Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 69


__ADS_3

Aku akan menemui orang yang pernah bermain 'How Come?' hari ini. Aku gugup sekali. Bukan karena akan bertemu dengan orang itu, melainkan aku terus memikirkan nasibku jika ketahuan Jimin. Aku ingin semuanya berjalan lancar seperti rencana yang sudah tersusun agar aku bisa segera mendengar apa yang kubutuhkan hari ini.


Rencana yang kami jalankan cukup mendebarkan karena Jimin tidak akan pernah membiarkanku keluar tanpa pengawasan. Jadi kami merencanakan ini untuk mengelabui semua ini.


Aku mengatakan bahwa aku punya janji dengan Gojung dan Myura di sebuah restoran yang mana menjadi tempat kami menjelankan rencana yang cukup mendebarkan ini. Jadi, dari rumah aku sudah memakai masker penutup mulut dan mengaku bahwa aku sedikit flu. Aku tahu orang-orang suruhan Jimin yang mana sehingga membuatku menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mengobrol santai dengan Gojung dan Myura. Kami bahkan memesan makanan. Sempai akhitnya, aku tahu posisi orang-orang yang mengawasiku dan tahu cara untuk menghindari mereka. Saat waktu dirasa tepat, aku pergi ke toilet dan menemui seseorang yang punya bentuk tubuh, gaya rambut dan sudah memakai pakaian yang sama denganku. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi kurasa dia juga teman satu kampusku dulu. Nam adalah otak di balik ide ini.


Aku kemudian sempat menukar pakaian dan mengatur tempo untuk keluar dari toilet agar tidak bersamaan dengan wanita yang sedang berpura-pura menjadi aku, dia akan menggantikanku. Dia akan duduk di posisi di mana dia akan terus terlihat seperti aku. Lagi pula, orang suruhan Jimin tidak akan sedekat itu memperhatikan.


Restoran ini sengaja dipilih karena memiliki cukup banyak pintu sekaligus dekat dengan tempat pertemuanku dengan informasiku. Orang suruhan Jimin yang mengawasiku hanyalah dua orang dan aku sudah tahu di posisi mana saja mereka berjaga. Aku punya waktu setidaknya dua jam untuk bertemu dengan orang itu.


"Kau udah siap?" Nam membuyarkan lamunanku.


Saat itu juga aku menyadari bahwa mobil ini sudah berhenti di sebuah tempat yang menurutku cukup membuat kening mengerut. "Ini tempat apa?"


"Bekas pabrik kardus." Nam juga ikut menerawang dari balik kaca mobil di sebuah bangunan tua. Berwarna putih dan dinding bagian depannya dipenuhi tanaman-tanaman menjalar.


Tempar ini seperti tidak terawat. Aku sampai tak sadar sedang menelan ludah, membayangkan harus menujuh ke tempat sejenis itu.

__ADS_1


"Ini benar tempatnya?" Aku rasanya masih enggan untuk beranjak dari tempat duduk.


Nam mengangguk. "Hm, setelah dia keluar dari rumah sakit jiwa, tidak ada rumah lagi untuknya. Ini adalah pabrik bekas miliknya sendiri. Dia tinggal di sini sendirian."


Aku langsung menoleh pada Nam. Aku tak menyangka dengan penjelasan yang baru saja kudengar. Aku tak tahu bangunan mengerihkan ini bisa disebut tempat tinggal. Aku awalnya hanya berpikir bahwa ini sejenis tempat pertemuan saja yang disepakati oleh dua belah pihak. Ternyata, aku justru mendatangi tempat tinggalnya.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanyaku sambil menatap Nam yang kuyakin sudah mengeri apa yang ingin kudengar.


