
Mereka berdua saling bertatapan dengan deru napas masing-masing yang cukup berantakan. Tatapan kemarahan yuli dan dirinya saling bertemu, terus mencari siapa yang paling benar dan menang saat ini. Namun, Jimin selalu berhasil menunjukkan bahwa dia adalah penguasanya.
"Jangan lakukan ini lagi." ancam Jimin atau mungkin ini sebuah perintah.
"Untuk apa aku di sini jika hanya menjadi taruhan? Aku tidak mau berada dalam permainan gilamu ini Jimin, dan berakhir dengan nyawaku sebagai taruhannya!" Jelas Yuli sangat marah.
"Sudah telanjur. Kau tidak punya pilihan selain mengikutiku jika masih ingin selamat." Jimin menajamkan tatapannya.
Seketika tangan Yuli mengepal, Yuli mencerna kembali kalimat Jimin. Itu, artinya dia juga membenarkan bahwa Jimin memang mempertaruhkan nyawa yuli. Kata sudah telanjur itu paling menohok.
Dada Yuli seakan menyempit menimbulkan rasa sakit yang hebat dan disusul sesak. Sebuah hal yang bisa membuat mata yuli memanas. Sakit sekali. Tak bisa dijelaskan rasanya ketika menatap wajah Jimin dengan kalimat jahat yang membayang di kepala. Hingga tanpa sadar, cairan bening keluarga dari mata yuli. Cukup deras.
__ADS_1
Yuli benci dirinya yang menangis dan kalah di depan Jimin. Jadi, Yuli segera melampiaskannya dengan sebuah pukulan yang Yuli lancarkan tidak hanya sekali.
"Aku membencimu!" peki yuli sambil terus berusaha memukul dada hingga bahu bahkan lengan Jimin, berharap dia segera menyingkir dan pergi dari hadapannya. Jimin malah diam saja, menahan tubuhnya agar tetap mendapat pukulan Yuli. Jimin tidak membalas apa pun dan hanya menatap yuli, membiarkan yuli menyakitinya.
"Pergi!"
Yuli memukulnya lagi. Air mata Yuli sudah membanjir wajahnya, namun Jimin tetap tidak mau beranjak dia tidak menyingkir satu sentipun dari tempatnya. Jimin membiarkan yuli terus memukulnya sampai Yuli sendiri kehilangan tenaganya.
Yuli menunduk menangis dengan tangannya yang semula ada di dada Jimin kini perlahan merosot ke bawah, yuli merasa begitu lemas.
Bersama dengan itu, rasa pusing kembali menghantam yuli. Sebenernya sudah sejak tadi malam. Mungkin karena terlalu banyak menangis, namun kali ini rasa pusingnya semakin menusuk. Tanpa sadar, mata yuli mulai memejam dan saat tubuhnya akan merosot Jimin dengan cepat menangkap
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Nadanya terdengar panik.
Yuli memegang kepalanya, masih sedikit terisak yuli mencoba melepaskan diri dari dekapan jimin tapi yuli terlalu lemah.
Jimin tidak mengatakan apa pun, dia langsung membawa Yuli ke dalam gendongannya lalu meletakkan yuli di sisi ranjang yang masih kosong karena masi ada kopernya di sisi lainnya.
"Jangan seperti ini lagi, kau tidak hanya menyakiti dirimu. Tapi, juga aku," seru Jimin menaikan selimut untuk membalut tubuh yuli setelah membenarkan posisi bantal di kepalanya.
Yuli hanya membuang muka. Bagi Yuli untuk saat ini, tak ada satu pun kalimatnya yang bisa membuat hatinya luluh dengan mudah seperti dulu. Jimin hanya menarik napas saat Yuli menunjukkan ketidak inginnya untuk berbicara lagi dengannya.
"Aku akan menelepon dokter ke sini. Buat dirimu nyaman." Jimin lalu melangkah ke luar, meneriakkan nama seungbi Ahjumma tepat setelah menutup pintu kamar.
__ADS_1
Sementara itu, yuli dan tubuh lemah sialan ini hanya bisa memejam membiarkan satu cairan menetes lagi sebelum akhirnya benar-benar sangat lelah dan terbawa ke alam bawah sadar.