Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 80


__ADS_3

"Aa-ahh!" Suara jimin benar-benar memecah pagi yang tenang ini.


"Ahh....," desisjimin merdu.


Spontan yuli melembutkan lagi usapan yuli pada kening jimin.


"Padahal aku sudah pelan-pelan," ucap yuli sambil menyapukan kapan balas ke area kening jimin. Tangan yuli yang lain menyibak poninya.


Jerawatnya yang ini lebih sedikit besar dari yang kemarin di pipi. Yuli gemas sekali inin memencetnya. Jimin awalnya tidak mau dan lebih suka membiarkan jimin hilang atau mengempes sendiri. Namun, yuli kasiha saat melihat suaminya yang hobi menyibakkan poni panjangnya ke belakan lupa punya jerawat hingga akhirnya dia merinis sendiri


karena tak sengaja menyentuh jerawatnya.


Akhir-akhir ini sepertinya jimin sedang banyak pikiran. Yuli tak tahu kenapa. Padahal yuli lihat kariernya sangat bagus belakangan ini. Jimin berhasil mendapatan penghargaan. Atau mungkin salah makan? Selama dua bulan ini, dia punya tiga jerawat. Hilang satu, muncul lagi. Setelah di pipi, ada di leher, lalu sekarang di keningnya. Yang ini tidak terlalu terlihat karena masih bisa di tutup oleh rambutnya.


"Sudah selesai tinggal di beri obat agar cepat mengering dan tidak meninggalkan bekas." Yuli mengoleskan krim jerawat yuli untuk jimin dengan menggunakan cotton bud.


"Kamu membangunkanku hanya untuk memencet jerawatku." Suara jimin bahkan masih parau. Jimin masih sangat menganggu dan terlihat tepaksa ketika yuli menyuruhnya duduk.


yuli tersenyum, lalu membereskan semua perlatan. Yuli juga sebenarnya baru bangun, bahkan masih memakai baju tidur. Namun, hari ini ada banyak hal yang ingin yuli bicarakan pada jimin.


"Aku membangunkanmu sekaligus ingin meminta izin karena pagi ini harus pergi."


"Ke mana?!" mata kamtung jimin langsung melebar.


Yuli terkekeh melihat reaksi jimin. "Pamanku berulang tahun. Aku juga baru ingiat hari ini, jadi akui akan ke rumah pamanku di busan."

__ADS_1


Jimin mengerutkan kening. "Apa artinya kamu akan menginap?"


Yuli mengangguk. "Sepertinya harus karena jarang sekali bertemu mereka."


"Berapa lama?"


"Hanya tiga hari."


Jimin tampak menimbang. "Apa harus pergi sepagi ini?? Aku kan harus ke kantor ada rapat penting pagi ini. Bagaimana jika pergi siang atau sore? Agar aku sendiri yang mengantarmu," tawar jimin dengan sebelah tangan jimin yang menarik yuli agar mendekat, menuntun yuli naik ke atas pangkuan jimin.


Tangan yuli otomatis terkalung di leher jimin. "Tidak usah, aku bisa di antar sopir kan?"


Jimin masih tampak belum rela, bahkan melirik ke perut yuli yang sudah smakin besar. Mereka berdua sudah tak sabar menantikan kelahiran calon bayi mereka. Yuli dan jimin sepakat untuk oindah ke rumah baru, hanya jika anak ini sudah lahir.


"Ayolah, aku hanya pergi sebentar. Keluarga paman dan juga sepupuku sudah protes karena selama hamil, aku sangat jarang ke sana. Ini hanya tiga hari" yuli memasang wajah memohon terbaik yuli pada jimin.


Yuli tersenyum puas. "Itu pasti."


Mereka berdua masih saling menatap satu sama lain sampai akhirnya yuli menoleh dan melirik jam, sadar bahwa yuli harus segera bergegas karena paman yuli sudah menelepon dan menyuruh yuli agar segera datang. Jadi yuli harus menyiapkan sarapan dan pakaian jimin juga.


Saat yuli hendak berdiri, jimin menahan yuli untuk tetap duduk di pangkuan jimin.


"jangan pergi dulu!" Bukan jimin namanya jika tidak seperti ini.


"Kenapa?" Sebenernya, ini hanya reaksi spontan karena kaget saat jimin mendudukan jimin kembali.

__ADS_1


"Aku masih rinduh."


Oh, lihat. Siapa yang mulai menegelamkan wajah jimin di leher yuli sambil tertawa? Hal yang otomatis membuat yuli geli dan juga ikut tertawa bersamanya.


"Kamu akan pergi lama." jimin masih tidak rela rupanya.


"Tidak." Yuli menggeleng, menjauhka kepala jimin . Lalu memberinya senyum manis. "Aku hanya tiga hari." Sekali lagi yuli menyakinkannya bahwa tiga hari bukanlah waktu yang lama.


"Menyebalkan," goda jimin lagi.


"Kalau begitu, lepaskan tanganmu dan biarkan aku mandi, lalu mnyiapkan sarapan." Yuli menatap dengan jari jimin yang mengetuk-ngetuk pelan ujung hidung jimin.


"Kamu sudah cantik," gumamnya parau sambil menurunkan jari yuli. "Apa bidadari sepertimu juga perlu mandi?"


Yuli memutar bola mata. "Sudahlah, bukankah kamu juga harus segera bangun dan berkerja?"


Jimin terkekeh pelan. "Ah, kamu benar....."


Jimin tersenyum memajukan wajah. "Kali ini kamu bisa menghindariku."


Yuli mmbalas dengan senyum yang sama, lalu menepuk llengan jimin pelan. "Bersiaplah pakaianmu akan kusiapkan." berharap jimin akan segera melepaskan lilitan lengan jimin.


"Kau melupakan sesuatu." jimin masih mmenahan yuli.


Mata jimin menatap yuli seakan menuntut sesuatu.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskanmu. Sebelum kamu menciumku!"


Dan hal yang ada di pikiran yuli. "Ah, sudah kuduga.'"


__ADS_2