
Jimin mematung. Ekspresinya seperti pencuri yang sedang tertangkap basah. Yuli tidak pernah melihat Jimin sepanik ini. Dia seperti tidak tahu apa yang harus diucapkan.
Yuli semakin curiga dan baru saja ingin bertanya sampai semuanya sudah terjawab ketika seorang wanita lain muncul, menyusul tepat di belakang Jimin. Wanita yang tidak Yuli kenali wajahnya. Dia mungkin seusia Jimin dan yang paling membuat Yuli panas adalah rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dia terlihat sedang mengancingkan kemeja. Detik itu juga Yuli menatap Jimin dengan tatapan yang begitu tajam.
Apa yang bisa Jimin jelaskan untuk sekarang?
Jimin terlihat begitu takut, gemetar, sangat bertolak jauh dengan sosok tegas dan intimidasinya selama ini.
"Apa ini?!" Yuli memekik dengan suara yang tertahan karena tenggorokan terasa begitu sakit. Nyeri di hati Yuli merambat hingga ke seluruh tulang. Seluruh tubuh rasanya melemas.
"Yuli, ini_"
"Kurasa tidak ada yang bisa di jelaskan lagi." Yuli menyela cepat karena air matanya sudah mengepung tak tertahan. "Ini cukup!"
__ADS_1
Yuli lalu berbalik, melangkah pergi secepat mungkin. Jimin menahan tangan Yuli saat dia sampai di pintu. Jimin membalikan tubuh Yuli.
"Yuli, dengar_"
"Jimin, apa kamu lupa janjimu?" Yuli menatapnya tajam dengan air mata yang mengalir deras, tapi Yuli tetap berusaha menguatkan dirinya untuk berbicara dengan Jimin.
"Kamu pernah bilang, jika kamu menyakiti hatiku lagi, maka kamu takkan pernah memunculkan wajahmu di hadapanku lagi. Dan, sekarang. Hariku sakit. Sangat sakit." Yuli menarik napas panjang, lalu melepaskan tangan Jimin darinya. "Jadi, bisakah sekarang kamu menepati janji itu?!"
Yuli melihat Jimin mematung. Dia seperti orang yang depresi. Sementara mata Yuli bergerak lagi, menatap wanita yang berdiri tak jauh dari Jimin. Dia tampak *******-***** tangannya menonton mereka berdua, memasang wajah ketakutannya.
Lalu Yuli membuka pintu dan menutupnya kembali dengan keras. Yuli melangkah cepat, bersyukur mobil Jaehwan masih terparkir tidak jauh. Yuli segera masuk dan menyuruh Jaehwan cepat menjalankan mobilnya tanpa bertanya apa pun.
Ini seperti hari kehancuran Yuli.
__ADS_1
...****************...
Yuli mengganti semua barangnya mulai dari ponsel sampai pakaiannya. Yuli benar-benar mengantisipasi beberapa alat pelacak lain masih ada pada Yuli. Yuli tidak ingin bertemu Jimin. Tidak sama sekali.
Yuli masih sering diberi tahu oleh Iseul bahwa Jimin terus berusaha mencari Yuli. Bahkan, katanya Jimin sampai berlutut di depan paman Yuli selama seminggu berturut-turut, tapi selalu berakhir dengan pengusiran.
Ini sudah sebulan sejak kejadian itu dan Yuli benar-benar tidak berkomunikasi dengan siapa pun lewat ponsel. Hanya Iseul yang sering datang kemari untuk menengok Yuli.
Yuli tidak meninggalkan Korea, tapi pergi ke sebuah tempat yang menurutnya cukup aman dan menenangkan. Setidaknya, di sini Yuli bisa lebih fokus pada dirinya sendiri dan calon bayinya. Yuli merasa aman di sini karena paman Yuli juga menyewa penjaga yang siaga mengawasi Yuli.
"Eonnie, kemarin tiga orang temanmu datang ke tempat kami. Mencari Mu," Iseul sedang memakan salad buahnya. Hari ini dia datang untuk membawakan makanan.
"Siapa?"
__ADS_1
"Gojung, Myura dan Jungkook? Mereka mengkhawatirkan kamu." Sebenernya, Yuli tidak terkejut, terlebih pada Gojung dan Myura yang bahkan bisa langsung khawatir jika Yuli tidak muncul di grup selama tiga hari.