Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 22


__ADS_3

"Jika kau masih ragu karena takut terlukah, kita bisa melakukannya tanpa berciuman," ucap Jimin yang begitu santai.


Ini justru membuat yuli frustrasi dan gemas sendiri Melakukannya tanpa ciuman? Apa jadinya, yuli jadi tidak punya pelampiasan. suara-suara dari mulutnya nanti malah akan semakin terdengar menjijikan.


pikirannya mendadak kacau saat tangan Jimin yang semula berada di pelukan yuli naik sedikit lebih tinggi untuk menjangkau satu titik sensitif yang tidak seharusnya di sentuh. Yul pun tidak sadar, sejak kapan jimin memasukkan tangannya kedalam baju yuli.


Yuli semakin gila saat Jimin mulai menenggelamkan kepalanya di leher yuli hingga membuat dirinya menjerit lirih begitu sebuah gigitan kecil terasa bagai sengatan listrik yang memacu aliran darah yuli. Seketika, semuanya menjadi mengabur.


Yuuli tenggelam dalam permainan jimin. Saat wajah jimin terangkat lagi untuk menciumi pipi yuli ataupun dagunya, yuli malah menggerakkan ke palanya agar bisa menyambut bibir jimin.


Yuli tahu jimin tersenyum penuh kemenangan di antara ciuman mereka. Ciuman yang cukup menyiksa dengan posisi seperti ini. Namun, Jimin tampak menyukainya. Dia menahan kepala yuli agar tetap menghadap pada dirinya. Jimin tidak membiarkan yuli untuk bergerak sesenti pun.


"Jimin_Ah..." Kalau sudah seperti ini, yuli tidak bisa memanggilnya dengan sebutan Oppa lagi.

__ADS_1


Jimin sepertinya akan menghabisi yuli malam ini, terlihat dari caranya melucuti semua pakaian yuli dan dirinya. Saat jimin membaringkan tubuh yuli, menatapnya dan bergerak bersama. Rasanya berbeda. Ini lebih lembut dari yang sebelum-sebelumnya.


"Jimin...." Yuli memanggil namanya saat merasa semuanya terasa begitu gila. Dia meremas kedua bahu jimin dan memejamkan matanya, tak sanggup menatap wajah seksi penuh keringat jimin yang tepat berada di atas dirinya itu.


"Buka matamu, Yuli" ucap Jimin dengan sedikit mendesak di antara gerakannya yang mulai bertambah disana. Temponya menjadi sedikit berbeda.


Yuli merasa diri dirinya begitu penuh dan ini benar-benar gila. Dia menggeleng." Ak-aku, aku tidak mau," ucap yuli sedikit terbata-bata.


Jimin mencium kedua mata yuli secara lembut, tapi menutut. "Bukalah, aku ingin kau menatapku." Tangan Jimin mengelus pipi yuli.


Jimin menyambut yuli dengan satu ciuman manis yang singkat dan lembut. yuli berharap Jimin akan mencintainya lagi, tapi jimin malah sibuk menatap yuli, membuat dia jadi tersipu malu. yuli membayangkan dirinya yang sayu dan berantakan sedang di tatap olehnya.


"Tetap seperti ini, buka matamu, aku ingin melihatmu."

__ADS_1


"jimin-Ah...," rengek yuli malu. "Jimin!" Yuli meneriakkan namanya lagi ketika ledakan itu terasa semakin dekat.


"iya, Yuli. Hanya aku. Hanya namaku. seperti itu," ucap Jimin yang juga merasa semakin dekat.


Hanya beberapa detik setelah tekanan yang begitu keras hancur berkeping-keping tepat beberapa senti di depan Jimin. Disaksikan langsung olehnya.


Awalnya, dia pikir mereka akan datang secara bersamaan. Namun, rupanya Jimin belum karena yuli bisa melihatnya tersenyum dan terus bergerak setelah dirinya. Hanya beberapa detik hingga akhirnya Jimin juga menggapai ledakannya.


Napas mereka berdua naik turun, tersengal-sengal. Namun, bukan Jimin namanya jika dia tidak mengakhirinya dengan manis berupa sebuah kecupan lembut yang cukup di kening yuli. Jimin masih belum beranjak dari yuli. jimin masih betah menatapi wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia sempat memandang yuli selama beberapa detik, sebelum akhirnya menjauhkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya dengan berhati-hati ke dekat leher yuli.


Yuli bisa mendengar deru napas Jimin dari sini. "Yuli...," ucap Jimin terdengar seperti merintih. "Yuli.." Dia memanggil yuli lagi, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Yuli tidak menjawabnya. Dia memeluk dan menepuk punggung jimin saja sebagai pertanda bahwa yuli siap mendengarnya.


Deru napas jimin masih terdengar di sela-sela leher yuli, lama kelamaan itu terasa sedikit sedih karena. entah mengapa yuli merasa auranya menjadi sedikit berbeda. Dia tidak punya analisis apa pun untuk suasana seperti ini.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, Jimin berbisik pilu, "Tolong segera lahirkan anakku, selagi aku masih punya waktu."


__ADS_2