
TRIO KIYUT kembali berkumpul di rumah Cici setelah proses penggerebekan perselingkuhan Ardi. Ami merutuki kebodohannya yang sudah percaya pada cowok itu.
"Dasar genderuwo! Nyesel gue pernah jadian sama dia." Gerutu Ami.
"Lo udah pernah ******* sama dia, Mi?" Tanya Cici.
"Sembarangan! Emang gue cewek apa'an? Masih perawan ni bibir!" Protes Ami tidak terima.
"Syukur deh kalo bibir lo masih perawan." Leni bernapas lega.
"Lo sendiri gimana, Len? Bibir lo masih perawan apa udah diperawanin sama Abang gue?" Tanya Ami. Leni dan Arman sudah resmi pacaran sejak 5 minggu lalu.
Leni mengabaikan pertanyaan Ami. Dia malah pergi ke toilet.
"Si Leni diem aja. Jangan-jangan, Abang lo udah nyosor si Leni." Tebak Cici berspekulasi.
"Apa iya Abang gue semesum itu?"
Saat Ami dan Cici menebak-nebak, Leni bergabung lagi dengan mereka. Ami dan Cici tidak lagi membahas hal itu.
"Bener kata Emak, Ardi itu bukan cowok baik-baik." Keluh Ami.
"Emak lo bilang gitu?" Tanya Cici.
"Emak pernah bilang, kalo dia kurang suka sama Ardi. Emak merasa mata Ardi tuh nyembunyiin sesuatu yang ga baik gitu."
"Berarti Emak lo instingnya tajem, Mi." Puji Leni.
"Apa kalo dulu gue jadian sama Randu, dia bakal selingkuh juga kaya Ardi ga ya? Sama si kumtilanak?" Tanya Ami menyerupai gumaman.
"Mene ketehe." Jawab Cici.
"Kayanya enggak deh, Mi. Randu kan beda sama Ardi." Ucap Leni.
"Kok lo yakin bener?" Tanya Ami lagi.
"Randu kan cowok baik-baik, sering puasa sunnah lagi." Bela Leni.
__ADS_1
"Iya juga sih. Gue juga yakin kalo Randu tuh cowok baik-baik, makanya gue tetep nembak dia meski gue tau kalo dia pangeran kuda item."
"Bay de wey eni wey bas wey, gimana kabar dia sekarang ya?" Tanya Cici.
Ami hanya menggeleng lemah. "Ternyata pacaran sama pangeran kuda putih ga seindah yang gue bayangin. Pangeran kuda putih yang punya segalanya seenaknya aja selingkuh. Mendingan kuda item deh asal dia setia. Coba kalo dulu Randu terima cinta gue, gue siap kok buat LDR-an sama dia."
Ami menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang ditekuk. Leni dan Cici menatap sendu sahabatnya.
"Kalo lo mau nangis, nangis aja, Mi. Ga apa-apa kok." Hibur Cici.
"Ogah gue nangisin cowok genderuwo kaya Ardi!"
***
PAGINYA, saat keluar rumah untuk berangkat ke kampus Ami melihat Ardi sudah menunggunya. Ami mengabaikan cowok itu dan terus berjalan ke arah jalan raya.
"Yang, Ami. Dengerin aku dulu, Yang.." Ardi berusaha meraih tangan Ami tapi langsung dihempaskan gadis itu.
Keberuntungan berpihak pada Ami. Saat dia sampai di jalan raya, saat itu angkot yang akan membawanya ke kampus lewat dan dia langsung masuk ke angkot itu.
Ardi menendang pinggiran trotoar karena kesal tidak bisa menghentikan Ami. Dia lalu lari ke arah mobilnya yang terparkir di depan rumah Ami lalu melaju mengikuti angkot yang dinaiki Ami.
"Lepasin! Gue mau kuliah, bukan mau bolos kaya lo!" Hardik Ami meronta.
"Ikut aku dulu! Aku bisa jelasin semuanya." Pinta Ardi.
"Jelasin aja pada rumput yang bergoyang!" Ami menghentakkan tangannya hingga lepas dari genggaman Ardi. "Jika lo pikir gue bakal nangis gara-gara diselingkuhi lo, lo salah besar! Lo ga kenal gue!"
