
Yuli juga masih ingat hari itu, hari di mana Yuli sendiri di depan makan Dokter Rosa dan tak mampu menangis sama sekali. Bukan, bukan karena Yuli benci atau marah padanya. Yuli hanya merasa ini semua tidak benar.
Begitu banyak hal yang mengganjal. Mereka tidak sempat mengobrol atau memberi penjelasan apa pun, dia tidak sempat melihat Yuli dan cucunya.
"Dia mungkin tak sempat mengucapkan kata maaf di depanmu," kata Seungwu waktu itu. "Tapi, percayalah, dia sangat menyesali semuanya. Dia tidak sedang bertugas mengabdi di India, melainkan bersembunyi. Selama ini dia masih di Korea, memantau kalian. Memantaumu. Seberapa besar rasa benciku padanya, aku perlu menyampaikan rasa penyesalannya padamu. Dia tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Jadi dia titip salam melalui aku."
Yuli hanya mematung mendengar penjelasan Seungwu. Tak bisa berkomentar apa-apa. Jimin tidak ada di sana waktu itu untuk meletakan bunga di atas makam ibunya.
Sudah beberapa bulan berlalu setelah rentetan kejadian itu. Sejak hari itu, setiap detiknya menjadi lebih berat dan penuh tekanan. Yuli sampai dilarikan ke rumah sakit dua kali karena pingsan dan pendarahan ringan. Setiap kali Yuli tersadar dan membuka matanya, dia selalu berharap Jimin ada di sana.
Yuli selalu berharap ini hanyalah mimpi panjang dan akan terbangun pada masa di mana Jimin dan Yuli pergi ke Jeongseon. Namun, itu semua hanya harapan kecil yang mustahil untuk terwujud.
__ADS_1
Jimin sudah menentukan pilihannya untuk menghapus semua kesakitannya, berserta diri Yuli dalam hidupnya. Itu adalah pilihan mutlaknya.
"Sepertinya, waktunya sudah dekat, Anda tidak usah pulang. Dalam waktu dekat kamu akan melahirkan," ucap seorang perawat yang baru saja menyuntikan sesuatu di lengan Yuli.
Bisa Yuli lihat bibinya tersenyum mendengarnya. Dia menatap Yuli yang tengah berbaring lemas di atas ranjang. "Benarkah? Bukankah ini belum sembilan bulan?"
"Iya, tapi ini hampir sembilan bulan, sebaiknya tetap tinggal di rumah sakit saja. Dokter juga menyarankan seperti itu. Apalagi kondisi pasien yang belakangan sering drop. Ini kita lakukan agar segalanya di tangani tepat waktu," jawab perawat itu tegas.
Tak lama kemudian, pintu terbuka, memunculkan sosok Dokter Hwang yang menyapa Yuli dengan senyuman. Dia langsung mengambil catatan yang berisi hasil pemeriksaan Yuli baru saja dari tangan perawat tersebut. Dokter Hwang sempat menyapa Yuli dan bibinya lalu mempelajari hasil pemeriksaannya dengan singkat, membuka lembaran kedua dengan teliti. Lalu, dia menyerahkan kembali pada suster itu.
"Melihat keadaanmu yang seperti ini, aku masih akan tetap menyarankanmu untuk melakukan operasi Caesar saat persalinan nanti." Dia kembali mengungkit soal pendapatnya ini rupanya.
__ADS_1
Bibi Yuli langsung menatap yuli, dia sangat menunggu pendapa yuli yang sebelumnya memang memaksa untuk melahirkan secara normal.
Yuli menarik napas. "Aku ingin merasakan sakitnya," ucap Yuli dengan nada yang lemah.
"Tapi, aku tidak yakin. Kamu tidak punya cukup tenaga untuk proses itu. Apalagi dengan kondisi seperti ini." Dokter Hwang mendekati Yuli dan menatapnya dengan tatapan sedih. "Yuli, aku tahu apa yang terjadi padamu begitu berat. Tapi, kamu tetap harus menjalani hidup demi anakmu. Jika kamu memaksa melahirkan dengan cara normal, risikonya akan cukup besar."
"Itu benar, Yuli.... kamu harus berpikir sejauh itu juga. kamu pasti bisa melewati ini." bibinya menggenggam tangan Yuli.
Sementara, Yuli hanya diam. Yuli tidak mengatakan bahwa dia setuju, tapi Yuli hanya menatap dokter Hwang sebagai bentuk jawaban bahwa dia bisa melakukan apa yang menurutnya hal terbaik.
Yuli memang harus memikirkan segalanya, padahal dulu Jimin pernah berjanji saat Yuli akan melahirkan, Jimin akan berada di sampingnya dan menggenggam tangan Yuli jika Yuli kesakitan. Jimin sangat ingin melakukan itu.
__ADS_1
Namun, segalanya semakin jauh dari kenyataan. Yuli akan melakukan operasi Caesar dan Jimin tidak ada di sini.