Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 41


__ADS_3

Yuli menghabiskan banyak waktu dengan Jimin untuk berdiskusi. Mungkin ini untuk pertama kalinya sejak menikah, Yuli dan Jimin terlibat diskusi tentang rumah tangga secara lebih serius. Biasanya, seluruh keputusan ada ditangan Jimin. Biasanya, Jimin lebih memilih menyelesaikan perkerjaanya dari pada mendengarkan opini yuli. Dia lebih mendominasi. Namun, kali ini Yuli sangat senang.


Tidak ada ipad di tangannya, hanya ada JiminĀ  yang menopang kepalanya dengan lengan yang menyangga di punggung sofa. Duduk tenang dan memperhatikan yuli dengan tatapan hangatnya, sesekali tangan Jimin


hanya bergerak untuk menyelipkan rambut yuli kebelakang telinga atau memegang sendiri bibir bawah tebalnya, memainkan untuk menggoda yuli atau memang karena sudah menjadi kebiasaan.


"Kamu benar-benar tidak ingin ada asisten rumah tangga?" Jimin bertanya lagi. Raut wajahnya masih belum bisa menerima pendapat Yuli.


Yuli mengangguk. "Aku ingin mencoba belajar mengurus rumah."


Jimin menggigit bibir bawahnya, menimbang. Sial, Jimin justru terlihat semakin seksi jika seperti itu. Dia menatap yuli, lalu menghembuskan napas. "Tapi, kamu kan sedang hamil. Bagaimana jika terlalu lelah?"


"Aku tidak akan lelah. Aku akan menjaga diri," Yuli masih berusaha untuk meyakinkan Jimin.


Diskusi ini seharusnya sudah mereka selesaikan di awal pernikahan, tapi karena begitu banyak hal yang terjadi barulah di diskusikan sekarang. Itu karena Jimin yang meminta untuk mendiskusikan ini lagi, tepat setelah Yuli positif dinyatakan hamil. Jimin menjadi mempertimbangkan lagi untuk memperkerjakan asisten rumah tangga.

__ADS_1


Jimin bahkan sempat menghubungi ibunya, mengabarkan berita tentang yuli dan meminta Dokter Rosa untuk meninggalkan tugasnya saja dan pulang untuk menjaga yuli. Dokter Rosa bahkan hampir setuju jika yuli tidak menghubunginya dan mengatakan yuli baik-baik saja. Yuli tahu, ibu mertuanya sangat mencintai perkerjaanya. Terkadang saat saling tersambung di Skype, Dokter Rosa menceritakan betapa senangnya dia menolong orang-orang di India sana. Di Korea banyak tenaga medis, sedangkan ditempatnya mengabdi, Dokter Rosa satu-satunya yang paling dibutuhkan.


"Tidak, Yuli. aku tetap ingin ada asisten rumah tangga." Jimin menatap yuli serius, pancaran matanya menunjukan kekhawatiran, terlebih saat Yuli rasakan tangan Jimin mengusap kepala Yuli. "Mungkin, kita butuh dua orang untuk mengurus rumah ini dan satu sopir untuk mengantarmu kemana pun."


Yuli melebarkan mata. "sopir?"


Jimin mengangguk. "Aku tidak akan mengizinkanmu naik angkutan umum lagi."


Yuli tidak menyangka kalau Jimin akan menambahkan sopir juga. Untuk yang satu itu, Yuli merasa tidak nyaman karena yuli memang lebih suka naik angkutan umum. Yuli suka naik bus atau kereta dan sebenernya dia benci ditunggu oleh sopir.


Jari telunjuk Jimin mendarat di bibir yuli. "Diskusi selesai. Waktunya tidur." ucap Jimin lembut, tapi tegas.


Ternyata, ini sama saja dengan tidak berdiskusi karena pada akhirnya keputusan akan tetap pada Jimin. Yuli cemberut seketika. Berbeda dengan jimin yang malah tersenyum lembut, lalu dengan entengnya menarik kepala yuli untuk bersandar di dada Jimin.


"Tidurlah, besok kau harus ikut denganku." bisik Jimin lembut. Yuli mendongak hingga tatapan mereka bertemu, jarak mereka begitu dekat hingga yuli bisa merasakan deru napasnya.

__ADS_1


"Kemana?"


"ke rumah ayahku."


Yuli tidak akan terkejut jika tidak mengingat ucapan seungwu bahwa Jimin membenci ayahnya.


Yuli mengerutkan kening. "Ada acara apa?" tanyaku berhati-hati.


Jimin tersenyum singkat. "Dia sudah mendengarnya."


Yuli semakin bingung. "Mendengar apa?"


Jimin mengecup kening yuli, lalu menatapnya lagi. "Kehamilanmu."


Yuli menggigit bibir bawah samar, entah mengapa, Yuli melihat Jimin seolah tidak sepenuhnya senang mengatakan pada Yuli bahwa kepada keluarga ayahnya sudah tahu tentang kehamilan yuli, tapi Yuli tetap tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2