
Ini berbeda
Ini jauh lebih mengerihkah dari rumah hantu.
Jimin tidak berbicara lagi, dia hanya meraih sepasang tangan dingin Yuli untuk di bungkus dalam kehangatan tangan Jimin. Yuli melihat kebawah, pada saat tangan mereka yang saling bertautan. Lebih tepatnya fokusnya jatuh ke cincin yang terpasang di tangan masing-masing.
Detik itu, Yuli sadar bahwa Jimin tidak pernah melepaskan cincin itu sama sekali belakangan ini. Dulu saat awal menikah dia masih mengikuti mood untuk memakainya. Yuli tidak pernah bertanya mengapa dulu Jimin jarang memakainya. Yuli hanya berpikir positif bahwa Jimin mungkin tidak terbiasa memakai sesuatu di tangannya atau bisa saja cincin itu juga mengganggunya saat akan mengetik sesuatu atau mengutak-atik hal-hal yang berbau tentang gimnya.
sesederhana itu pikiran Yuli. Yuli tidak mau menuntut banyak hal dan takut nantinya akan berantem.
"Yuli-ya." panggil Jimin akhirnya bersuara.
Yuli mengangkat kepala, untuk menemukan wajah Jimin yang tengah menatapnya serius. "Iya."
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar mencintaiku."
Untuk beberapa detik, Yuli terdiam. Sebenernya, itu pertanyaan yang tidak perlu di jawab atau mungkin pertanyaan yang bisa langsung Yuli jawab dengan cepat jika keadaannya tidak seperti ini. Maksud yuli, jika Jimin bertanya saat mereka tengah berlibur dengan senyuman di wajahnya sambil dia membelai pipi Yuli atau menggosok ujung hidung Jimin di kening yuli, pastilah yuli akan dengan bersemangat menjawab bahwanya sangat mencintai Jimin.
Namun, dalam keadaan seperti ini Yuli merasakan sesuatu yang aneh. Sorot matanya berbeda, seperti ada keraguan di dalam dan juga ketakutan. Entah meragukan diri Yuli atau yang lain.
"Oppa, itu bukanlah hal yang harus kujawab. jika aku tidak mencintaimu, aku pasti sudah tidak di sini lagi sejak lama." Yuli berusaha menarik senyum di antara bibir pucatnya.
Tanpa aba-aba, Jimin mendekat lalu menarik satu bahu Yuli agar merapat padanya. Hingga kepala Yuli berakhir dengan bersandar di lehernya.
"Takut kenapa?" Tanya Yuli.
"Takut kehilangan keluargaku." Jimin menghela napas, tangannya mengusap punggung Yuli. Yuli bisa melihat dia menelan ludah dalam dari gerakan jakunnya. "Aku pernah menghancurkan keputusan keluargaku hingga membuat ayah dan ibuku berpisah. Aku takut jika karma itu datang kembali pada keluarga kecil kita."
__ADS_1
Yuli cemberut seketika mendengarnya. "Jangan berbicara seperti itu." Seandainya Yuli tidak sakit, Yuli pasti sudah melepaskan diri dari dekapannya ini dan protes habis-habisan.
Yuli mendengar Jimin terkekeh sama. "Kalau begitu berjanjilah."
"Berjanji apa?"
"Berjanji untuk tidak meninggalkanku, apa pun yang terjadi.'' Jimin menyodorkan kelingkingnya di depan wajah Yuli, sedikit menunduk untuk menatap Yuli menunggunya untuk menyambut itu.
"Bukanya aku sudah sering berjanji untuk hal itu?" tanya Yuli bingung.
"Berjanjilah lagi, aku selalu ingin mendengarnya." Meskipun terkesan aneh, pada akhirnya Yuli menyambut jari kelingking Jimin mengangkatnya dengan jari Yuli. Yuli menahan tawa karena dengan posisi seperti ini, mereka justru seperti pasangan muda yang baru berpacaran.
Jimin tersenyum sambil sesekali mencium pipi Yuli, menggodanya yang sedang sakit. Jimin tidak peduli dengan kalimat peringatan Yuli bahwa nanti dia akan tertular, jimin hanya bilang dia sangat rinduh dengan Yuli padahal setiap hari mereka bertemu. Namun, jujur dengan kedekatan ini. Yuli merasa jauh lebih baik.
__ADS_1