Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 70


__ADS_3

Detik itu juga aku langsung ingin segera bertanya pada Nam, tapi ternyata dia lebih dulu membuyarkan pandanganku dengan suaranya.


"Itu dia orangnya, Jung Nara."


Nam menunjuk ke seseorang yang tengah duduk di kursi goyang sambil menyulam sebuah syal. Dia tampak begitu tenang dan tak terusik sama sekali atas kehadiranku dan Nam. Dia tetap fokus meneruskan kegiataanya sambil mengumumkan sebuah irama lagu yang tak asing.


Tunggu, pertama-tama aku harus memastikan keterkejutanku bahwa dia adalah seorang wanita. Jadi, yang bermain dalam permainan itu ada juga yang wanita? Ini gila. Apa yang sebenernya manusia-manusia itu pikirkan? Kepuasaan pribadi? Tantangan? Ah, bodoh sekali.


Dari penampilanya sekarang yang memakai baju rajutan, rok selutut, rambut yang tergerai tapi seperti tidak disisir rapi, mungkin dia sudah berusia 35thn lebih atau mungkin 40thn?


Nam memberiku kode untuk lebih mendekat padanya. "Berbicara pelan-pelan, tidak apa-apa. Aku ada di sini," ucap Nam lirih.


Aku menarik napas mantap dan mengangguk. Pelan melangkah, aku mendekatinya. "Perm__"


Jung Nara spontan mengangkat tangannya untuk menahanku, sambil terus menggunakan irama itu dari mulutnya. Kulihat dia mulai mengangkat kepalanya, tapi matanya masih memejam dan meneryluskan irama itu lewat mulutnya, selama sepuluh detik, sampai akhirnya berhenti. Lalu dia membuka matanya dan kini menatapku sempurna.


"Jangan mengintrupsi jika sedang menyanyikan lagu kebangsaan," ucapnya padaku.


Aku terdiam sejenak untuk mencerna. Selama lima detik terdiam, aku baru teringat bahwa irama itu persis seperti ringtone di ponsel Jimin. Hanya saja versi Jimin sedikit diaransemen.


"Maaf," ucapku sembari menundukkan kepala.


Jung Nara menghelas napas. "Langsung saja tanyakan apa yang ingin kau dengar dariku dan jangan lupa satu jawaban selalu punya harga yang besar."


Aku spontan menoleh pada Nam. Namun Nam malah berkata. "Tenang saja, aku akan melakukan transfer setelah ini."


Aku tak menyangka bahwa Nam membantuku sampai sejauh itu. Nam kemudian mempersilakanku untuk bertanya. Dia juga mengingatkan waktu kami yang semakin menipis dengan menunjukan jamnya.


Baiklah, aku akan membahas tentang pembayaran itu nanti. Sekarang aku harus fokus pada tujuanku.


"Aku ingin tahu alasan seorang mengikuti permainan ini. Apa yang kau pikirkan saat mengikutinya?" Aku pernah menanyakan ini pada Jimin, tapi aku ingin mendengar versi yang berbeda darinya. Lagi pula Jimin tidak mendetail menjawabnya waktu itu dengan hanya mengatakan demi kepuasaan pribadi dan untuk menyibukkan ingatan yang terus berkerja di luar kenormalan manusia.


Jung Nara tersenyum tipis. "Setiap orang punya alasan yang berbeda-beda, tapi saat kau sudah mendapatkan penawaran untuk bermain, kau akan sulit menolaknya."

__ADS_1


"Penawaran?" tanyaku masih tak mengerti.


"Ya, sudah sejak lama, dari generasi ke generasi mereka akan cocok untuk bermain. Kriteria dasarnya selalu sama, ambius, menyukai tantangan, haus akan pengakuan dan tentu saja, gila."


Aku langsung terbayang sosok Jimin lagi dalam kepalaku. Jimin memang punya aura seperti itu. Di samping sosoknya yang hangat, aku bisa merasakan Jimin punya semua kriteria yang disebutkan oleh Jung Nara.


"Apa yang membuatmu sulit menolak? Padahal kau tahu bahwa permainan itu mempertaruhkan seluruh hidupmu? Bahkan, permainkan itu meminta nyawa."


Jung Nara seketika menatapku tajam. Oh, tidak. Aku mungkin baru saja menyinggung dirinya karena biar bagaimana pun, dia juga telah mengorbankan adiknya sendiri, seperti yang dikatakan Nam.


Nam langsung sigap maju di dekatku dan membungkuk pada Jung Nara. "Maaf, dia sudah bertanya seperti itu. Tidak bermaksud menyinggung, dia seperti ini karena telah menjadi taruhan ketiga. Sekali lagi, kami minta maaf." Nam bahkan membungkuk dengan sempurna.


"Maaf," Aku juga ikut menundukan kepalaku.


Jung Nara masih terlihat kesal, tapi setelah dia meraih gelas yang ada di dekatnya dan meneguk minuman di dalamnya sampai habis, dia akhirnya mengatur napas kembali, lalu menatapku.


"Mereka selalu punya cara untuk menyakinkan kami bahwa semua bisa menang dan mendapat untung, bahkan tergiur untuk mengikuti 'How Come' pada generasi selanjutnya." Jung Nara mengusap mulutnya yang belepotan karena air dengan kasar.


Aku tertegun pada kata 'generasi selanjutnya'. Bearti ada kemungkinan Jimin untuk mengikutinya lagi setelah misinya selesai?


