Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
12. Mencoba Berpaling


__ADS_3

OKE, FIKS! Ami ditolak untuk kedua kalinya. Untung saja kali ini mereka hanya berdua di kelas, tidak seperti saat pertama kali dia mengungkapkan perasaannya pada Randu.


Keluar kelas, Ami melihat Leni dan Cici yang menunggunya di kursi yang ada di koridor sekolah. Dengan langkah lesu Ami berjalan ke tempat dua sohibnya menunggunya.


"Gimana hasilnya?" Tanya Cici.


"Gue ditolak." Jawab Ami datar.


"Lagi?" Cici meninggikan suaranya dan Ami mengangguk. "Bener-bener kudu priksa mata tuh bocah!"


"Lo harus sabar, Mi. Mungkin emang dia bukan jodoh lo." Ucap Leni sembari mengelus punggung Ami.


"Kalian napa sih? Kok mukanya pada sedih gitu?" Tanya Ami.


"Ya kita ikut sedih lo ditolak lagi!" Jawab Cici.


"Gue ga mau jadi jones. Bener kata Leni, mungkin dia bukan jodoh gue. Dan mungkin Tuhan udah nyiapin pangeran kuda putih beneran buat gue." Ucap Ami berusaha ceria di depan kedua sohibnya agar tak terlihat mengenaskan. "Apa gue balik kaya dulu lagi aja kali ya, ga usah dandan kaya gini."


"Jangan!" Cegah Leni. "Tar kesempatan lo buat dapetin Pangeran kuda putih lo makin tipis. Tetep aja kaya gini biar lo lebih good looking, gitu."


"Ya udah deh. Yuk."


"Terus udah nih, kita pulang?" Tanya Cici.


"Ya udah, kecuali lo mau nemenin Pak satpam nginep di sini." Leni yang menjawab dan langsung pergi bersama Ami.


"Ihh ogah banget! Mending kalo satpamnya cakep dan masih muda." Cici pun buru-buru menyusul kedua sohibnya.


Seperti biasa, angkot jurusan rumah Ami lebih lama datangnya dari pada angkot jurusan rumah Leni dan Cici. Jadi Ami kini duduk di halte bersama beberpa murid yang masih menunggu angkot.


"Mi, belum pulang?" Tanya seorang murid cowok yang menghentikan sepeda motor sportnya di depan halte.


"Masih nunggu angkot, Kak."


"Yuk, aku anter aja." Ajak cowok itu.


"Emangnya,,,gak ngerepotin, Kak? Apa rumah Kak Reno searah sama rumah aku?" Tanya Ami sok manis dengan bahasa aku-kamu.


"Rumah kamu di mana?" Tanya Reno, cowok yang menghentikan motor sportnya di depan Ami yang notabene anak kelas 12 yang merupakan mantan ketua OSIS.


"Ke sana, Kak." Ami menunjuk arah sebelah kiri sekolahnya.


"Berarti kita searah. Ayo naik." Ucap Reno.


"Tar pacar Kak Reno marah lagi Kak Reno boncengin aku."


"Ga akan ada yang marah. Aku free."


"Seriusan!?" Reno mengangguk. Omegat, ternyata ada jomblo premium juga di sekolah gue. Oke, siapa tau jodoh. Ye kan pemirsa?


Ami pun naik ke motor milik Reno, Reno segera menjalankan kuda besinya. Reno tidak membawa helm lain, jadi Ami tidak memakai helm.


Sebelum pertigaan jalan, motor Reno menyalip pesepeda yang ternyata Ami kenal. Ami menatap sendu pada pesepeda yang kini berada di belakangnya. Pesepeda itu juga menatap Ami dengan tatapan tak terbaca.


"Lurus, Kak." Tunjuk Ami saat di pertigaan jalan.


Ami sudah sampai di rumah, dia segera turun dari motor Reno. "Makasih ya, Kak. Udah nganterin sampe rumah.

__ADS_1


Reno menatap rumah sederhana di depannya yang ada toko kelontongnya. "Ini rumah kamu?"


"Iya, Kak." Apa Kak Reno lagi nilai rumahku ya? "Mau mampir dulu, Kak?"


"Udah sore, lain kali aja ya."


"Ya udah. Makasih ya, Kak."


"Ya, sama-sama." Ucap Reno tersenyum.


"Hati-hati di jalan, dadaaahh.." Ami melambaikan tangan.


Reno membalas lambaian tangan Ami sambil tersenyum di balik helm dan berlalu.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Ami saat masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam.." Balas Emak. "Siapa tadi, Mi? Si kinclong?"


