siapa tuh cewek?" Tanya mahasiswa yang menabrak Ami.


"Mana gue tau!" Jawab temannya. "Yuk lah cabut!"


"Bentar, gue penasaran sama tu cewek."


"Halah lo. Semua cewek dipenasaranin, tar kalo udah bosen ditinggalin."


"Kan lumayan buat koleksi, kalo cocok ya lanjut. Hehe.."


Setelah berkata seperti itu, cowok yang tadi menabrak Ami mendekati Ami. "Hai, boleh kenalan ga? Lo mahasiswi baru ya?" Tanyanya basa basi. "Gue Ardi." Si cowok yang bernama Ardi mengulurkan tangannya.


Ami menatap tajam tangan Ardi lalu beralih ke wajahnya. Cakep sih... "Modus." Gumam Ami lalu berpaling melihat antrian kembali.


Ardi tersenyum miring melihat tangannya tak disambut Ami. "Lo lagi sibuk ya? Oke, gue tunggu di kursi sana ya?" Tanpa menunggu jawaban Ami, Ardi menuju kursi yang ada di sudut ruangan.


Ami sudah selesai registrasi, dia hendak pergi dari tempat registrasi itu. Saat Ami akan keluar, dia dihadang oleh Ardi.


"Mau ke mana?" Tanya Ardi.


"Bukan urusan lo." Jawab Ami jutek.


"Jadi urusan gue karena gue mau traktir lo makan, sebagai ucapan maaf gue ke lo. Lagian gue udah nunggu lama loh."


"Dihh! Siapa yang suruh?"


Ami berjalan melewati Ardi tapi Ardi tak tinggal diam. Dia mengikuti Ami sambil terus mengajak bicara. Ami terus berjalan tanpa mempedulikan ocehan Ardi.


Dari arah berlawanan, Leni dan Cici datang. Kedua sahabat Ami heran melihat Ami diikuti cowok. Leni dan Cici menarik Ami agar menjauh dari Ardi. Ardi hendak mendekat tapi ditahan oleh Cici.


"Stop! Lo diem di situ! Lagian ngapain lo ngikutin temen gue!?" Seru Cici.


"Gue pengen kenalan tapi dia cuekin gue." Ucap Ardi.


"Berarti lo ga diterima!"


"Ga diterima apanya?"


"Buat kenalan. Kalo lo mau kenalan sama dia, lo juga harus kenalan sama kita berdua." Ucap Cici lagi.


"Apa'an sih lo, Ci!" Bisik Ami. "Lagian ngapain sih lo ngikutin gue!? Gue bilang bukan urusan lo!" Bentak Ami pada Ardi.


"Kan tadi gue udah bilang, gue pengen nraktir lo sebagai ucapan maaf gue karena nabrak lo." Jawab Ardi gigih.


"Kalo lo mau nraktir dia, lo juga harus nraktir kita berdua." Ucap Cici menunjuk dirinya dan Leni.


Ami melotot ke arah Cici tapi gadis itu hanya tersenyum lebar sembari mengacungkan jari tengan dan telunjuknya.

__ADS_1


"Nraktir lo bertiga?" Cici mengangguk. "Deal!" Ucap Ardi mengulurkan tangannya.


Cici langsung menyambut uluran tangan Ardi dan berucap, "deal!"


"Enak bener lo,Ci. Gue yang jadi korban, kenapa lo yang mutusin setuju?" Protes Ami menepis jabatan tangan Cici dan Ardi hingga lepas.


"Kan lumayan, Mi. Makan mi ayam juga ga apa-apa."


"Mi ayam aja terus." Ucap Leni.


"Jadi ga nih kita makan?" Tanya Ardi.


"Jadi! / Enggak!" Seru Trio Kiyut berbarengan tapi beda pengucapan. Cici bilang 'jadi', sementara Ami dan Leni bilang 'enggak'.


"Maafin gue deh. Sumpah! Gue bener-bener ga sengaja." Ardi kembali memburu Ami.


"Udah gue ma'afin, jadi stop ngikutin gue." Ucap Ami yang hendak pergi.


"Yaaah, Mi. Makannya ga jadi?" Tanya Cici lesu.


"Jangan kaya orang kismin deh, Ci." Tegur Leni.


"Tapi 'kan sayang, Len. Orang cuma makan kok dia yang bayar."


"Terus lo mau deketin dia biar dia traktir lo, gitu?" Ami kesal pada Cici.


