
"Namun, sepertinya semua itu juga takkan pernah mampu untuk menghapus rasa trauma Jimin tentangku. Setiap kali dia datang ke rumah, dia masih enggan menatapku sebagai seorang ayah."
Yuli menatap lelaki paruh baya itu dengan tatapan sedih.
"Itu sangat menyedihkan. Aku juga sempat kecewa padanya, sampai akhirnya aku mengetahui bahwa jauh di dalam hatinya, dia sangat tersiksa dengan semua ini. Dengan ingatannya," Sambungnya.
Ayah mertua mendekat, lalu menyodorkan sesuatu yang sejak tadi dia pegang pada Yuli. Sebuah tape lengkap dengan earphone-nya.
"Aku hanya ingin memberikan ini. Kuharap kamu mendengarkannya setelah kamu melahirkan. Itu pesan dari Jimin."
Yuli sekilas menatap benda itu. Jadi, Tuan park tahu keberadaan Jimin? Namun dia tidak memberitahu Yuli untuk bertemu dengan Jimin. Tentu ini bukan salahnya karena memang sudah keinginan Jimin yang tak mau menemui Yuli lagi.
"Kamu boleh membenci Jimin dan _"
"Aku tidak membencinya. Aku hanya sedih, jika kami harus berpisah, kenapa harus dengan cara seperti ini?" Yuli menatap tuan park sendu. Namun, detik berikutnya Yuli tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu akan mengerti." Tuan park meletakan tape kecil itu di dekat meja Yuli karena dia memang sama sekali belum menerimanya.
Tuan park menarik napas, lalu menatap istrinya, seolah mengingatkannya bahwa mereka berdua akan pergi. Dia kini menatap Yuli.
"Baiklah, aku akan pergi. Saat kamu sudah melahirkan nanti. Boleh aku ke sini lagi untuk menengok cucuku?" pintanya.
Yuli mengangguk samar. "Tentu, dia akan selalu menjadi cucumu karena selamanya dia juga akan selalu menjadi anak dari park Jimin." Dan entah mengapa, dada Yuli mendadak begitu sesak.
Mereka berdua tersenyum, Nyonya Eunjung sempat memeluk yuli, sedangkan tuan park mengusap kepala Yuli sebelum akhirnya kedua bayangan itu menghilang dari balik pintu.
Suara Jimin? Astaga, membayangkannya saja sudah membuat hati Yuli ngilu. Apakah Yuli sanggup?
Jimin ingin Yuli mendengarkannya setelah melahirkan. Dia pasti punya alasan. Dan jika itu keinginannya, akan Yuli turuti. Yuli masih menjadi istri-nya dan Yuli akan menuruti nya.
...****************...
__ADS_1
"Kudengar teman-temanmu tadi pagi datang menjenguk?" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Dokter Hwang saat dia masuk ke ruangan yuli.
"Ya, mereka datang tadi," Jawab Yuli seadanya.
"Bagaimana keadaan kamu hari ini?" Dokter Hwang bertanya ramah setelah selesai menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Yuli.
"Aku baik," dusta yuli, entah untuk yang ke berapa kalinya.
Dia tersenyum kecil, lalu melanjutkan lagi pemeriksaan selanjutnya. Rencana hari persalinan sudah semakin dekat. Mereka semua hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, sementara Yuli masih sempat memohon untuk melakukan proses persalinan normal jika itu memungkinkan.
"Jika butuh apa-apa, tekan saja tombolnya." Dokter Hwange menunjuk tombol yang ada di dekat bangkar.
Yuli membalas senyuman-nya. "Tentu."
Mereka semua keluar dari dalam kamar dan suasana kembali sunyi, hanya ada suara dari sisa-sisa hujan yang membentur atap dan tanah di luar sana. Yuli menarik napas, menatap ke jendela yang meloloskan cahaya senja.
__ADS_1
Yuli merasa sangat kesepian di dalam ruangan ini.