
Hari-hari berlalu begitu cepat.
Yuli bahkan tidak menyangka bahwa dia sudah resmi menjadi seorang ibu sejak seminggu lalu. Mungkin sebelum-sebelumnya Yuli merasa begitu lemah, tapi setiap melihat makhluk kecil cantik yang tengah berada dalam gendongannya ini menggeliat manja, Yuli jadi punya kekuatan baru.
Kadang, Yuli masih sering membayangkan, bagaimana reaksi Jimin jika melihatnya? Apakah dia akan sangat antusias seperti Yuli? Atau bahkan lebih antusias lagi?
" Ah, sial. kenapa aku masih memikirkan itu?" gimana Yuli.
Yuli mengambil napas panjang, memilih untuk fokus pada bayi kecilnya yang belum Yuli beri nama ini. Dia tengah meminum ASI dengan sangat kuat karena kehausan setelah menangis. Sisa-sisa air matanya masih ada di pelupuk mata, jemari Yuli menghapusnya pelan dan berhati-hati agar tidak mengganggunya yang masih mengisap dengan mata tertutup rapat.
Sebentar lagi dia mungkin akan tertidur. Ya ampun, Yuli sangat menyayanginya. Dia sangat cantik. Dia memiliki mata sipit ayahnya, warna kulitnya juga mirip Jimin dari pada diriku. Namun, anak ini memiliki bibir dan rambut seperti Yuli.
Yuli hanya masih sulit percaya bahwa Jimin sanggup untuk melupakan anak ini. Jimin semampu itu untuk menghapus semua kenangan dan rasa cintanya untuk Yuli dan anaknya.
__ADS_1
Yuli dengan, Operasinya sudah berhasil. Jimin telah bangun dalam kondisi seperti terlahir kembali. Seungwu yang memberi tahu Yuli dan dia menawarkan Yuli untuk bertemu dengan Jimin hari ini.
Seungwu bilang, dia tahu di mana keberadaan Jimin sekarang dan bisa membawa Yuli ke sana, meski itu sebenarnya melanggar permintaan Jimin.
Seungwu ini memang berengsek. Yuli tidak tahu, sebenarnya dia peduli dengan Yuli dan Jimin atau justru ingin mereka berdua semakin tersiksa. Namun harus Yuli akui, jika Seungwu tak memberi tahu semuanya kala itu Yuli pasti juga akan semakin membenci Jimin.
"Kondisinya memburuk belakangan ini, serum pelumpuh ingatan itu menyerang daya tahan tubuhnya. ini bukan kabar yang baik."
Ucapan Seungwu itu masih terbayang di dalam kepala Yuli.
Yuli terbayang dengan ucapan itu.
"Jika kamu ingin melihatnya untuk terakhir kali, aku bisa mengantarmu."
__ADS_1
Yuli masih merenungkan semua itu.
Sampai Yuli tak sadar bahwa anaknya sudah tertidur dalam pelukannya. Dia sudah tidak mengisap lagi, menyadari hal itu, Yuli perlahan memperbaiki posisinya. Yuli meletakkannya di sampingnya setelah mengancingkan kembali pakaiannya.
"Apa kamu ingin bertemu dengan ayahmu?" tanya Yuli dengan pilu.
Bayi kecil Yuli hanya diam dan bernapas dengan tenang. Namun, Yuli justru berpikir harus mempertemukannya dengan Jimin. Meski Jimin tak mungkin mengingatnya lagi, meski Jimin tak bisa menggendongnya, Yuli sebaliknya tetap mempertemukan mereka berdua sehingga kelak, saat anaknya besar, Yuli bisa menjawab jika bertanya, "Eomma, apakah Appa pernah melihatku?"
Saat itu juga, Yuli segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Seungwu.
...****************...
Sangat sulit untuk mendapatkan ijin agar Yuli bisa keluar dari rumah sakit, meski pada akhirnya keluarga Yuli mau mengerti. Mereka hanya khawatir tentang Yuli karena sampai sekarang pun Yuli masih belum bisa berjalan dengan baik.
__ADS_1
Yuli duduk di kursi roda dan seungwu mendorong Yuli menuju lorong-lorong gelap yang sama sekali tak mirip seperti lorong rumah sakit. Yuli tak tahu Jimin ternyata masih berada di Korea, tapi memang Yuli akui bahwa tempat ini begitu terpencil. Sulit dijangkau.