Rasanya dadaku seakan menyempit, membayangkan semua itu semakin membuatku merasa gugup. Tanpa sadar, keringatku bercucuran lagi.


"Siapa dia?" tanya Jung Nara tiba-tiba. Aku sulit mengerti. Namun dia memperjelas. "Siapa yang sedang melibatkanmu dalam permainannya? Sebutkan saja namanya!"


Aku sempat menoleh pada Nam, meminta pertimbangan. Haruskah kusebutkan? Namun, anggukan kepala Nam melunturkan keraguanku.


"Park Jimin." ucapku akhirnya.


Tiga detik Jung Nara terdiam, sampai akhirnya dia menyungingkan senyum tipis. "Ah, bocah itu rupanya. Dia masih betah bermain."


Aku melebarkan mata. "Kau mengenalnya?"


"Aku pernah satu babak dengannya, tapi dia pelindungku. Dia sudah bermain sejak usianya dua puluh thn. Dia dulu masih sangat remaja dan memanggilku Nona. Cukup berengsek untuk ukuran remaja sepertinya yang sangat pandai menakluhkan wanita." Jung Nara tersenyum kecut, seperti mengundang ingatannya pada masa jayanya dulu.

__ADS_1


Itu menyesakkan bagiku, sungguh. Aku selalu sensitif setiap kali diingatkan bagaimana berengseknya Park Jimin dalam menaklukkan wanita. Aku tidak lupa juga fakta bahwa Jimin lagi dengan ternyata sudah pernah mengikuti permainan ini dan mengikutinya lagi dengan meoibatkanku di dalamnya. Sialan.


"Park Jimin itu player yang cukup hebat. Dia punya ingatan yang sangat kuat, itu membuatnya selalu bisa mempelajari banyak hal dengan cepat dan sangat membantunya memenangkan permainan. Aku yakin jika kau menyebutkan namaku, dia pasti akan sangat mengingatku."


Aku tak menyangka dengan apa yang baru saja aku dengar. Kini aku malah lebih tertarik untuk mencari tahu tentang Jimin lebih banyak. Tak menyangka jika Jung Nara mengenal Jimin.


"Menurutmu, apa yang membuat Jimin ingin terus bermain?"


"Karena dia belum puas, Ketagihan atau memang karena menunggu dirinya sendiri hancur. Aku tidak tahu, kenapa kau tidak tanyakan langsung padanya dan__" Jung Nara tiba-tiba menatapku serius. "Memangnya, kau siapanya Jimin?"


"Aku istrinya."


Jung Nara yang tadinya duduk lantad berdiri. "Sungguh? Kapan kalian menikah?!" Jung Nara bertanya seperti itu tepat saat melihat perutku yang membucit. Mungkin, dia sedang memperkirakan usia kandunganku.


Aku terkejut saat Jung Nara mendekat. Aku menahan diri sebisa mungkin agar tidak melangkah mundur, takut dia tersinggung. Aku hanya bisa menelan ludah samar.


"Maret tahun ini." Aku menjawabnya sambil menahan napas.


Jung Nara mengernyit. "Ini aneh. Permaina dimulai selalu dia bulan Januari. 'How Come' tidak pernah meminta korban nyawa selain yang berasal dari keluarga sendiri. Itu sudah menjadi persyaratan." Jung Nara menatapku yang kini sedang bingung.


Nam juga ikut terkejut. "Jika kalian menikah di bulan Januari, maka saat itu jimin seharusnya tidak bisa melibatkanmu karena kau belum menjadi keluarhanya. Bagaiman kau sekarang terlibat?"


"Bisa saja, Jika dia menjadi pengganti, itu ada dalam kesepakatan bahwa yang mengajuhkan peraturan tertinggi bisa menggantinya jika dia mau." Jung Nara tersenyum dingin. "Jadi, kau dinikahi hanya untuk menjadi pengganti?" Terdengar mengejek. Namun dari pada terluka, aku lebih fokus pada rasa penasaranku.


"Tapi siapa yang digantikan oleh Keira?" Nam menanyakan hal yang sama dalam kepalaku saat ini.


Jung Nara menyeringai, menatap kami berdua seolah kami hanyalah anak muda yang bodoh dan lamban berpikir. " Tentu saja, seseorang yang sangat berarti di hidup Jimin. Seseorang yang mungkin sama berartinya dengan dirimu." Jung Nara menatapku.


Pikiranku langsung otomatis menuju pada satu sosok. Sosok yang tentunya sangat dekat dengan Jimin. Dia adalah satu-satunya keluarga yang paling dekat dengan Jimin sebelum aku. Siapa lagi kalau bukan ibunya sendiri.


"Dokter Ae...," ucapku lirih.


Jadi, aku memggantikan Dokter Ae?

__ADS_1


Aku menatap Jung Nara lagi. "Tapi, apakah pergantian itu membutuhkan persetujuan dari para pemainnya?"


Jung Nara mengernyit. "Seingatku, taruhan ketiga adalah harga mati. Yang bisa menggantinya adalah yang mengajuhkan taruhan itu sendiri. Semua murni adalah keinginan lawanya. Sama seperti saat lawanku meminta nyawa adikku sebagai taruhannya, aku bahkan tak bisa memohon untuk menggantinya. Dan kurasa, karena Jimin sudah bermain dan menyetujui untuk menjalaninya, maka dia tidak bisa mundur lagi." Jung Nara memberiku tatapan tajam. "Tidak ada jalan lain selain memenangkan gim ini."


__ADS_2