Cici memang tidak bisa lepas dari makanan, itu sebabnya dia memiliki tubuh paling berisi diantara mereka bertiga.


***


Setiap pulang dari kampus, Ami ke pusat perbelanjaan untuk menjaga konter. Ardi mengikuti Ami sampai ke konter. Ami merasa risih dengan kehadiran Ardi di sekitarnya.


"Lo ngapain di sini?" Tanya Ardi.


"Mau ngamen!" Jawab Ami ketus.


"Kalo lo ketusin gue dan jutekin gue biar gue pergi, lo salah. Gue bakal tetep di sini karena gue pengen kenal lebih deket sama lo!" Ucap Ardi tak terbantahkan.


"Maksa banget jadi cowok! Ga pernah ditolak cewek ya jadi ngebet banget pas ada cewek yang nolak?" Tebak Ami asal.


"Kok tau? Biasanya, cewek yang gue deketin pasti salting dan langsung mau sama gue." Ucap Ardi jumawa.


"Basi!"


Ami melanjutkan langkahnya menuju konter tempatnya bekerja. Dia disambut oleh Koko Li, pemilik konter.


"Siang, Ko." Sapa Ami.


"Baru datang. Lama amat?" Tanya Koko Li.

__ADS_1


"Iya, Ko. Abis registrasi kuliah dulu." Jawab Ami tersenyum.


"Dia siapa? Pacar kamu?"


"Bukan! / Calon!" Jawab Ami dan Ardi bersamaan tetapi berbeda pengakuan.


"Dih! Siapa juga yang mau sama lo! Kenal juga enggak!" Ucap Ami kesal.


"Itu karena lo yang ga mau kenalan sama gue. Kan tak kenal maka tak sayang. So, kita kenalan yuk. Gue Ardi." Ardi mengulurkan tangan kanannya berharap Ami mau menerima salam perkenalannya.


Ami memutar bola mata lalu masuk ke konter. Koko Li hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah dua anak muda itu.


"Ya sudah, Koko pulang ya?"


"Iya, Ko."


"Kalau mau dapetin gadis, usaha lebih giat." Koko Li menepuk bahu Ardi sebelum pergi.


"Tuh, dia aja setuju gue deketin lo."


"Dia cuma bos gue, pemilik konter ini. Bukan Emak atau pun Babeh gue!" Tukas Ami. "Dah sana pergi! Entar rejeki gue seret lagi gara-gara ada lo."


"Kalo ada gue justru rejeki lo bakal lancar."


Ami menghembuskan napasnya kasar. Dia tidak mau capek hanya mengurusi cowok tidak jelas seperti Ardi. Dan Ardi dengan sabarnya menemani Ami menjaga konter.


***


2 minggu kemudian


Dua minggu sudah Ardi mengejar Ami, tak jarang dia menjemput Ami di rumah meski pun Ami selalu menolak ikut ke mobil Ardi. Dia tahu tempat tinggal Ami karena sepulang kerja di konter 2 minggu lalu Ardi mengikutinya sampai rumah.


Dua minggu pula Leni dan Cici bak detektif Upin dan Ipin mencari bukti siapa Ardi. Dari keluarga tajir atau bukan. Leni dan Cici yang tidak bekerja karena kedua orang tua mereka lebih mampu dari pada Ami, dengan senang hati melakukan penyelidikan itu.


Setelah dua minggu penyelidikan, Duo Kiyut itu sudah mendapatkan hasil. Mereka janjian bertemu Ami di kedai bakso dekat kampus. Trio Kiyut audah berkumpul di sana tanpa Ardi karena cowok itu masih ada jam kuliah.


"Gimana hasil penyelidikan kalian?" Tanya Ami langsung setelah menyuap daging bulat itu ke mulutnya.


"Jadi si Ardi itu anak orang kaya, Mi. Kayanya sesuai kriteria lo, tinggi, cakep, putih, tajir, dan nilai IPKnya juga ga jelek-jelek amat." Jawab Cici bersemangat.


"Seriusan!?" Tanya Ami berseru.


Leni dan Cici mengangguk kompak. "Jadi, dia cocok buat dijadikan..." Ucap Leni.


"GACOAN!!" Seru Trio Kiyut berbarengan.


**Alhamdulillah bisa up lagi


Menghitung hari sebelum close

__ADS_1


Moga bisa 💪💪


Cirebon, 18 Februari 2022**


__ADS_2