"Bukan, Mak." Jawab Ami malas.


"Terus siapa? Emak kira lu pulang ama si kinclong."


"Udah deh, Mak. Jangan nanyain dia mulu! Masih banyak cowok laen." Sergah Ami. Ami masuk ke kamarnya.


Di kamar, Ami rebahan di kasur lalu mengambil ponsel dari tasnya dan chating di grup Trio Kiyut.


Coba lo berdua tebak, gue tadi pulang sama siapa? Tulis Ami di chatnya.


Siapa? Si kuda item, Mi? Tanya Cici.


Eh, Cimol. Gue baru aja ditolak yang kedua kali sama si kuda item, masa pulangnya bareng dia! Tulis Ami lagi.


Terus lo pulang bareng siapa? Tanya Cici lagi.


Kak Reno.


Hah! Kak Reno kelas 12!? Cici.


Yang mantan ketua OSIS kan!? Leni.


*Iya


Kok bisa*? Leni


Jadi ceritanya, gue lagi nunggu angkot.Eh dia tiba-tiba berenti depan gue terus nawarin diri nganter gue. Ya udah, gue naik ke motornya yang posisi duduknya pelukebel banget joknya. Ketik Ami sambil tersenyum.


Terus, lo peluk dia? Cici.


*Enggak!


Kenapa*? Leni.


*Tengsinlah! Baru juga dia nganter gue. Di sekolah juga kita jarang ngobrol.


Ya'elah, Mi. Lancarin serangan aja dulu, iseng-iseng berhadiah. Siapa tau dia kepincut sama lo*. Cici.


*Entar aja lancarin serangannya. Besok-besok. Ini perkenalan aja dulu.

__ADS_1


Terus, lo punya rencana apa*? Leni.


*Kalo Kak Reno deketin gue, gue akan coba deket juga. Biar gue lupa sama si kuda item!


Gudjob! 👍. Lo harus move-on, Mi*. Leni.


Kak Reno juga cakep kok. Lanjutkan! Cici.


***


ESOKNYA, Ami bangun sedikit kesiangan karena semalam begadang menyelesaikan tugas Sosiologi. Turun dari angkot, dia berlari mencoba mengalahkan rekor Usain Bolt demi masuk gerbang sebelum gerbang itu tertutup rapat.


"Tunggu, Pak!" Teriaknya sambil terus berlari. Ami langsung menabrakkan diri pada gerbang besi itu hingga terbuka lalu berlari masuk.


"Astaghfirullaah.." Ucap Pak satpam sambil mengelus dada.


Ami berlari menuju kelasnya. Di depan kelasnya, dia bertemu dengan Reno yang akan ke ruang guru.


"Kamu telat, Mi?" Tanya Reno menghentikan langkahnya.


Ami pun berhenti berlari. Dengan napas memburu, dia menjawab. "Dikit, Kak." Lalu tersenyum lebar.


"Tadi aku jemput kalo gini." Reno seperti menyesal.


"Ga apa-apa kok, Kak." Ami menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Kalo besok aku jemput gimana?"


"Mmm.. Boleh kalo ga ngerepotin."


"Oke. Nanti siang juga bisa pulang bareng, kan?"


Kak Reno pasti mau pedekate ke gue. Kesempatan buat lupain si kuda item. "Boleh, Kak."


Tanpa keduanya sadari, di dalam kelas Ami ada sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan tatapan yang tajam.


"Ya udah, aku masuk ya, Kak."


"Iya."


Ami pun masuk kelas dan Reno melanjutkan perjalanannya ke ruang guru. Ami masuk ke kelasnya dengan senyum mengembang, dia melirik sekilas pada Randu. Ami berusaha tak terlihat mengenaskan setelah ditolak Randu kemarin. Ingat, penolakan yang kedua!


Ami duduk sambil melemparkan senyum pada Randu. Dia sudah menekadkan hatinya, bahwa dia akan berusaha berpaling dari pangeran kuda hitamnya. Dia akan mencari pangeran kuda putih impiannya. Apakah Reno pangeran kuda putih impian Ami?


**Ami balik lagiiii...


Kalian pilih mana?


Ami - Randu? atau Ami - Reno?


We'll see...


Met hari Valentine buat kita semuaaaa


Cinta itu luas ye kaaann


Aku cinta kalian semua yang sudah baca dan apresiasi karyaku 😘😘😘

__ADS_1


Cirebon, 14 Februari 2022**


__ADS_2