Pangeran Berkuda Hitam

Pangeran Berkuda Hitam
34. Pembajakan


__ADS_3

AMI memakai sepatu sambil berlari ke jalan raya karena sudah kesiangan. Belum lagi sepatu itu terpasang dikedua kakinya, angkot yang akan membawanya ke kantor lewat di depan mata.


"Bang angkot! Tungguin!!" Teriaknya seraya menenteng satu sepatu yang belum terpakai.


Terpincang-pincang Ami berlari menuju angkot sambil meringis kesakitan karena kakinya menginjak kerikil jalanan. Ami mendaratkan pantatnya yang makin semok di jok angkot.


"Hah! Tarik, Bang!" Teriak Ami setelah menghembuskan napasnya yang memburu.


"Telat bangun, Neng?" tanya penumpang wanita yang usianya mungkin seumuran Emak.


Ami hanya tersenyum sambil mengenakan sepatu satunya yang tadi dia tenteng. Lalu dengan santainya dia membuka tas dan memakai bedak serta lipstik untuk mempercantik diri.


"Udah cantik, Mba." Komentar cowok berseragam putih abu-abu.


"Jelas dong, udah dari lahir." Balas Ami cuek hanya melirik sekilas pada cowok itu sambil terus menepuk-nepuk pipinya dengan spon bedak.


Si cowok tersenyum mendengar ucapan Ami. "Boleh kenalan ga, Mba? Gue Putra." cowok itu mengulurkan tangannya.


Ami menjabat tangan abege itu setelah memasukkan perangkat perangnya ke tas. "Mba semok." ucapnya asal.


Si remaja tertawa mendengar nama yang diperkenalkan Ami.


"Eee... Stop, stop, Bang! Stop!" teriak Ami setelah sadar jika kantor tempatnya bekerja sudah kelewatan.


"Berenti, Neng?" Tanya sopir angkot.


"Ya iyalah, Ferguso. Itu kantor gue udah kelewatan!" Ami menunjuk kantornya yang sudah terlewat sekitar 10 meter.


Ami turun setelah membayar ongkos dan berlari menuju kantornya. Dia hampir saja jatuh saat akan menaiki teras kantor, untung dia sekarang sudah mahir menggunakan sepatu hak tinggi.


Cewek dan highheels-nya ternyata ribet!


"Habis weekend ya? Sampe telat masuk." Tanya Maya, teman kerja Ami.


"Iya, Mba. Abis mimpi basah." Jawab Ami duduk di kubikelnya.


"Astaga, Mi. Kamu masih perawan kan?" Maya bertanya lagi.


"Masih lah, Mba. Segelnya kuat ini."


"Terus, kenapa kamu mimpi basah?"


"Gue lagi mimpi jalan-jalan sama pacar gue, Mba. Eh, Emak guyur gue pake air seember! Gimana ga basah!? Jadinya gue mimpi basah sebasah-basàhnya lah!"


"Hahaha..." Maya terbahak mendengar cerita Ami.


"Padahal waktu itu, pacar gue mau nyium gue, eh basah duluan disiram Emak."


"Lagian lo ngapain mimpi begitu?" Tanya Iis, teman kerja Ami yang lain. Maya dan Iis sudah berkeluarga.


"Ish, Mba Iis sama Mba Maya kaya ga pernah muda aja. Apalagi gue baru kemaren jadian sama pacar gue, jadi wajarlah kebawa mimpi."


Maya dan Iis masih tertawa mendengar cerita Ami. "Terserah lo deh, Mi."

__ADS_1


Istirahat makan siang, Trio Kiyut sudah berjanji akan bertemu di kafe ( sudah keren dong tongkrongan Trio Kiyut sekarang, meskipun jarang ). Ami ternyata datang terakhir diantara ketiga anggota Trio Kiyut.


"Artis kita baru datang." Canda Leni.


"Plis welkam, Ami Kamila, artis dalam kamar mandinya!" Seru Cici ala pembawa acara.


"Maklum artis, datang telat dikit ga masyallahh kan yaaa?" Ami langsung duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Gimana nih kabarnya yang baru punya pacar?" tanya Cici.


"Langsung basah gue pagi-pagi." Jawab Ami.


"Hah!! Seriusan lo, Mi!? Baru juga jadian lo udah mimpi basah, mesum lo, Mi!" kejut Cici.


Ami pun menceritakan kronologi tidur basahnya pada dua sohibnya secara detil. Dan kalian pasti tahu bukan, tanggapan dari Duo Kiyut? Yap! Mengakak berjama'ah!


"Untung cuma ember kecil, bukan segalon!" Ucap Cici disela tawa.


