
...Oppa, aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak marah padamu dengan semua ini. Semua keputusanmu akan kuhargai karena bagiku, kamu masih menjadi kepala rumah tangga yang terbaik bagiku....
...Aku takkan menahanmu untuk melakukan apa pun yang kamu inginkan karena aku tahu itu percuma....
...Namun, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu. lebih tepatnya tentang rasa terima kasihku. Aku berterima kasih karena kamu telah hadir dalam hidupku. Jika aku pernah bilang bahwa aku menyesal telah mengenalmu, sesungguhnya aku berbohong. Karena sampai detik ini, menjadi bagian dari hidupmu adalah salah satu hal terbaik dalam hidupku....
...Mungkin Yuli akan marah dan mengutukmu untuk pilihan ini. Namun, Yuli yang sekarang berbeda. Yuli sudah menjadi lebih dewasa dan ingin menjadi seorang istri yang pengertian dengan keadaanmu. Aku tahu, berat bagimu untuk menanggung semua ini....
...Kamu tersiksa, aku tahu. Namun, aku juga tidak bisa memungkiri seberapa sesak diriku saat menemukan kenyataan bahwa kehadiranku di dunia ini dan anak kita tidak menjadi energi yang cukup kuat untuk menolongmu dari semua kesakitan itu....
...Mungkin, benar karena kita memang kurang punya waktu untuk bersama. Mungkin, benar karena memang kenangan baik kita belum terlalu banyak untuk membuatmu yakin untuk tetap bersama kami. Itu terkadang membuatku menyesal....
...Seandainya aku tahu bahwa cintamu itu nyata, aku pasti takkan mungkin pertengkaran dalam rumah tangga kita. Mungkin, aku akan lebih banyak minta dipeluk atau dicium dari pada meminta penjelasan darimu....
...Ah, Oppa. Aku pasti akan sangat merindukanmu....
...Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika tidak merasakan napasmu di leherku atau tidak mendengar detak jantungmu di telingaku. Sekarang kamu mungkin sudah melupakanku. Dan ini semua tak berguna. Namun, lewat pesan ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku juga sangat mencintaimu....
__ADS_1
...Aku selalu berharap kamu bisa hidup bahagia dan tenang. Apa pun keputusanmu. Meski pada akhirnya kita tidak bersama pagi....
...Terima kasih karena pernah membuatku bahagia dan merasa begitu dicintai....
...Aku sangat merindukanmu....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara dari surat Yuli sendiri seakan masih menggema dalam kepalanya setiap saat. Seolah Yuli terus mengulang itu setiap kali melihat Jimin.
Bahkan saat hari ini tiba. Saat Yuli melihat petinya mulai di tumpuk dengan tanah. Yuli terus memeluk bayinya karena dia adalah kekuatan Yuli. Sampai pada akhirnya, berakhir dengan tumpukan bunga yang menyelimuti gundukan makam dan foto Jimin yang terpajang di sana. Dunia seakan melambat ketika seluruh kenangan mereka berdua berputar di dalam kepala Yuli.
Rasanya dunia Yuli benar-benar hancur, Jimin benar-benar telah meninggalkan mereka. Yuli semakin menangis, tak peduli awan hitam di langit sudah semakin tebal. Bahkan angin berembus kencang dan suara petir mulai terdengar. Orang-orang memperingatkan Yuli untuk segera pergi, tapi Yuli masih ingin beberapa detik lagi menatap makam Jimin.
Sampai akhirnya, suara tangisan kencang anaknya mengagetkan Yuli. Yuli melirik ke bawah. Tangisan anak Yuli mendadak, seluruh tubuh Yuli lemah dan pandangan Yuli menghitam bertepatan dengan suara jeritan bayi Yuli yang sangat menampar telinga.
Yuli mendadak membuka mata. Lalu melihat sekelilingnya, menyadari dirinya yang berada dalam ruangan operasi dengan sesuatu yang mengungkung mulut Yuli sebagai alat bantu untuk memasok udara dalam tubuh Yuli. Kini, napas Yuli naik turun. Ini semua terasa mengganggu. Yuli mulai bisa merasakan banyak alat yang menempel di tubuh Yuli.
__ADS_1
Air mata Yuli keluar, menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi. Namun, yuli masih bisa mendengar dengan jelas suara tangisan kencang seorang bayi yang persis seperti yang ada dalam mimpi Yuli.
Detik berikutnya, insting Yuli langsung bergerak otomatis untuk mencari sumber suara itu. Maka, Yuli menoleh sedikit ke kanan dan melihat punggung seorang lelaki yang tengah menyerahkan seorang bayi dalam gendongannya ke perawat.
"Biar saya sja, Tuan. mungkin dia buang air kecil," ucap perawat itu dengan berhati-hati, kemudian keluar tanpa melihat ke arah Yuli sama sekali.
Tepat setelah sosok yang semula menggendong bayi Yuli itu kembali menutup pintu, lelaki itu berbalik dan langsung mengarahkan tatapannya pada Yuli. Yuli membeku, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Setelah tadi hanya menerka sebuah kemustahilan, sekarang Yuli seperti ditampar sebuah keajaiban.
"J-jimin?" bibir Yuli gemetar, nyaris tanpa suara saat bergerak menyebutkan nama suaminya.
Itu memang Jimin. Apalagi, saat sosok itu melangkah semakin dekat lalu memegang tangan Yuli.
"Ya, ini aku." Jimin menatap Yuli dengan tataan yang sulit untuk Yuli artikan.
Yuli masih sulit untuk percaya. Pikiran Yuli melihat ke mana-mana. Mata Jimin berkaca-kaca. Dia mengarahkan bibirnya untuk mengecup kening Yuli. Saat Jimin berbisik di dekat telinga Yuli dengan kalimat, "Maafkan aku," Yuli sadar bahwa ini bukanlah mimpi.
Ini adalah keajaiban. Entah bagaimana Jimin bisa di sini. Yuli membalas genggaman tangan Jimin. Semuanya terasa begitu nyata. Jika ini masih mimpi, Yuli bersumpah tidak ingin terbangun lagi. Dan, tepat saat Yuli berpikir demikian, Jimin kembali mengecup kening Yuli, seolah menyakinkan lagi bahwa ini semua adalah kenyataan.
__ADS_1
Yuli tida mau memikirkan kenapa Jimin bisa ada di sini sekarang. Yuli hanya ingin memejamkan mata dan membalas genggaman tangan Jimin sebisa Yuli. Jimin mengecupi bawah mata Yuli seolah membukanya dan ketika Yuli melakukanya, Jimin melepaskan senyum pada Yuli.
Senyum yang penuh arti. Senyum yang bermakna ribuan janji bahwa dia takkan pernah meninggalkan Yuli lagi.