
"Oppa...," panggil yuli masih menatap langit-langit kamar.
"Hmm?" Jimin mengubah posisinya jadi menghadap ke arah yuli.
Yuli masih agak malu menatap Jimin. jadi, dia tetap pada posisi telentang sambil meremas selimut. "Apa kau ingin punya anak dariku?" pertanyaan itu sejak tadi menggumpal di kepala yuli.
Tanpa menoleh pun, yuli bisa merasakan keheranan Jimin atas pertanyaannya. "Kenapa kau menanyakan itu? tentu saja aku mau, aku sangat menginginkannya."
Yuli tersenyum, lalu perlahan menoleh ke samping menemukan wajah tampan suaminya. "Apa kau akan sangat menyayanginya nanti."
"Bagaimana bisa sebagai orangtua tidak menyayangi darah dagingnya sendiri, Yuli? ada-ada saja." Jimin mengulurkan tangan untuk mengusap pipi yuli.
__ADS_1
Yuli menarik napas panjang dan membiarkan tubuhnya di tarik ke dalam pelukan Jimin. pelukan hangat Jimin yang terasa begitu nyaman dan menenangkan. yuli bisa merasakan bagaimana dia mengusap punggung yuli dengan lembut. Telinga yuli menempel di dekat dada jimin sehingga bisa dia dengar suara detak jantung jimin. Detik itu pun keraguan pada diri yuli mulai berangsur luntur, berganti dengan sebuah keyakinan akan perasaan dirinya terhadap Jimin.
...****************...
Tidak ada rasa yang lebih melegakan saat skripsi yang dikerjakan sudah di tandatangani oleh dosen pembimbing. ini seperti hari yang telah yuli impi-impikan selama memasuki semester akhir.
Mungkin ini adalah hari keberuntungan karena dosen-dosen pembimbing sedang dalam suasana hati yang baik saat yuli menjauhkan lembar untuk pengajuan sidang. Dia benar-benar lelah dengan revisi. yuli mengerjakannya sampai larut malam dalam dua Minggu terakhir ini. itu saja sudah hampir membuat dia pingsan.
Yuli tidak ingin terlalu banyak menuntut Jimin lagi, dia harus tetap mendukung jimin, itu yang selalu diberi tahu Dokter Rosa pada yuli. Mertua yuli yang satu itu sepertinya sedang sangat menikmati tugasnya di India. Dia tidak mengatakan pada Mereka kapan dia akan kembali, dia sangat menyukai anak-anak. Dan, di sana, dia menangani anak-anak yang kekurangan gizi.
Yuli melirik Jam di tangannya sembari menarik senyum dan melambai pada Gojung yang baru saja dijemput oleh kakaknya. Myura kedatangan keluarganya dari kampung hari ini, jadi dia harus pulang lebih cepat. Sementara itu, Gojung masih tinggal di perpustakaan. Dia sedikit stres karena skripsinya masih belum sempurna sehingga terus melakukan revisi. Dia mengejar pencarian terbaik untuk lulusan tahun ini, jadi dia membuat judul skripsi tingkat dewa dan itu membuatnya pusing sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak bilang bahwa kau adalah istri dari Park jimin?" Yuli menolak mendengar suara itu masih memeluk map. Yuli menyipitkan mata mencoba mengenali lelaki yang sedang memakai boodie dengan tudung yang menutupi kepala. Setelah beberapa detik, dia membuka tudung kepalanya sehingga yuli langsung mengenalinya.
"Jungkook?"
"Aku tidak mengira kau sudah menikah. Maaf, aku langsung menyinggungnya. Aku hanya terkejut saat mencari tahu tentangmu dan_"
"Apa? Kau mencari tahu tentangku?"
"Eh," Ucap Jungkook sembari mengusap belakang kepala. "Tidak, maksudku, aku mengetahuinya karena aku tidak sengaja bertanya pada Gojung. Kami.....Hmm, kau tahu, kemarin aku bercerita pada Gojung bahwa aku menemanimu dan.... yeah. Informasi itu mengalir begitu saja... seperti....air...entahlah. Hehe."
Jungkook sepertinya menjadi salah tingkah dan yuli bisa melihat jelas hal itu tapi dia tidak peduli kekonyolan itu.
__ADS_1