"Pasti bibir lo gini," Leni memonyong-monyongkan bibirnya ke sana ke sini.


"Kok tau? Wah! Lo pasti sering ******* sama Abang gue ya? Ngaku lo!" tuding Ami pada Leni.


"Sering sih enggak, cuma beberapa kali." Jawab Leni santai.


"Itu namanya sering, Maymunah!" Cici melirik sinis ke arah Leni.


"Gimana rasa bibir Abang gue? Dia kan perokok." Tanya Ami lagi.


"Asem." Lagi-lagi Leni santai dan cuek sekali dengan jawabannya, seolah itu bukan hal pribadi.


*Love me love me, say that you love me


Fool me fool me, go on and fool me


Kiss me kiss me, just say that you need me*


"Hape bunyi noh! Ngelamun jorok mulu!"


Ami kembali ke dunia nyata saat merasakan tepukan di bahunya. Dia langsung melihat layar ponselnya yang menyala dan berdering. "Pangeran gue!" Soraknya kegirangan.


"Loudspeak!" perintah Leni.


"Ogah!"


"Loadspeak ga!? Gue aja dulu waktu Abang lo telepon suruh diloudspeak gue nurut!" ancam Leni.


"Ya itu lo yang kenurutan! Gue mah pembangkang!"


"Pokoknya loudspeak!" Leni dan Cici menekan Ami dengan kompak.


"Cepetan angkat noh keburu dimatiin sama si item!" Cici mengingatkan.


"Ee iya, iya. Jangan tutup dulu!" Ami segera meraih ponselnya, menggeser ke kanan gambar gagang telepon pada layar datar itu.

__ADS_1


"Halo..." Ami membuka pembicaraan di ponselnya. Dengan terpaksa dan tidak suka rela Ami me-loudspeak ponselnya.


"Kok lama banget sih angkatnya, Neng?"


"Aaaa! Eneng!" seru Cici dan Leni saat mendengar Randu memanggil Ami dengan panggilan 'Neng'.


"Lagi sama Cici dan Leni?"


"Iya, ponsel gue mereka bajak suruh di loudspeak!" adu Ami pada Randu kesal.


"Sori ya, Ran. Dulu juga waktu gue baru jadian ponsel gue dibajak sama mereka!" Ucap Leni.


"Ini peraturan, telepon pertama setelah jadian wajib loudspeak!" Cici menambahkan.


"Minggir ah! Lo berdua cuma jadi pendengar, ga boleh ikutan ngomong!" Ami menarik ponselnya yang tadi dikuasai Duo Kiyut.


"Randu! Otak lo lagi waras kan waktu nembak Ami?" Tanya Cici yang langsung mendapat toyoran di kepalanya dari Ami.


"Diem lo berdua! Gue sumpel pake sepatu gue tau rasa!" ancam Ami pada dua sahabatnya.


"Lain kali aja ya gue telepon."


"Eee, ga bisa gitu. Harus lanjut! Ga boleh ditutup! Enak aja lo lari dari kewajiban!" Omel Cici.


"Kewajiban apa'an?"


"Kewajiban loudspeak ditelepon pertama!" Jawab Leni.


Huffhhh...


Terdengar suara hembusan napas dari balik telepon Ami. Sepertinya Randu frustasi dengan tingkah dua sahabat Ami. Tapi, bukankah Ami pun begitu?


Akhirnya, Ami dan Randu harus rela teleponan dengan didengarkan oleh empat telinga sahabat Ami yang somplak. Duo Kiyut sering menyela pembicaraan Ami dan Randu, bahkan mencibir mereka dengan mengatakan kurang romantis sebagai pasangan baru.



"AYO bangun, Mi. Cepet!"


Belum sadar sepenuhnya, Ami merasa tubuhnya ditarik oleh dua makhluk absurd yang ternyata dua sahabatnya.


"Apa'an sih!? Mumpung hari Minggu gue pengen bobo!" Ami merengek saat badannya terus ditarik oleh dua makhluk itu.


"Jangan sok imut lo! Bobo bobo, biasanya juga bilangnya molor!" semprot Cici.


"Ini udah siang, Bakmi! Liat noh siapa yang datang!" Leni ikut mengomeli Ami.


Ami membuka mata dan baru sadar jika dia sudah ada di ruang tamu. Dan lihat, siapa yang sedang duduk manis di kursi tamu?


**Cirebon, 10 Maret 2022


Ami balik lagi dengan kesomplakan yang haqiqi 😆😆


Baca juga karya Emak yang lain yaaa**

__ADS_1



__ADS_2