Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 10


__ADS_3

Yuli mengangguk. "iya. Namanya Jungkook, aku baru mengenalnya tadi. Foto ini diambil diam-diam dan dia tadi meminta maaf padaku karena merasa bersalah. jadi dia mencoba mengembalikan semua hasil bidikannya padaku. Lucu sekali kan." Yuli masih tersenyum, tak habis pikir, sembari kembali memasukkan semua foto-foto itu ke dalam amplop.


"Oh, jadi istriku punya banyak penggemar di kampusnya?" Jimin kini melirik yuli dengan kening yang berkerut.


Yuli tersenyum kecil. "bukan..." Lalu, dia memiringkan tubuhnya untuk memeluk satu lengan Jimin yang sedang bebas karena tidak memegang setir. Yuli menyandarkan ke palanya di bahu jimin. "Aku hanya gadis biasa yang beruntung karena bertemu kamu." Yuli sedikit tak mengerti mengapa dia jadi manja. Mungkin karena efek terlalu senang Jimin menjemput-nya.


Jimin tersenyum luluh dan perlahan melepaskan tangannya dari pelukan yuli untuk dialihkan ke punggung dan bahu yuli. Sesekali tangannya juga mengusap kepala yuli.


"Aku yang beruntung karena menemukanmu, Yuli." bisikan Jimin sambil sesekali mengucap puncak kepala yuli.


Yuli sempat sedikit mendongak. "Oppa? kenapa tiba-tiba menjemput-ku? bukankah kau sangat sibuk?"

__ADS_1


"Benar, aku sangat sibuk sampai kepalaku nyaris pecah. Aku mungkin butuh istirahat dan menjernihkan pikiran sejenak di suatu tempat."


"Memangnya kita akan kemana?"


"ketempat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang wajib kita lakukan."


"Maksudnya?"


"Tentu saja, membuat anak." Jimin menoleh pada yuli yang sedang menelan ludah tak percaya. "Ayolah, Yuli. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi."


Yuli melihat Jimin masih mengatur napas, demikian dirinya juga. jarak wajah mereka begitu dekat, titik-titik keringat di wajah jimin sebagai menjatuhi wajah yuli. Yuli tak sanggup lagi jika disuruh mengingat bagaimana bisa sampai seperti ini, dia seakan baru sadar saat mereka sudah sama-sama seperti ini.

__ADS_1


"Ap-apa kau baik-baik saja?" Jimin mengeluarkan tangannya untuk mengusap kening yuli. itu adalah kalimat pertamanya setelah mengosongkan dirinya di dalam tubuh yuli.


Yuli tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendirian tidak bisa memahami apa yang sedang dia rasakan sekarang. jadi, yuli hanya mengangguk samar.


"Apa aku menyakitimu?" tanya lagi dengan suara dalam yang lembut sekaligus memabukkan.


Yuli menelan ludah samar ketika suaranya lebih terdengar seperti ******* daripada pertanyaan. "semua wanita merasa sakit saat melakukannya untuk pertama kali," ucap yuli yang mulai mendapatkan nafasnya kembali.


Jimin terkekeh, lalu mencium bibir yuli gemas."Terima kasih karena telah membuatku menjadi yang pertama."


Pipi yuli memerah, apalagi saat Jimin berpindah pada kening yuli untuk diberi kecupan juga. setelahnya dia baru berbaring telentang di sebelah yuli, sementara yuli fokus kembali menaikkan selimut hingga ke dada. Satu tangan Jimin meraih tangan yuli, lalu menyentuhnya dengan lembut.

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama menatap atap putih polos sembari mengatur napas. Dia bisa merasakan suasana yang begitu tenang di sini. Aroma lavender bercampur citrus mengisi ruangan yang baru yuli lihat untuk pertama kalinya. Ini adalah rumah kedua Jimin dan Dokter Rosa. Sebelumnya, rumah Jimin untuk ibunya. Meskipun sederhana, suasananya begitu tenang karena dekat dengan daerah pegunungan.


Rumah ini hanya didatangi pada waktu-waktu tertentu saja. Jimin memang membeli ini tanpa berdiskusi dulu dengan ibunya. Dia berniat memberi kejutan, tetapi ternyata Jimin tak tahu bahwa ibunya sudah akan pindah tugas ke rumah sakit lain. Padahal, Jimin membeli rumah ini agar ibunya punya tempat yang nyaman sepulang bekerja di rumah sakit yang letaknya dekat dengan tempat ini.


__ADS_2