Sedikit menimbang akhirnya dia menjelaskan. "Dulunya 'Orang itu' adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki segalanya. 'Orang itu' sukses di usia muda dan menjalankan bisnis-bisnisnya bersama adikknya. Namun keadaannya saat ini merupakan akibat kekalahannya dalam permainan 'How Come' sebelumnya. 'Orang itu' mempertaruhkan segalanya, termaksud nyawa adiknya. Itu yang aku tahu."


Aku spontan menutup mulutku dengan menggunakan telapak tangan. Siapa yang tidak syok dan merinding mendengarnya? Secara otomatis pikiranku jatuh ke Jimin. Jantungku berdebar kencang, membayangkan bagaimana jika Jimin kalah?


Sekarang aku tahu kenapa Nam terlihat ragu saat aku bipang ingin menemui langsung orang itu. Ternyata, alasannya ini. Namun aku sudah sejauh ini melangkah dan sedekat ini dengan sumber yang kubutuhkan. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena tempat dan ketakutanku untuk bertemu orang itu.


"Tidak. Aku akan tetap ikut." Aku lalu mebuka sabuk pengamanku dan langsung membuka pintu mobil.


Nam akhirnya juga menyusul. "Tempatnya sefikit tidak nyaman untuk dilalui, sebaiknya kau tetap di belakangku," Nam menginstruksikan sesuatu yang sebenarnya justru semakin membuatku gugup.

__ADS_1


Aku bahkan spontan memegang perutku dari balik mantel tebal yang menutupi. Hari ini dingin sekali. Langitnya juga tak terlalu cerah aku malah berkeringat.


Aku berjalan di belakang Nam dengan langkah yang sangat penuh perhitungan. Bagaimana tidak? Selain minim cahaya lembab dan bahkan banyak puing-puing yang harus dihindari, ternyata kami juga harus menuruni anak tangga yang tidak ada pegangannya. Aku sendiri heran, bagaimana seseorang bisa bertahan di tempat seperti ini?


Aku semakin gugup setiap kali melihat jam tangan. Waktu yang kami miliki tidak banyak lagi dan perjalanan menujuh ke restoran semula juga memakan waktu kurang lebih dua puluh menit dari tempat ini, itu pun jika tidak ada kendala. Masalahnya yang menggantikan diriku di sana harus segera pergi tepat dua jam setelah penggantian karena dia punya urusan penting.


"Sudah sampai."


Nam berhenti di depan pintu besi tua berkarat. Lalu, dia berjalan menyamping untuk menyapa interkom itu ketika tangannya menekan satu tombol.


Tak sampai satu menit, terdengar suara kunci yang dibuka. Nam lalu menatapku. "Ayo," ajaknya sambil mendorong pintu besi itu dengan sedikit bertenaga.


Aku memgumpulkan seluruh keberanian, lalu melangkahkan kaki masuk ke sebuah ruangan yang ternyata tidak seburuk bayanganku. Ini lebih mirip sebuah flat sederhana. Hanya saja memang tidak terlalu rapi. Cahayanya bernuansa tidak terlalu terang dan yang mengejutkan, di tempat ini sangat banyak buku dan di salah satu lemarinya banyak makanan instan.


Mungkin orang ini menghabiskan waktunya untuk membaca dan dia malas ke luar rumah jadi dia menyimpan banyak stok mie instan. Tunggu. Dari mana dia mendapatkan uang? Oh, mungkinkah dia sepertiku? Tetap bisa hidup karena tubuhku? Asuransi? Entahlah. Itu bukan urusanku.


Mataku tak bisa berhenti memandangi tempat ini. Sementara, aku mengikuti punggung Nam, mataku justru beralih pada sebuah foto yang terpajang di dinding.

__ADS_1


Mataku melebar sejenak katena terkejut, lalu menyipit lagi untuk melihat foto dua orang remaja perempuan di sana. Mereka memakai baju dan berpose bahagia dengan latar sebuah pantai. Mareka saling memeluk satu sama lain, lalu terdapat sebuah tulisan di sana.


Jung Nara & Jung Nayeon (forever sister)


__ADS_2