Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 94


__ADS_3

Meski keluarga Yuli ada di sini, tetap saja tidak ada yang bisa lebih membuat Yuli merasa dekat selain kedua orangtuanya dan juga Jimin. Namun mereka semua tak ada di sini.


Yuli lalu melirik ke arah meja. Tape dan earphone itu masih tergeletak di sana. Bersamaan dengan itu, Yuli rasakan sesuatu yang menendang dari dalam perutnya. Sontak Yuli memegangi perutnya, mencoba merasakannya, dia menendang kecil lagi saat Yuli menatap tape itu lagi.


Yuli merasakan itu seperti sebuah dorongan agar yuli mendengarkannya sekarang. Yuli mengusap perutnya, berbicara kepadanya dalam hati bahwa Jimin ingin Yuli mendengarkannya setelah melahirkan, tapi sepertinya mahluk kecil ini berusaha membuat Yuli melanggar semua itu.


Jadi, tanpa berpikir lagi Yuli mulai mengambil benda itu dan berbaring dengan baik. Yuli memasang earphone di telinganya, lalu perlahan menyalakan tombol.


jantung Yuli berdebar kencang.


Suara embusan napas berat yang begitu khas terdengar sebagian pembuka suaranya. Bahkan suara napas Jimin saja sudah membuat Yuli gemetar.

__ADS_1


"Yuli-ya?"


Yuli tidak bisa menahan air matanya saat mendengar suara Jimin yang lembut seperti orang putus asa memanggil nama Yuli.


{Saat kamu mendengar ini, pasti anak kita sudah lahir. Bagaimana dia? Apakah dia sehat? Apa kamu sedang menggendongnya? Sudah berapa kali dia menangis? Apakah dia cantik sepertimu? Atau justru mirip denganku?}


*Aku tidak tahu, Jimin. aku tidak tahu* Yuli mengucapkan hal itu dalam hatinya dengan air mata yang tak ingin berhenti. Jimin menarik napas beratnya di sana.


{Saat tahu bahwa ibuku adalah penyebab dari semuanya, aku sangat terpukul. Aku sangat malu padamu. Aku tak sadar bahwa ibuku memaksa kita untuk menikah karena itu, sungguh, aku tidak tahu. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu bahwa dia juga sangat menyesali semuanya dan mencoba menebus semua itu lagi***.}


Jimin menjeda sebentar ucapnya.

__ADS_1


{Aku takkan memintamu untuk memaafkanku dan juga ibuku, karena aku sadar kami berdua adalah dua manusia yang takkan bisa dimaafkan. Aku sudah mencoba melakukan segalanya yang terbaik untuk menang, tapi ternyata aku kalah. Tapi, aku tidak kehilangan semuanya karena rumah yang akan kita tinggali nantinya adalah satu-satunya aset yang masih tersisa karena aku membelinya atas nama kamu. Bukan, atas nama park Jimin. Jadi, kuharap kamu akan tetap bisa tinggal di sana, meski tak bersamaku nantinya.}


Jimin menarik napas lagi.


{Aku juga sudah menyisikan beberapa tabungan terpisah untuk anak kita. sudah kuteruskan ke seorang pengacara ke percayaanku. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Mungkin, itu tidak akan sebanyak saat aku masih memiliki segalanya, tapi kuharap itu bisa sedikit membantumu dalam membesarkan anak kita sendirian.}


Yuli yang tak tahu lagi harus merasa seperti apa. Yuli marah, sedih, kecewa dan juga tak menyangka.


{Sebenarnya, aku merekam ini untuk menyampaikan beberapa hal yang selalu ragu untuk aku ucapkan padamu. Lebih tepatnya, aku bingung untuk menyampaikannya. Aku merekam ini, agar kita bisa berpisah tanpa meninggalkan perasaan yang saling mengganjal satu sama lain.}


{Aku selalu tertutup padamu, tapi kali ini aku akan lebih terbuka padamu. Setidaknya, kita saling melepaskan apa yang kita ketahui dengan baik. Karena, aku memahamimu dengan baik, tapi mungkin aku yang kurang membiarkanmu tahu tentang aku lebih banyak. Jadi inilah yang sesungguhnya...}

__ADS_1


Jimin terdengar kesulitan untuk melanjutkan ucapannya. Dia sempat menjadi begitu lama, sekitar sepuluh detik. Yuli hanya bisa mendengar deru napasnya yang terkesan penuh kesakitan.


__ADS_2