Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 61


__ADS_3

Aku telah menghabiskan lebih dari tiga puluh menit untuk berendam di kamar mandi dan menggosok seluruh tubuhku berkali-kali. Apa pun kulakukan untuk menghilangkan seluruh bekas sentuhan sialan Jimin, baik yang terlihat ataupun tidak.


Saat aku terbangun di bagi hari, aku ingin sekali berteriak karena melihat Jimin tidur di sebelahku. Dia bahkan ditutupi selimut hingga ke bagian dada membuatku menyadari kondisi tubuhku yang tak jauh berbeda.


Sialan.


Pada detik itu juga aku langsung bergegas untuk membersihkan tubuhku. Aku benar-benar merasa malu dengan diriku sendiri, aku juga benci dengan tubuhku yang selalu lemah akan sentuhan si brengsek itu.


Sekarang, aku duduk di karpet di ruang tengah sambil menyandarkan kepalaku di dudukan sofa. Rasanya lemah sekali dan dadaku terasa agak sakit, nyari dan sedikit perih.


Apa Jimin benar-benar balas dendam padaku karena aku membuat banyak helaian rambutnya rontok? Entahlah. saat ini aku hanya tidak berniat melakukan apa pun.


"Nyonya, Anda tidak menghabiskan susunya?" Aku hanya melirik seungbi Ahjumma yang mungkin tak sengaja lewat dan memperhatikan gelas meja dekatku, susunya memang hanya berkurang sedikit. Tidak sampai setengah gelas.


"Nanti aku minum lagi," ucapku lemas.


"Ada apa, Nyonya? Apa anda sakit?" tanyanya lagi. Dia mendekatiku, meneliti raut wajahku.


"Aku tidak apa-apa," ucapku sambil menarik senyum tipis.


Kadang-kadang aku kasihan pada Seungbi Ahjumma yang mendapatkan tugas dari Jimin untuk mengaturku. Entah ancaman apa yang dilakukan Jimin sampai semua orang di rumah ini seolah sangat mengwasiku.


"Anda yakin?" Dia memastikan.


Aku mengangguk sambil sedikit melebarkan senyum. "Tidak apa-apa, aku hanya sedang ingin sendiri. Jangan khawatir, aku akan menghabiskan susuku."

__ADS_1


Itu sedikit membawa kelegaan baginya. "Baiklah, Nyonya. Saya ke kebun belakang untuk menyiram tanaman. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, bisa memanggil saya segera."


Aku hanya mengangguk pelan, masih dengan kepala yang bersandar di dudukan sofa. Seungbi Ahjumman baru saja pergi dan kupikir aku bisa menjalankan lamunan dan renungan tenangku. Namun, selang lima menit, aku mendengar langkah kaki mendekat yang membuatku sontak menoleh. Aku bisa mengetahui sosok itu dari aroma tubuhnya yang sehabis mandi. Suara sandal rumahnya juga terdengar jelas.


"Kenapa kau di sini?" tanya Jimin yang berdiri sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk yang menggantung di leher.


Oh, si brengsek ini sudah bangun rupanya.


"Memangnya, aku harus di mana?!"


"Di pelukanku, di mana lagi?" Jimin berkata dengan begitu santainya. Atau, mang dia sedang pura-pura bodoh. "Kenapa kau bangun lebih dulu? Seharusnya aku yang membangunkanmu."


Aku terkejut dengan pertanyaannya. Bahkan saat Jimin mendekatiku, aku refleks berucap. "Jangan mendekat!"


Jimin mematung saat menatapku. Bukan terkejut, melainkan karena dia tengah menatap kedua tanganku yang entah sejak kapan ikut menyilang menutup dada.


Jimin lantas mengernyit. "Apakah aku terlalu kasar sampai kau sesakit itu?"


Aku membuang muka. Apaan-apaan ini, dia selalu saja frontal. "Pergilah, aku ingin sendiri."


Buka Jimin namanya jika langsung pergi dengan mudah. Dia malah menghela napas, lalu ikut duduk di lantai. Dia juga ikut menyandarkan ke atap. Aku ingin sekali pergi dari sini, tapi rasanya terlalu malas untuk berjalan atau mungkin terlalu lemas. Jadi, aku hanya menghela napas berharap jika sudah selesai mengoceh, Jimin akan pergi sendiri.


"Keira-ya....," panggil Jimin.


Aku tetap tak menoleh, masih menatap langit-langit rumah. "Kau pikir hanya kau saja yang sakit? Saat keramas tadi banyak helaian rambutku yang ikut terseret ke lantai." Jimin menarik napas lagi sambil mengusap kepala dan memijit-mijit sendiri kulit kepalanya. "Dan, di bantal tadi aku menemukan juga rambutku berceceran. Jadi, kurasa kita impas."

__ADS_1


Aku tetap tidak berniat untuk menjawab Jimin sama sekali. Jimin juga tetap tidak beranjak satu senti pun dari tempatnya, padahal sudah berusaha kuabaikan semampuku.


"Hari ini aku libur," ucap Jimin lagi.


Aku tetap diam.


"Ayo pergi berdua," ajak Jimin.


Aku sebelumnya kaget, tapi berusaha menyembunyikannya. jika tidak dalam keadaan bertengkar, aku mungkin akan sangat senang dan bahkan berdandan sebaik mungkin untuk ajakan yang langkah ini.


Namun, sekarang? Bahkan, untuk membayangkan bersamanya sepanjang hari saja, aku muak.


"Aku sedang tidak ingin terlibat dengan gim dan misi sialanmu itu. Jadi, pergi saja sendiri." Akhirnya aku bersuara.


Jimin kini terdiam cukup lama. Mungkin singgunganku untuknya benar-benar tepat sasaran. Kami berdua terdiam, hanya ada suara embusan napas masing-masing. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Jimin dan sebaliknya.


Kami hanya bisa mencoba saling menebak isi kepala masing-masing. Aku merasakan detik hening ini justru menyebalkan.


"Keira, maaf, tapi__"


"Kau tak perlu bicara lagi. Setiap suaramu bahkan bisa melukai hatiku. Jadi, bisakah kau pergi?"


Aku memejamkan mata tepat setelah kalimat yang sangat menyakitkan. Namun, akal sehatku justru bertanya. Apakah Jimin benar akan merasa sakit? Atau, dia justru hanya akan merasa bersalah? Atau, mungkin dia bisa saja hanya berpura-pura merasa sakit? Saat ini, tidak ada yang bisa kupercaya dari sosok park Jimin. Tidak ada. Dan mungkin selamanya tidak akan pernah ada lagi.


Aku tetap memejam, menahan sesak yang ada di dada. Sampai akhirnya, Jimin menyerah karena kurasakan sosok itu perlahan berdiri meninggalkanku sendiri. Entah karena di terlalu terluka atas kalimatku atau mang sudah kehabisan amunisi lagi untuk menaklukkanku.

__ADS_1


Ya Allah, ini sakit sekali.Kapan aku bisa hidup tenang?


__ADS_2