
Meskipun yuli melihat wajah jimin, dia bisa merasakan Jimin terkejut dengan reaksi yuli. Kedepan jimin membuatnya langsung tahu bahwa ada yang terjadi dengan yuli, lebih tepatnya dalam pikiannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jimin sambil mengangkat dagu yuli lagi. Jimin semakin terkejut karena melihat yuli sudah berkaca-kaca. Pada momen ini, dia tak bisa menahan dirinya lagi. Yuli jadi merasa seperti orang paling bodoh di dunia,segala pikiran ini sangat membebaninya.
Hingga entah bagaimana yuli bisa berkata, "Oppa, lebih baik kita berpisah dulu."
Bisa di lihat mata Jimin semakin melebar, sangat terkejut, dan mungkin bisa saja marah dengan ucapan yuli. "Apa yang kau katakan?! Ada apa dengan dirimu?! jangan asal bicara katakan padaku! Siapa yang mengusikmu lagi? Siapa yang memengaruhimu lagi? Apa teman-temanmu_" Ucap Jimin terhenti ketika tangan yuli berhasil menutup mulutnya dengan pelan.
Yuli menggeleng. "Aku hanya merasa bingung, semua ini..." yuli menarik napas, air mataku turun, entah sejak kapan suasananya berubah menjadi sangat menyesakkan.
__ADS_1
"Aku bingung, sangat bingung. Oppa tidak mau menceritakan semuanya padaku. Oppa hanya menyuruhku percaya pada Oppa, tapi aku tetap sulit untuk melakukannya. sangat sulit."
Yuli lalu menurunkan tangannya dari mulut Jimin. Kemudian, terisak." Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenernya terjadi. Apa yang membuat Oppa mengatakan kalimat yang terkesan bahwa kau tak punya waktu lagi." Yuli memejamkan mata.
"Itu membuatku taku, sungguh. sangat menakutkan...." yuli benar-benar tidak berani menatap pandangan Jimin.
"Aku sedih. karena, Oppa adalah orang baik. Oppa tidak pernah menyakitiku. Dan malam itu, aku mendengar sesuatu yang begitu kau inginkan. Untuk segera memiliki anak. Tapi...." seketika yuli merasa sesak di dadanya lagi. "Sampai saat ini, aku belum hamil sama sekali.".
Yuli membuka mata, menatap Jimin dengan sedih. "Bagaimana jika aku ternyata tidak bisa hamil?! Bagaimana jika ternyata pernikahan ini sia-sia?! Bagaimana jika yang sama-sama kita harapkan tidak terwujud?!" Tangan yuli kini beralih mencengkram baju jimin agar menghilangkan getar dalam tubuhnya ini yang penuh perasaan takut apa yang ada di dalam pikirannya menjadi sebuah kenyataan.
__ADS_1
"Aku tidak peduli lagi apakah rumor bahwa menikahiku hanya demi 'Wedding season' itu benar atau tidak! Aku tidak peduli lagi! Aku hanya ingin membalas kebaikan Oppa yang menolong orang sakit sepertiku, aku hanya_" Ucapan yuli tiba-tiba terhenti karena Jimin langsung menarik kepala yuli dan menjatuhkan yuli di bahunya, lalu mengusap punggung pelan.
"Sudah, diam.... kenapa kau jadi cepat menangis?" Jimin berbisik, memeluk yuli pelan dan jujur, itu sangat membuat diri yuli sedikit nyaman.
Yuli tidak tahu, apakah ini bisa disebut pertengkaran atau tidak? karena jika dipikir-pikir, aneh juga jika dia memekik pada Jimin. sementara jimin masih memeluk pinggang yuli.
Jimin tidak mengatakan apa pun. Dia membiarkan yuli menumpahkan semuanya di bahunya. Dia menunggu yuli untuk diam. Jimin benar-benar lelaki dewasa yang bisa meredakan yuli hanya lewat sebuah usapan dan kecupan kecil yang sesekali didaratkan di sekitar kepalanya.
Itu berhasil membuat yuli tenang dan diam. Setelah menangis, dia jadi merasa seluruh tenaganya hilang hingga yuli tidak ingin beranjak pergi dari pangkuan Jimin. Bisa bisa dikataka yuli merasakan tangan Jimin bergerak untuk meraih remote den mematikan televisi. Yuli pikir jimin akan menyuruhnya untuk menyingkir dan pergi ke kamar untuk tidur, tapi tak di sangka jimin justru berdiri sambil tetap membawa yuli dalam gendongannya.
__ADS_1