Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 83


__ADS_3

Yuli terdiam selama beberapa saat. Lalu menatap ke luar jendela, melihat apapun yang bisa yuli lihat. Pikiran yuli melanglang buana. Penjelasan ini kembali mengingatkan yuli pada sebuah kekhawatiran terbesar tentang kekalahan jimin. Selama ini yuli terlalu bahagia dengan hubungan mereka yang membaik sampai melupaan fakta bahwa permainan ini belum berakhir.


"Lalu bagaimana dengan P012?" tanya yuli lagi. "Siapa dia?"


Jimin menarik napas, tak sadar bahwa mobil ini sudah mulai memasuki area perumahan dari paman yuli. Sebentar lagi akan sampai. Jadi, mobil ini mulai mengurangi kecepatan.


"Aku tidak tahu," jawab jimin ingkat.


"Apa?"


"Dia adalah pemain baru dan memilih untuk menjadi anonym. Aku tidak tahu siapa yang merekrutnya ke dalam permainan ini, tapi kurasa dia tahu banyak tentangku."


Jimin mengingatkan yuli tentang kejadian saat ponsel yuli dipenuhi pesan misterius. Jadi orang itu yang meneror yuli selama ini? Orang yang meneror yuli tentang kematian orang tuanya?


"Tapi, kenapa dia melakukan itu?"

__ADS_1


"Sebenernya, itu sebuah penanda." jimin menelan ludahnya. Tak terasa mobil ini sudah terpakir di depan rummah paman yuli.


"Pananda apa?"


Jimin menatap yuli dengan tatapan merasa bersalah. "Tanda jika dia menginginkanmu sebagai taruhan ketiga. Dia melakukan itu untuk memberi tahuku bahwa dia sudah mengganti keinginannya."


Yuli menelan ludahnya. Mereka sama-sama diam sambil menyandarkan punggung ke jok masing-masing. Membicarakan hal ini bersama jimin membawa debaran sendiri. Rasanya seperti membicarakan tentang kematian.


Namun kalau boleh jujur. Yuli lebih suka mereka membicarakan hal ini bersama-sama dengan keadaan seperti ini. Pikiran mereka berdua sama-sama sudah bisa terkendali. Jimin tak menyembunyikan apa pun. Setidaknya jika sesuatu terjadi yuli telah tahu alasannya.


Jimin menoleh pada yuli. Menunggu alimat yuli berikutnya. "Jika terjadi sesuatu yang buruk. Bisakah aku meminta sesuatu?"


"Yuli..." jimin langsung melepas sabuk pengamannya dan berbalik menghadap yuli, lantas mengulurkan tangan menyentuh pipi yuli. Tangannya bergeser ke bibir yuli, menahan yuli untuk melanjutkan kalimat. Jimin menggeleng. "Jangan diteruskan. Aku tidak ingin mendengarnya," ucap jimin sedikit marah, sedikit memohon, tapi kental akan penegasan.


Yuli yang sempat terkejut, perlahan menyentuh tangan jimin sambil tersenyum, menandakan bahwa yuli sama sekali tidak sedang edih atau putus asa. Yuli meraih tangan jimin, menggenggamnya dengan kedua tangan yuli, lalu perlahan yuli tuntun untuk mendarat tepat di atas perut yuli. Yuli melebarkan telapak tangan jimin agar dia bisa merasakan degup lirih yang berasa dari sana.

__ADS_1


Jimin menatap yuli dengan tatapan yang sulit untuk yuli artikan. Seperti tatapan penyesalan yang luar biasa. Yuli menumpuk tangan yuli di atas punggung tangan yuli jimin yang berasa begitu panas hingga air mata seolah saling memburu agar ditumpahkan.


"Oppa, jika nanti yang terjadi adalah kemungkinan terburuk." yuli menarik napas , lalu memejamkan mata, membiarkan setetes air mata lolos. Lalu yuli membukanya lagi, menatap jimin.


"Jika itu terjadi, ketahuilah bahwa aku tidak akan pernah marah padamu." yuli tersenyum di antara tetesan air matanya yang keluar lagi. "Asalkan kamu berjanji....untuk setidaknya membiarkan anak kita lahir lebih dulu. Berjanjilah untuk merawatnya dengan baik." detik itu juga air mata yuli tumpah tak terkendali.


Rasanya bgitu sesak.


Sebenarnya apa pun yuli dan jimin belakangan ini, yuli tetap tidak bisa menghindari byangan ketakutan. Namun, yuli ingin mencoba menerima segala takdir, apa pun yang terjadi. Yuli tidak akan marah dengan jimin karena tak ada gunanya.


"Apa yang kamu bicarakan?!" jimin langung menjauhkan tangannya dan menarik yuli ke dalam pelukannya setelah menekan tombol sabuk pengaman yuli. Jimin mebuat kepala yuli bersandar pada bahunya dan merengkuh tubuh yuli sebisanya. "Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua, tidak ingin!" jimin bahkan membentak. Tangisan yuli justru semakin kencang. Jimin menarik napas panjang dan tetap memeluk yuli. "Maafkan aku yuli, maafkan aku. Ini semuasalahku.


Jimin mencium kepala yuli di sela-sela usapannya. Samar-samar yuli dengan jimin bisikan liris, "Aku akan menebusnya, aku akan segera menebus semua ini. Aku janji."


Terdengar seperti sebuah supah. Mendadak, firasat yuli menjadi tiak enak.

__ADS_1


__ADS_2