Ami berbalik dan meninggalkan Ardi. Dia memantapkan kakinya menuju tempat di mana dia menuntut ilmu. Ami tidak ingin menjadi gadis lemah, yang merutuki kesedihannya karena pacarnya selingkuh.
***
AMI melewati hari-harinya dengan belajar dan belajar, dia tidak ingin memikirkan tentang asmara lebih dulu. Dia ingin fokus pada pendidikannya, agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dan membuat bangga Emak dan Babeh.
Waktu berlalu begitu cepat, Ami kini sudah berada di tahun ketiganya. Dan mulai besok, Ami akan magang di salah satu perusahaan yang lumayan besar. Pagi ini Ami bangun sedikit terlambat karena semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan apa kata pertama yang akan diucapkannya pada pihak perusahaan.
"Sarapan dulu, Mi." Emak mengingatkan.
__ADS_1
"Udah telat, Mak!" Seru Ami seraya memakai sepatu hak tingginya.
"Kalo lu kagak sarapan, lu bisa lemes tar pingsan lagi."
"Ya udah dibungkus aja deh, Mak. Entar aye makan di angkot." Ami berdiri dan merapikan kemejanya.
Emak segera membungkuskan sarapan Ami lalu memasukkannya ke kantong beserta air minumnya. "Nih."
Ami menerima dan langaung mencium punggung tangan Emak. "Aye berangkat dulu ya, Mak. Doain aye biar cepet bisa."
"Emak selalu doain lu. Moga lu jadi orang sukses."
Ami menuju teras lalu mencium punggung tangan Babeh.
"Anak Babeh cakep bener pake baju kantoran kaya gini." Puji Babeh.
"Babeh bisa aja." Ucap Ami tersipu. "Aye berangkat dulu ye, Beh, Mak. Assalamu'alaikum.." Pamit Ami.
"Wa'alaikumsalam.." Balas Emak dan Babeh.
Ami berjalan oleng, miring kiri miring kanan selama menuju jalan raya. Tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi membuatnya kesulitan berjalan, untung tidak jatuh.
Ami sukses mendaratkan pantat semoknya di bangku angkot, dan bernapas lega. Ami meneliti kakinya apakah ada yang lecet karena terasa sakit. Kenapa sih kerja kantoran kudu pake sepatu hak tinggi? Coba kalo boleh pake sepatu kets, gue bisa lari ngejar angkot atau nubruk pintu kalo udah mau ditutup.
Hampir lupa denga sarapannya, Ami segera menyantap bekal sarapan yang dibungkuskan Emak tanpa malu di angkot.
"Telat ya, Neng?" Tanya bapak-bapak penumpang angkot.
"Iya, Pak. Maklum, pertama kerja jadi grogi nyiapin apa aja yang mau dibawa." Ami tersenyum lebar.
Ami tiba di kantor dengan sehat dan selamat. Dia berlari kecil menuju kantor tempatnya magang karena jam sudah menunjukkan jam 8.05, padahal sudah diberi tahu jam masuk kantor itu jam 8 tepat.
Saat akan menaiki teras kantor, kaki Ami terpeleset dan membuatnya terjatuh yang tidak cantik sama sekali! Bertepatan dengan itu, ada seorang pria dewasa yang baru turun dari mobil yang masih kinclong dan beberapa pegawai yang baru akan masuk dan ada yang keluar sengaja ingin melihat ada insiden apa di luar.
Ami meringis menahan malu, dia langsung bangkit dari duduknya. Nih sepatu bukannya bikin cantik malah bikin malu!
Ami melewati hari pertama magangnya dengan lumayan baik, kecuali kejadian pagi tadi yang membuatnya menjadi artis dadakan karena ditonton banyak orang.
__ADS_1
Ami sangat senang dengan pekerjaannya, apalagi rekan-rekan di kantornya banyak membantu Ami yang masih magang. Karena performa kerja Ami yang baik, pihak perusahaan menawarkan untuk menjadi pegawai tetap setelah Ami mendapatkan ijazah sarjananya.
Cirebon, 21 Februari 2022